Melihat poster di dalam bioskop, saya bisa membayangkan bahwa film sequel dari Godzilla ini akan menyajikan banyak aksi besar yang akan meledakkan seisi ruang. Poster yang saya lihat adalah poster bergambarkan sang Godzilla sedang menyemburkan sinar atom ke atas langit. Warna biru gelap mendominasi seluruh poster, dengan banyak pesawat terbang dan kapal laut mengitari Godzilla.

Melanjutkan kisah sebelumnya, Godzilla: King of the Monsters menceritakan 5 tahun setelah kejadian pada film sebelumnya. Monarch, organisasi yang meneliti para makhluk monster, atau disebut sebagai Titan, sudah ditekan oleh pemerintah dan militer untuk menutup penelitiannya dan memusnahkan para Titan.

Salah satu peneliti Monarch yang bernama Dr. Emma Russell (Vera Farmiga) berhasil membuat sebuah alat bernama Orca yang mampu mengirimkan frekuensi yang hanya dapat didengar oleh Titan. Saat ia menggunakan alat tersebut untuk menjinakkan salah satu Titan, sebuah organisasi gelap yang dipimpin oleh Alan Jonah (Charles Dance) berhasil menyerang dan menculik Emma beserta putrinya, Madison Russell (Millie Bobby Brown).

Setelah serangan tersebut, peneliti Monarch lainnya, Dr. Ishiro Serizawa (Ken Watanabe) dan Dr. Vivienne Graham (Sally Hawkins) memutuskan untuk mengunjungi mantan suami Emma Russell, yaitu Dr. Mark Russell (Kyle Chandler) yang juga adalah seorang peneliti.

Tidak sampai disitu saja masalahnya, alat Orca tersebut juga membangkitan satu makhluk Titan yang diberi nama Monster Zero. Monster Zero adalah salah satu Titan terkuat yang berhasil membangkitkan Titan lainnya di seluruh penjuru dunia dan menjadi raja para Titan tersebut.

robinekariski-film-vera-farmiga-dan-millie-bobby-brown-di-godzilla-king-of-the-monsters

Dengan alur cerita seperti, saya cepat berpikir bahwa bintang pemain dari film ini adalah para Titan tersebut, sementara para aktor maupun aktris yang membintangi film ini hanyalah pemeran pembantu yang hanya membantu agar alur cerita ini maju dan berkembang.

Apa yang sebenarnya disayangkan adalah meski mempunyai alur yang menarik di atas kertas, tetapi gagal saat dieksekusi. Berdurasi selama dua jam, Godzilla: King of the Monsters gagal dalam membangun momentum yang akhirnya membuat film terasa sangat terburu-buru untuk melanjutkan kisahnya.

Tidak hanya alur yang berantakan, tetapi para pemain pun juga tidak berhasil untuk mengangkat kisah film ini menjadi sebesar para Titan yang sering muncul di layar lebar. Pengembangan karakter yang sangat buruk juga menjadi salah satu alasan mengapa film ini terasa seperti komedi putar yang tiada hentinya berputar.

Tetapi, bukan berarti Godzilla: King of the Monsters adalah film yang buruk. Film ini menjanjikan pertarungan hebat dan mereka tidaklah berbohong. Efek visual yang dahsyat, ukuran Titan yang sangat besar, sampai soundtrack yang membuat para penonton tercengang tersebut membuat setiap adegan bertarung di film ini sangatlah bombastis, bahkan jika separuh film ini dihabiskan untuk menyajikan pertarungan antar Titan dan Titan (Jujur saja, manusia di dalam film ini kurang memiliki pengaruh terhadap para raksasa tersebut).

robinekariski-film-godzilla-dalam-film-godzilla-king-of-the-monsters

Salah satu faktor yang saya sukai dari film ini adalah bahwa mereka tidak hanya sekedar menaruh Titan di dunia tanpa alasan, tetapi memberikannya latar belakang mengapa para Titan tersebut berada di dunia bahkan sebelum manusia hidup. Tentu mungkin beberapa aspek dari Titan itu sendiri terdengar di luar nalar berpikir manusia, tetapi perlu diingat bahwa kamu akan menonton film yang menceritakan sebuah makhluk raksasa yang menyemburkan laser.

Film besutan sang sutradara Michael Dougherty ini mungkin tidak memiliki jalur cerita dan pengembangan karakter yang sebaik prequel-nya, tetapi Godzilla: King of the Monsters mampu menyajikan pertarungan-pertarungan yang sangat besar, sangat menegangkan, dan tentunya lebih banyak, dan itu cukup untuk saya yang menyadari bahwa saya belum minum ataupun berkedip setiap adegan pertarungan tersebut mulai.

Dan Godzilla: King of the Monsters juga menaruh harapan ke saya bahwa film selanjutnya, Godzilla vs. Kong, di mana sang Godzilla akan bertemu Kong dari film Kong: Skull Island juga akan menyuguhkan pertarungan yang luar biasa dari dua jagoan tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s