Saya ingat pada awal tahun 2000, di mana saya baru memasuki pendidikan taman kanak-kanak, saya pertama kali menonton sebuah film. Film tersebut berisikan banyak karakter yang menggunakan kacamata, berpakaian yang tidak pernah saya lihat sebelumnya, dan mengandung banyak aksi-aksi yang sangat cepat dan seru. Dan film yang saya tonton saat itu adalah The Matrix, film yang masih saya sukai sampai saat ini.

Pada tahun 1999, sebuah film sci-fi action besutan Wachowski Bersaudara yang bernama The Matrix dirilis. Dan kawan-kawan, film ini tidak pernah berhenti untuk membuat para penonton tercengang.

Mulai dari cerita yang sangat anti-mainstream, karakter dengan gaya yang keren, visual yang membuka mata, sampai adegan bertarung yang intens, The Matrix berhasil menjadi salah satu film yang revolusioner, bahkan sampai saat ini.

Mengusung konsep futuristik, The Matrix menentang jalur pikir manusia dengan mengungkapkan bahwa selama ini kita hidup di dunia simulasi, di mana badan kita yang sebenarnya berada pada fase koma pada dunia nyata.

robinekariski-film-dunia-asli-pada-film-the-matrix

The Matrix juga menyinggung masalah bahwa suatu saat nanti, manusia akan terlalu bergantung dengan AI, atau kecerdasan buatan. Karena terlalu bergantung, akhirnya robot hasil manusia berhasil menguasai bumi, dan membuat sisa-sisa manusia untuk bersembunyi di bawah tanah.

Pada dunia kita saat ini, konsep tersebut semakin terasa benar, di mana semakin lama para mesin buatan manusia dengan teknologi AI akan semakin pintar dan canggih, yang bisa berpikir dengan sendirinya tanpa bantuan manusia.

Konsep di mana kita hidup di dunia simulasi juga menjadi salah satu konsep yang sangat menarik, karena pada sebelumnya belum pernah ada yang berpikir bahwa selama ini kita berada di dunia komputer. Apakah benar kehidupan kita ini hanya sebatas angka di dalam besarnya sebuah mesin pada dunia nyata? Atau apakah ada kehidupan lain selain yang kita ketahui di dalam bumi ini?

The Matrix juga memiliki elemen yang sama dengan film hasil pemikiran Christopher Nolan yang dirilis pada tahun 2010, yaitu Inception. Kemiripan kedua film adalah konsep di mana para karakter harus ditidurkan terlebih dahulu, dan beraksi pada dunia lain. Kalau di dalam The Matrix para pemain beraksi di dalam dunia komputer, Inception membuat para pemainnya untuk beraksi di dalam dunia mimpi.

Tidak hanya konsep cerita yang segar, tetapi dari segi teknis juga, The Matrix banyak memperkenalkan teknik dan istilah baru ke dunia perfilman. Salah satu teknik yang sangat terkenal adalah “Bullet Time” di mana kamera mengitari karakter utama, Neo (Keanu Reeves), secara perlahan atau slow-motion.

robinekariski-film-adegan-bertarung-neo-dengan-agent-smith-di-the-matrix

Setiap adegan bertarung dalam film ini juga sangatlah seru dan menyegarkan untuk dilihat, mulai dari Morpheus (Lawrence Fishburne) bertarung di dalam kamar mandi dengan Agent Smith (Hugo Weaving), sampai Neo beradu pukul dan tendang dengan Agent Smith di stasiun kereta bawah tanah. Wachowski Bersaudara mengandalkan teknik wire fu pada setiap adegan bertarung, di mana para aktor dan stuntman dipasangkan kawat yang dapat membuat karakternya terlihat memiliki keahlian yang super (loncatan yang tinggi, terpental pada jarak yang jauh).

Tidak lupa, soundtrack yang bergaya electro juga menemani setiap adegan di dalam film The Matrix yang memberikan kesan futuristik dan edgy. Pakaian yang digunakan setiap karakter juga sangatlah keren dan bergaya, mulai dari kacamata gelap, jas yang rapi, sampai gaun slim-fit yang membuat karakternya menjadi lebih ramping dan lincah.

Keberhasilan The Matrix berhasil membuat dua sequel dalam franchise-nya, yaitu The Matrix Reloaded dan The Matrix Revolutions. Keanu Reeves juga sukses menjadikan dirinya sebagai salah satu aktor film action terbaik, bahkan sampai saat ini dengan film terbarunya, John Wick sampai John Wick: Chapter 3 – Parabellum. Tidak lupa, stuntman karakter utama Neo pada film The Matrix, Chad Stahelski, juga berhasil menjadi sutradara dari ketiga film John Wick.

20 tahun kemudian, saya masih senang untuk menonton film karya Wachowski Bersaudara ini jika berada di salah satu stasiun TV kabel. Aksi yang seru, sampai dunia yang sangat menarik selalu membuat saya untuk tertarik mengabiskan 130 menit duduk di depan layar TV dan mengulang kembali keseruan yang disuguhkan film The Matrix.

Tentu menarik untuk melihat bagaimana masa depan franchise The Matrix akan berjalan di masa depan, karena kabar sudah beredar bahwa The Matrix 4 sudah berada dalam penggarapan. Secara pribadi, saya berpikir bahwa kisah Neo dan perjalanannya sudah sempurna dan tidak perlu dibuat ulang. Tetapi, jika menceritakan karakter yang lain, saya tertarik untuk menjelajahinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s