Berakhir sudah kiprah petualangan X-Men, sebuah kisah yang sudah dimulai sejak tahun 2000. Dan sebagai film penutup, Dark Phoenix bisa dikatakan adalah sebuah kekecewaan. Berjalan selama hampir dua jam, saya merasa hanya sedikit adegan yang membuat saya terkesan.

Mari kita bahas apa yang diceritakan pada film ini. Melanjutkan kisah X-Men: Apocalypse, Dark Phoenix memusatkan ceritanya pada salah satu anggota X-Men, yaitu Jean Grey (Sophie Turner). Awal film dibuka dengan masa lalu Jean, di mana sebuah kecelakaan membuat dirinya berakhir pada sekolah yang didirikan oleh Charles Xavier (James McAvoy).

Melompat ke tahun 1992, terlihat Jean dan temannya yang sudah beranjak dewasa sedang melalukan misi penyelamatan pesawat luar angkasa yang terjebak oleh suatu kekuatan misterius. Pada akhir misi, Jean terpapar kekuatan tersebut, yang akhirnya memberikan kekuatan yang sangat besar terhadap karakter utama kita.

Dan dengan kekuatan yang besar, maka datang juga tanggung jawab yang besar. Jean terlihat kesulitan menguasai kekuatannya, dan berubah menjadi jahat ketika sang antagonis Vuk (Jessica Chastain) berusaha untuk membujuknya. Inilah yang menjadi masalah utama untuk Jean Grey dan tim X-Men.

robinekariski-film-jean-grey-saat-terpapar-kekuatan-misterius-di-dark-phoenix

Untuk menjadi film penutup, kisah seperti itu sebenarnya sudah tepat, karena ceritanya dapat menonjolkan setiap karakter X-Men yang pada film sebelumnya kurang menonjol dan menjadikan film ini dikenang pada masa depan. Tetapi tidak, pengembangan karakter pada Dark Phoenix sangatlah buruk sehingga para penonton sangat sulit untuk bersimpati terhadap setiap karakter yang seharusnya mengunggah pikiran para penonton.

Alur cerita lagi-lagi menjadi masalah, dengan banyak hal yang masih belum terjawab pada film ini. Salah satunya adalah bagaimana asal-usul Vuk dan kaumnya yang tiba-tiba muncul dan seharusnya menjadi antagonis di Dark Phoenix, tetapi sebenarnya kurang memberikan dampak yang dalam pada karakter maupun cerita.

Momentum juga menjadi masalah, dengan banyak adegan yang terasa buru-buru untuk berpindah ke adegan selanjutnya, tanpa memberikan adegan sebelumnya sebuah penutup atau sebuah konklusi yang pas, sehingga saya merasa tidak puas setiap adegan berganti.

Tetapi, meski secara cerita buruk dan pengembangan karakter yang tergesa-gesa, aksi dan visual yang ditawarkan Dark Phoenix tetaplah menghibur. Pertarungan akhirnya masih jauh dari kata sempurna, tetapi cukup untuk kembali memusatkan perhatian saya ke layar lebar di dalam bioskop. Musik yang dikomposisi oleh Hans Zimmer (The Dark Knight, Inception, Dunkirk) juga bisa dibilang sangat tepat untuk memadu aksi setiap mutant.

Mungkin jika menjadi film tersendiri, Dark Phoenix bisa mendapati respon yang lebih baik. Tetapi karena berhubung ini adalah film terakhir dari sebuah franchise raksasa, film yang disutradarai oleh Simon Kinberg ini terasa bukanlah penutup yang kita cari. Bukannya menutup dengan sempurna, tetapi Dark Phoenix malah memberikan pertanyaan yang semakin banyak tanpa jawaban yang jelas.

Sangat disayangkan. Seharusnya film seperti Logan atau X-Men: Days of Future Past sudah sangat tepat untuk menutup sebuah kisah yang melahirkan banyak superhero yang kita cintai saat ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s