15 tahun yang lalu, jauh sebelum Game of Thrones, True Detective, ataupun Westworld berjaya, stasiun televisi Amerika Serikat HBO memiliki Deadwood.

Berlatar pada akhir 1800, Deadwood menceritakan sebuah kisah pada kota kecil bernama Deadwood yang terletak di Dakota Selatan. Masalah muncul dari kiri dan kanan karena adanya penambangan emas di dekat kota itu. Pembuat sekaligus penulis cerita David Milch (NYPD Blue) dengan mahirnya menangkap secara vulgar bagaimana setiap penduduk melalui harinya.

Berjalan selama “cuma” 3 musim, Deadwood menangani banyak aspek yang akhirnya menjadi fondasi dari bagaimana sebuah komunitas dan masyarakat berjalan. Mulai dari bagaimana setiap penduduk menangani masalah yang muncul, bagaimana sebuah kota harus bereaksi jika ada penduduk ataupun pengunjung yang datang, sampai bagaimana setiap karakter harus berubah menjadi yang lebih baik atau lebih buruk.

David Milch juga tidak takut untuk menggunakan sejarah asli dan menggabungkannya dengan taburan fiksi. Jika kamu belum tahu, hampir kebanyakan karakter yang kamu lihat adalah asli, seperti Seth Bullock, Al Swearengen, E.B. Farnum, dan Wild Bill Hickok. Dan itu bekerja, di mana masih banyak serial lainnya yang gagal untuk menggabungkan sejarah dan fiksi. Terlihat, Deadwood mampu menangkap kejam dan sinisnya sebuah kota pada akhir 1800 tanpa mengorbankan keseruan dan ketegangan.

Yang benar-benar bersinar dari acara ini adalah karakternya. Setiap episode dari Deadwood, kamu dapat melihat warna-warni sifat penduduk kota kecil ini. Ingin karakter yang ganas? Ada. Yang kocak? Ada. Yang eksentrik. Juga ada. Setiap sifat manusia yang kamu ingin cari dapat kamu temukan.

robinekariski-film-al-swearengen-timothy-olyphant-dan-dority-johnny-burns

Apa yang lebih menonjolkan setiap karakter adalah bagaimana para pemeran sangat mendalami karakter yang dimainkannya. Timothy Olyphant yang bermain sebagai Sheriff Seth Bullock memainkannya dengan penuh totalitas, yang dapat menunjukkan emosi yang realistis tanpa melebih-lebihkan. Begitu juga dengan karakter lainnya, seperti Calamity Jane (Robin Weigert), Trixie (Paula Malcomson), sampai Doc Cochran (Brad Dourif).

Tetapi, ada satu karakter yang tidak boleh kita lupakan. Satu karakter yang sangat mencerminkan Deadwood, satu karakter yang merepresentasikan seluruh acaranya tersebut, yaitu Al Swearengen. Karakter yang diperankan oleh Ian McShane ini menunjukkan sifat yang tidak kenal ampun, dan akan melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya. Sifatnya sebagai pembunuh keji pada awal acara yang kemudian berubah menjadi sosok penting yang melindungi komunitas Deadwood seiring berjalannya waktu sangatlah indah untuk kita tonton.

Untuk membantu karakternya menjadi lebih menarik, David Milch menggunakan dialog yang rumit, indah, dan puitis layaknya Shakespeare pada setiap karakter. Mungkin jika kamu terjun ke Deadwood untuk yang pertama kalinya, kamu akan merasa kebingungan karena bahasanya yang kompleks. Tetapi, semakin lama kamu menonton, maka semakin tinggi rasa ketertarikannya atas dialog yang disajikan oleh setiap karakter. Dengan bahasanya yang berbelit-belit, saya tertarik untuk mendengarnya dan mencoba untuk menelusuri apa inti yang sebenarnya dari setiap percakapan. Apakah dia bermaksud sesuatu? Atau apakah dia mungkin memiliki maksud rahasia yang karakter ataupun penonton lainnya belum ketahui?

Tidak seperti kebanyak serial yang sukses, Deadwood tidak sempat untuk menutup kisahnya yang legendaris karena harus menerima keputusan bahwa setelah 3 musim saja acara buatan David Milch ini harus dibatalkan. Akhir musim ketiga berakhir dengan cerita yang menggantung, dan para penonton sudah tidak sabar bagaimana kisah Deadwood akan berakhir.

Dan beruntung, karena pada bulan lalu HBO akhirnya merilis lanjutan Deadwood dalam medium lainnya, yaitu sebuah film. Bernama Deadwood: The Movie, David Milch mampu sekali lagi menghidupkan kota dan karakter yang sudah menjadi fondasi dari drama serial lainnya. Meski durasinya yang 110 menit terasa belum puas, tetapi saya maupun penonton dapat menyaksikan bagaimana akhir sebuah kota, akhir sebuah cerita, dan akhir sebuah serial.

2 thoughts on “Mengapa Kamu Perlu Menonton DEADWOOD

    1. Wah, kalau langsung terjun ke filmnya sepertinya bakal kebingungan, karena semua karakternya masih sama dari serialnya dan cerita filmnya masih berlanjut dari cerita pada akhir serial.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s