Biasanya sebuah franchise akan berhenti melanjutkan kisahnya jika sudah mencapai film yang ketiga, atau yang sering disebut trilogy. Melanjutkan ke film keempat adalah sebuah perjudian yang sangat besar, karena ketakutan yang tinggi akan rusaknya kisah tersebut, apalagi jika ceritanya sudah tertutup sempurna pada film sebelumnya, seperti Toy Story 3.

Akhir dari Toy Story 3 sebenarnya sudah sangat tepat, di mana para mainan yang sudah kita cintai ini mendapat pemilik baru, seorang anak yang bernama Bonnie karena Andy, pemilik mereka yang lama sudah beranjak dewasa dan akan memasuki dunia perkuliahan.

Namun, Pixar Animation Studios tetap berusaha untuk memperlebar dan memperluas kisahnya dengan Toy Story 4. Bersama banyaknya karakter baru, animasi yang sangat realistis, dan lelucon yang sudah diperbaharui, Toy Story 4 bisa saya katakan adalah sebuah kesuksesan.

Meski Woody (Tom Hanks) dan Buzz Lightyear (Tim Allen) tetaplah menjadi tokoh utama, namun ada satu karakter baru yang sering sekali mengambil lampu sorotan pada film yang berdurasi 100 menit ini. Ya, karakter baru ini adalah yang sebuah senpu yang hidup dam bernama Forky (Tony Hale). Senpu, bagi yang tidak mengetahuinya, adalah sebuah alat makan berupa gabungan antara sendok dan garpu.

robinekariski-film-forky-mainan-baru-di-toy-story-4

Forky adalah hasil karya Bonnie (Madeleine McGraw) saat ia pertama memasuki TK yang bertujuan untuk menemaninya setiap memasuki kelas. Lambat laun, Forky pun menjadi mainan favorit Bonnie. Namun, Forky sendiri menganggap dirinya bukanlah sebuah mainan, melainkan sebuah alat makan yang pantas untuk dibuang sehingga selama pertengahan film sering membuang dirinya ke tempat sampah terdekat.

Akhirnya, tingkah laku Forky berhasil membuat kekacauan saat Bonnie bersama keluarganya sedang pergi berlibur menggunakan RV. Ia tertiup angin saat tengah malam hari, dan Woody pun memutuskan untuk mengejarnya, meski RV yang dikendarainya masih akan berhenti cukup jauh. Dari sinilah asal mula semua masalah yang melandasi Toy Story 4.

Forky bukanlah satu-satunya mainan baru yang menemani Woody dkk, namun ada juga mainan lainnya, seperti duo Ducky (Keegan-Michael Kay) dan Bunny (Jordan Peele), mainan tua Gabby Gabby (Christina Hendricks), sampai mainan asal Kanada Duke Caboom (Keanu Reeves). Tambahan mainan baru pada daftar tokoh karakter sangatlah diperlukan, agar alur dan cerita tetap segar, dan Pixar berhasil pada bagian itu.

Seiring berjalannya cerita, kita disuguhkan banyak momen dan elemen yang mungkin kita duga, dan juga banyak yang tidak kita duga, terutama dari film seperti Toy Story. Tetap memiliki momen yang lucu, tetap memiliki momen yang menyentuh, namun juga memiliki momen yang menegangkan, yang sepertinya adalah sebuah tambahan karena pada film-film sebelumnya, elemen yang menegangkan ataupun menakutkan tidak ada.

robinekariski-film-duke-caboom-di-toy-story-4

Lelucon yang disajikan juga sepertinya terpengaruh dengan perubahan zaman, karena saya memerhatikan Toy Story 4 lebih sering menggunakan lelucon yang cepat, lelucon yang instan, dan teknik lelucon lainnya yang mungkin sering kamu temui pada film komedi baru-baru ini, dan itu bukanlah sebuah masalah. Saya tetap menikmati melihat karakter yang sudah berumur puluhan tahun namun dapat menyajikan lelucon yang tetap menggelitik sekaligus menghangatkan.

Apakah saya melupakan aspek pada animasi? Karena animasi yang disajikannya sangatlah realistis, sangat halus, dan sangat baik. Mungkin animasi terbaik yang pernah saya lihat pada sebuah film animasi. Kamu dapat melihat betapa indahnya sebuah kota di malam hari, dan berpikir “apakah mereka menggunakan dunia asli untuk merekamnya?” karena kamu tidak dapat membedakannya. Bagaimana sinar dan cahaya terpancar dengan indahnya, bagaimana air terjatuh dengan kuatnya saat hujan, bagaimana setiap mainan terlihat lebih mengkilap dan lebih halus, bagaimana seekor kucing dapat terlihat sangat asli.

Toy Story 4 memang ditujukan untuk semua umur, baik anak kecil yang dapat membantu mereka dalam berimajinasi saat bermain dengan mainan favorit mereka, sampai orang dewasa yang mendapatkan perasaan nolstagia dengan melihat karakter mainan yang menemani mereka pada dua puluh tahun yang lalu kembali ke layar lebar. Lelucon yang cepat akan selalu menarik perhatian anak-anak, dan makna dalam yang disampaikan Toy Story 4 akan dipahami oleh orang dewasa, sungguh sebuah kombinasi yang luar biasa.

Dengan film ini, Pixar melakukan apa yang banyak studio film gagal, yaitu memperluas dan memperlebar sebuah semesta dengan film yang lebih segar, film yang lebih lucu, film yang lebih menyentuh. Dan Toy Story 4 mengakhiri sebuah perjalanan panjang dengan sempurna. Atau mungkin belum berakhir?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s