Jujur saja, saya cukup jarang menonton film asal Korea Selatan. Namun, jika menontonnya, saya seringkali terkagum. Sebut saja film klasik Oldboy dan film yang dibintangi oleh Chris Evans (The Avengers), Snowpiercer. Kedua film tersebut sangatlah berbeda dari film lainnya yang pernah saya tonton, dengan kedua film tersebut memiliki cerita yang sangat orisinil. Dan, tahun ini saya lagi menonton film asal Korea Selatan yang sangat berbeda dari film lainnya, bernama Parasite.

Disutradarai oleh Bong Joon-ho (Snowpiercer), Parasite pertama kali ditayangkan pada 21 Mei di Cannes Film Festival. Hebatnya, Parasite sukses menjuarai Palme d’Or pada festival tersebut, mengalahkan film papan atas lainnya seperti Once Upon a Time in… Hollywood dan The Dead Don’t Die, dan menjadi film Korea pertama yang memenanginya. Tentu saya memasuki bioskop dengan harapan yang tinggi, dan film ini tidaklah mengecewakan.

Parasite berhasil membuat penonton tertawa dengan komedi gelap yang disuguhkannya, serta membuat penonton ketakutan dengan keanehan yang dimilikinya. Bisa dibilang, Parasite membuat penonton merasa seperti menaiki sebuah roller coaster, karena berhasil mencampur aduk emosi penonton, termasuk saya, selama 132 menit.

Parasite menceritakan sekeluarga yang hidup kurang mampu, beranggotakan kepala keluarga Ki-taek (Song Kang-ho) bersama istrinya Choong-sook (Jang Hye-jin) dan dua anaknya, Ki-woo (Choi Woo-shik) dan Ki-jung (Park So-dam). Terlihat, mereka adalah keluarga yang ekstentrik, unik, dan lebih seperti sekelompok teman daripada sebuah keluarga. Film dibuka dengan Ki-woo menyadari Wi-Fi pada lantai atas yang sering mereka gunakan tiba-tiba memiliki kata sandi. Kemudian kita melihat seluruh keluarga dengan gigihnya melipat bungkus pizza, tanpa memedulikan bahwa tepat diluar jendela rumah sedang dilakukan fogging.

Bong Joon-ho secara langsung menceritakan sebuah keluarga yang pintar dan licik, dan akan melakukan apa saja untuk mendapatkan keuntungan. Setiap keluarga terlihat saling membantu satu sama lainnya, meski beberapa hal yang dilakukannya ilegal. Tentu saja, keluarga tersebut selalu berencana untuk keluar dari statusnya sebagai keluarga yang kesusahan dan akan selalu mencari cara, bagaimanapun caranya.

robinekariski-film-ki-taek-dan-ki-woo

Akhirnya, salah satu kawan lama Ki-woo menawarkan sebuah pekerjaan menjadi guru Bahasa Inggris untuk Da-hye (Jung Ji-so), anak dari sebuah keluarga yang kaya raya. Sempat ragu pada awalnya, namun Ki-woo akhirnya menyetujui. Mendatangi rumah anak tersebut, ia tentu saja terkagum melihat betapa majunya hidup mereka. Mulai dari rumah yang luas, bersih, ditambah dengan memiliki seorang pembantu. Melihat hal itu, langsung saja Ki-woo beserta keluarganya menyusun rencana yang licik dan kompleks agar bisa bekerja bersama keluarga tersebut.

Cepat saja, mereka berhasil bekerja bersama keluarga tersebut, dengan Ki-taek bekerja sebagai supir pribadi untuk sang kepala keluarga, Park (Lee Sun-kyun), Choong-son menjadi pembantu rumah tangga, dan Ki-jung yang menyamar sebagai guru seni untuk anak kedua di rumah itu, Da-song (Jung Hyun-joon).

Perjalanan film ini sangatlah naik turun, dengan satu momen kamu akan tertawa karena suatu tragedi yang menimpa salah satu karakter tersebut, dan dengan sekejap mata tertegun dan kaget melihat tragedi selanjutnya yang menimpa mereka. Dengan ahlinya, Bong Joon-ho tidak memberikan waktu kepada para penontonnya untuk bernapas, karena selalu memberikan kejutan di saat yang tidak kita duga. Dan sering kejutan tersebut sangatlah, bisa dikatakan sangat tidak wajar dan aneh. Saya tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk mendeskripsikan bagaimana menjelaskan kejutan-kejutan tersebut.

Teknik sinematografi pada film ini juga sangatlah patut untuk dipuji. Setiap adegan terlihat artistik, dengan peletakan karakter yang sering merasa menonjol, setiap bangunan terasa hidup, bahkan kamu bisa merasakan lingkungannya hanya dengan melihatnya.

Setiap karakter juga terlihat sudah sangat tepat. Tidak ada karakter yang tertinggal, tidak ada karakter yang belum matang, tidak ada karakter yang membosankan. Mulai dari ekstentriknya Ki-taek, liciknya Ki-jung, angkuhnya Park, sampai uniknya Da-song, kamu bisa merasakan betapa berwarnanya karakter di dalam Parasite.

Jadi mengenai apa sebenarnya film Parasite? Pada akhirnya, Parasite adalah sebuah film satir yang menceritakan betapa jauhnya perbedaan kasta sosial pada masyarakat. Yang memang sudah hidup dengan sumber daya yang berlebih akan selalu hidup dengan kemewahan tanpa rasa takut, sementara yang hidup pada dunia kemiskinan memang hanyalah sebuah nasib sial. Tentu saja itulah kenyataan pahit yang harus kita terima, karena apa yang bisa kita lakukan untuk mengubah hal itu?

One thought on “PARASITE dan Humor Gelap yang Mendampinginya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s