Pada dasarnya, Good Omens adalah sebuah miniseri komedi yang mengolok-olok bagaimana semesta ini bekerja. Mulai dari bagaimana bumi ini terbentuk, bagaimana sistem Surga dan Neraka bekerja, sampai hari kiamat itu sendiri.

Di Good Omens, kita memiliki dua tokoh utama. Yang satu adalah Aziraphale (Michael Sheen), malaikat yang sudah berada di bumi sejak awal terbentuk dan memiliki toko buku di London. Dan satunya adalah Crowley (David Tennant), setan yang juga sudah berada di bumi sejak awal. Apakah kesamaan kedua tokoh ini? Sama-sama ingin menghentikan kiamat karena sudah terlanjur menyukai tinggal di bumi.

Kedua karakter ini memiliki karisma yang sangat menarik untuk ditonton. Mulai dari betapa bengalnya Crowley menjalani hidupnya, betapa takutnya Aziraphale melanggar peraturan, Sheen dan Tennant terkesan sangat tepat untuk memerankan kedua malaikat ini. Tentu saya sangat menyukai melihat setan dan malaikat bekerja sama, karena itu tidak pernah saya lihat sebelumnya. Petualangan mereka terasa sangat seru. Namun, jika tidak ada keduanya, maka alur cerita menjadi tersendat dan lumayan hambar.

robinekariski-tv-series-perpaduan-michael-sheen-dan-david-tennant-sangat-sedap

Tentu saja Good Omens tidak hanya menceritakan Aziraphale dan Crowley, namun banyak karakter lainnya yang ikut dalam miniseri 6 episode ini. Tapi sayangnya, tidak ada yang mampu memberikan penampilan sekuat dan seindah Sheen dan Tennant. Ada Adam Young (Sam Taylor Buck), anak dari Satan yang menjadi penentu datangnya kiamat pada bumi. Ada juga Newton Pulcifer (Jack Whitehall), seorang IT yang ternyata adalah keturunan dari pemburu penyihir pada zaman lampau. Semua cerita tersebut menampilkan potensi yang besar dan mampu mengangkat miniseri ini, dan semuanya gagal bersinar. Padahal, Good Omens memiliki banyak pemain film yang sudah tidak perlu diragukan lagi, seperti Jon Hamm (Tag) yang memerankan Malaikat Gabriel. Meski saya termasuk penggemar Jon Hamm, namun dirinya kurang bersinar di sini.

Selain dari pengembangan karakter yang kurang matang, masalah yang dialami Good Omens lainnya adalah betapa lambatnya momentum yang dibangun untuk melanjutkan ke cerita selanjutnya. Sehingga saya cukup merasa lelah setelah menonton satu atau dua episode dan perlu berhenti sejenak. Lambatnya momentum akhirnya mempengaruhi lelucon cepat yang diberikan setiap karakter, dan terjadilah adegan yang terkesan bertele-tele.

Namun, selain Michael Sheen dan David Tennant, hal yang perlu saya apresiasi adalah pemilihan lagunya. Jika kamu tidak mengetahuinya, saya adalah penggemar berat band rock asal Inggris, Queen. Dan miniseri ini banyak sekali menggunakan lagu-lagu ikonik dari band tersebut, seperti “Bohemian Rhapsody” yang muncul pada tiga episode. Saya tidak protes, “Bohemian Rhapsody” memang pantas untuk dimainkan kapan saja. Kemudian ada “I’m in Love with My Car” yang dimainkan di saat Crowley harus melewati lahapan api dengan kendaraannya, hingga “Somebody to Love” yang dimainkan di saat momen emosional muncul. Masih banyak lagu Queen lainnya yang muncul, dan semua terasa sangatlah tepat, apalagi lokasi Good Omens berada di Inggris.

Good Omens sangat disayangkan, karena segi cerita yang disuguhkannya sangatlah menarik dan berbeda dari yang lainnya. Asupan komedi yang dimilikinya juga sebenarnya tidak buruk, namun karakter yang mudah terlupakan dan alur yang sering terhambat menjadikan Good Omens tidak sebagus potensi yang dimilikinya. Hanya penampilan Michael Sheen dan David Tennant yang mampu menggendong miniseri ini hingga selesai.

Kamu dapat menyaksikan Good Omens di layanan streaming Amazon Prime Video.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s