Nicolas Winding Refn adalah salah satu sutradara yang mungkin memiliki jiwa seni terbesar dalam membuat sebuah film. Dengan jiwa seni yang dimilikinya, ia berhasil membuat film yang membuat penonton kebingungan bagaimana untuk menanggapinya. Seperti Only God Forgives, film Nicolas yang dirilis pada tahun 2013, di mana saat ditayangkan di Cannes Film Festival untuk pertama kalinya, film ini mendapati dua respon yang sangat berbeda, satu respon memberikan teriakan “Booooo” sebesar-besarnya dan respon yang satunya memberikan tepukan tangan berdiri.

Apasih yang sebenarnya membuat penonton terbagi seperti itu? Apakah mungkin filmnya yang hanya menampilkan visual yang berlebihan? Atau mungkin makna yang ingin disampaikan Nicolas tidak tercapai ke penonton? Terlalu pelan? Terlalu kosong? Terlalu sadis? Mari kita membahas film yang dibintangi oleh Ryan Gosling (Blade Runner 2049) ini.

Berdurasi selama 90 menit, Only God Forgives adalah film yang memanjakan mata penonton dengan visual yang sangat indah dan aestetik yang sempurna. Warna lampu neon yang berwarna merah dan biru menghias lingkungan menjadi warna utama film ini, dan akhirnya menjadi ciri khas Nicolas untuk karya selanjutnya, The Neon Demon dan Too Old to Die Young. Saking bagusnya, setiap detik pada film ini dapat kamu jadikan karya seni karena indahnya dan betapa sempurnanya warna terant neon dan gelapnya kota Bangkok berpadu.

robinekariski-film-nicolas-winding-refn-pakar-memanfaatkan-lampu-neon-menjadi-visual-yang-mencengangkan

Di sinilah di mana kekuatan Nicolas yang sebenarnya muncul. Kamu bisa melihat dari film yang dibuatnya, seperti Valhalla Rising, Drive sampai The Neon Demon, bahwa semua filmnya memiliki satu kesamaan yang tidak bisa dipungkiri lagi, yaitu ia memiliki bakat untuk membuat setiap adegan menjadi sangat indah. Entah itu menggunakan alam sekitar, atau menggunakan lampu neon, ia bisa membuat setiap detik dalam suatu adegan menjadi hidup hanya dengan visual yang disajikannya.

Dan fakta yang sangat menarik adalah bahwa Nicolas Refn ternyata mempunyai buta warna, sehingga setiap gambar dalam karya-karyanya memiliki warna yang sangat kontras dan mencolok, dengan terangnya warna lampu beradu dengan gelapnya suasana. Ia benar-benar memegang pepatah “Ubah kelemahan anda menjadi kekuatan”, di mana meski memiliki kekurangan, ia dengan sempurna memanfaatkanya dan mengubah setiap filmnya menjadi sebuah karya yang sangat menawan.

robinekariski-film-nicolas-refn-dengan-kesunyian-yang-diciptakannya

Kemudian Nicolas adalah salah satu pembuat film yang percaya dengan kekuatan sunyi. Ia percaya dengan sedikitnya suara dan aksi, ia mampu menghasilkan cerita yang lebih menantang dan membuat pengalaman sinema untuk setiap penonton menjadi lebih terasa. Jika kamu memerhatikan Only God Forgives, atau mungkin film lainnya seperti The Neon Demon, maka kamu bisa melihat bahwa setiap adegan bisa terasa sangat lama dengan setiap karakter yang hanya memandang satu sama lainnya tanpa berinteraksi dan tidak melakukan apapun.

Dengan kesunyian yang diciptakan, ia ingin penonton untuk benar-benar meresapi dunia yang dibuatnya hanya dengan mengandalkan kamera dan teknik sinematografi yang dimilikinya. “Sunyi adalah musik terbesar di dunia. Dan sunyi dapat memberikan dampak terbesar, karena kesunyian adalah suara yang sangat memprovokasi, karena kebanyakan penonton merasa tidak nyaman dengan kesunyian.”

Namun untuk sebuah film, visual yang indah bukanlah satu-satunya hal yang diperhatikan penonton. Sebuah film pasti memiliki cerita dan karakter. Mungkin di sinilah di mana banyak penonton yang kebagi. Only God Forgives menceritakan seorang pedagang gelap dan pemilik tempat latihan boxing yang bernama Julian (Ryan Gosling). Dunia Julian terjungkir balik setelah saudaranya, Billy (Tom Burke) memperkosa dan membunuh prositusi di bawah umur. Polisi lokal yang gemar membawa pedang, Chang (Vithaya Pansringarm), datang dan membiarkan ayah dari korban tersebut untuk membunuh Billy untuk balas dendam. Kemudian datanglah Crystal (Kristin Scott Thomas), ibu dari Julian dan Billy, ke hadapan Julian dan memintanya untuk membalas dendan kematian Billy, yang akhirnya mengakibatkan duel antara Julian dan Chang.

robinekariski-film-duel-antara-chang-dan-julian-di-only-god-forgives

Dilihat sekilas, ini adalah film tentang keluarga, balas dendam, dan gelapnya organisasi kejahatan. Kamu mungkin mengaharapkan sebuah percakapan yang dalam, atau aksi yang cepat, namun Only God Forgives tidak memiliki semua itu. Malah, film ini menghabiskan banyak waktunya menonjolkan lampu neon dan karakter yang sering berdiam diri. Bahkan, Ryan Gosling hanya memiliki dialog sebanyak 17 baris dalam film ini, yang menandakan karakter Julian tidak sering bercakap dengan karakter lainnya.

Jika diperhatikan secara seksama, maka kamu bisa melihat bahwa Julian tidak perlu berkata banyak untuk menunjukkan ekspresi ke penonton. Nicolas Winding secara seksama membuat karakter yang bisa mengungkapkan perasaannya ke penonton tanpa ekspresi wajah, namun dengan tingkah laku yang dimilikinya. Mulai dari raut wajah, gerak-gerik badan, sampai tatapannya mengucapkan seribu kata tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun. Ini mirip seperti Valhalla Rising, di mana sang karakter utama, One Eye (Mads Mikkelsen), tidak perlu mengucapkan sepatah kata untuk menunjukkan bahwa ia adalah seseorang yang tidak banyak bicara namun menyalurkan perasaannya melalui aksinya. Mungkin sekilas terlihat membosankan, namun kamu perlu mengetahui karakternya sedalam mungkin untuk melihat ekspresi yang ditimbulkannya.

robinekariski-film-julian-adalah-karakter-yang-sebenarnya-cukup-menarik

Apa yang sebetulnya menarik adalah Ryan Gosling itu sendiri. Karena seperti yang kita semua tahu, kemampuannya untuk akting sangat diacungi jempol, mulai dari film komedi The Nice Guys, film musikal La La Land, film drama First Man, sampai film yang menyentuh Lars and the Real Girl, ia mampu menggendong film dengan jenis apapun melalui akting yang diberikannya. Untuk bermain karakter Julian terlihat seperti sebuah bakat yang dibuang secara sia-sia karena Julian terlihat sebagai karakter bisu, namun sebenarnya tidak. Justru memerankan karakter bisu seperti Julian memerlukan penampilan yang cakap dan akting yang memadai agar setiap pergerakannya bisa terasa hidup. Karena jika salah sedikit saja, maka karakter Julian akan sangat membosankan dan tidak jelas.

Sementara dari cerita itu sendiri memang Only God Forgives cukup lambat dan terkadang tersendat-sendat. Penonton sangat mudah untuk merasa bosan saat menontonnya, karena film ini sangatlah tidak biasa dari film lainnya. Yang mungkin banyak penonton sadari adalah Only God Forgives bukanlah menceritakan cerita seorang manusia, melainkan menceritakan sebuah perumpaan. Bagaimana sisi jahat berhadapan dengan sisi baik. Julian bisa dianggap sebagai sesosok Iblis, Crystal sebagai Setan yang mengendalikannya, dan Chang dengan pedang yang dibawanya sebagai Tuhan.

Film ini hanyalah sebuah metafora besar akan apa yang terjadi jika sisi baik melawan sisi jahat. Tuhan melawan Setan. Atau itulah yang bisa saya pecahkan dari film ini, karena banyak sekali adegan-adegan yang terasa seperti mimpi dan tidak nyata sehingga sering membuat saya bingung. Seperti endingnya yang tidak memberikan penjelasan atau konklusi apapun sehingga menyerahkan kepada penonton untuk memikirkan apa yang benar-benar terjadi. Inilah adalah salah satu contoh film di mana penonton perlu menontonnya lebih dari sekali atau dua untuk bisa memecahkan apa yang sebenarnya terjadi selama satu setengah jam.

robinekariski-film-chang-dengan-pedang-yang-selalu-dibawanya

Kemudian ada sadis. Nicolas Winding memang gemar untuk menaruh adegan berdarah untuk membuat karakter dan emosi semakin kuat dalam adegannya. Seperti filmnya Drive, di mana pada suatu adegan di pengujung film, sang tokoh utama Driver (Ryan Gosling) berada di dalam elevator bersama Irene (Carey Mulligan) dan seseorang lainnya yang ternyata adalah pembunuh bayaran. Ia mengecup Irene secara perlahan, kemudian melawan sang pembunuh bayaran tersebut dan membunuhnya dengan memecahkan kepalanya dengan menginjaknya secara berkali-kali. Adegan ini memang cukup mengagetkan para penonton karena brutalnya aksi Driver, namun sebenarnya menjadi salah satu titik penting di filmnya, di mana Drive menunjukkan bahwa sang tokoh utamanya sudah berpindah ke sisi gelap, sisi yang lebih keras dan sadis.

Nicolas Winding tidak takut untuk menyipratkan darah agar menguatkan emosi atau memajukan alur, dan Only God Forgives tidak main-main jika berurusan dengan adegan yang cukup sadis. Mulai dari terlukanya seseorang karena belahan pedang, sampai bengepnya Julian karena dihajar babak-belur oleh Chang. Mungkin penonton akan mengira elemen sadis di sini sudah berlebihan, namun jika dihapus maka film ini akan menjadi lebih hampa dan kosong, sehingga sedikit darah justru membantu cerita yang disajikan Only God Forgives.

Pada akhirnya, Only God Forgives bukanlah film yang ditujukan untuk masyarakat luas. Nicolas Winding Refn membuat film ini untuk para pecinta seni yang menyukai menguak cerita film dengan imajinasi yang dimilikinya. Penonton akan menyukai film ini dan menyebutnya sebagai sebuah mahakarya. Dan penonton akan membenci film ini dan menyebutnya sebagai film yang sia-sia dan tidak berguna. Namun saya? Saya menyukainya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s