Apa yang terjadi jika Presiden, Wakil Presiden, dan atasan pemerintah lainnya mengalami musibah karena sebuah kejahatan teroris? Itulah yang menjadi landasan Designated Survivor, seri yang musim terbarunya baru saja pindah ke layanan streaming Netflix.

Designated Survivor menceritakan Tom Kirkman (Kiefer Sutherland), seseorang yang langsung dijadikan Presiden Amerika Serikat karena sebuah ledakan yang mengakibatkan tewasnya Presiden dan semua kandidat penerusnya. Musim pertama Designated Survivor terasa cukup seru, di mana penampilan Kiefer Sutherland yang memukau dan elemen thriller menjadikannya seri yang mencolok dari seri politik lainnya. Namun, semua keseruan tersebut lenyap saat memasuki musim kedua, di mana elemen thriller sudah hilang dan Designated Survivor hanya menjadi serial politik lainnya. Dan apa yang terjadi pada musim ketiga ini? Memang tidak sebaik musim pertama, namun bisa saya katakan sudah meningkat dari musim kedua.

Perubahan terbesar yang terjadi adalah bergantinya Designated Survivor yang awalnya hanya serial biasa di TV menjadi serial yang ditayangkan di internet, Netflix. Bergantinya siaran tersebut juga mengubah bagaimana serial tersebut menceritakan ceritanya, dengan jumlah episode yang pada musim sebelumnya berjumlah 22, sekarang sudah dikurangi lebih dari setengah menjadi 10. Mirip seperti serial lainnya, Lucifer di mana jumlah episode berkurang jauh seiring berpindahnya ke Netflix. Dan ini bagus, karena dengan berkurangnya jumlah episode, Designated Survivor dapat menceritakan kisahnya dengan lebih cepat dan tidak bertele-tele seperti musim sebelumnya.

robinekariski-tv-series-pindahnya-designated-survivor-ke-netflix

Musim ketiga, Designated Survivor menceritakan bagaimana Tom Kirkman selaku Presiden tanpa partai alias independen, berjuang saat musim nyoblos tiba, di mana kedua saingannya memiliki partai yang mendukungnya. Politik itu adalah dunia yang keras, kita semua tahu itu. Saat masih ditayangkan di TV, Designated Survivor masih sering sekali mencoba untuk membatasi dirinya. Namun, Netflix adalah sebuah tempat tanpa batas, sebuah tempat tanpa filter di mana semua serial dan film bebas berekspresi tanpa perlu membatasi apapun. Dan di sinilah Designated Survivor akhirnya berhasil melepas semua filter yang dipasangkannya, dan meluncurkan dunia politik yang lebih asli, yang lebih otentik. Melayangkan kata kasar justru membuat seri ini menjadi lebih menegangkan, bukan lebih norak.

Sama seperti sebelumnya, Designated Survivor menceritakan dua cerita sekaligus dalam setiap episode-nya, di mana cerita pertama menceritakan Tom Kirkman menjadi Presiden, dan yang kedua menceritakan Hannah Wells (Maggie Q), agen FBI-Kemudian-CIA yang melawan terorisme dan menyelamatkan Amerika Serikat. Inilah yang sebenarnya kurang saya sukai, karena meski alur cerita Hannah Wells menarik dan pada episode-episode akhir menyatu dengan cerita Tom Kirkman, namun saya tidak bisa membantu tapi merasakan bahwa cerita Hannah kurang dibutuhkan. Bukannya memajukan, namun hanya menghambat momentum episode dan akhirnya membuat cerita yang ia miliki kurang relevan.

Meski Designated Survivor meningkat dari musim sebelumnya karena jumlah episode yang lebih sedikit dan kebebasan yang lebih terbuka, namun saya masih tetap merindukan ketegangan yang saya rasakan pada musim pertama yang dimilikinya. Jangan salah, musim ketiganya tetap solid dan menyuguhkan apa yang dijanjikannya, yaitu sebuah dunia politik yang lebih keras dari sebelumnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s