Point Blank adalah contoh film di mana kedua pemeran utama saling menopang satu sama lainnya dengan performa dan chemistry yang dimilikinya, namun dikecewakan dengan filmnya itu sendiri yang dirasa kurang memanfaatkan kedua pemain film yang dimilikinya dan momentum yang terasa kacau-balau.

Anthony Mackie (Detroit) dan Frank Grillo (Wheelman) membintangi film yang dirilis oleh Netflix ini. Kamu mungkin mengetahui mereka berdua dari film Captain America: The Winter Soldier, di mana Anthony berperan sebagai Sam Wilson dan Frank sebagai Crossbones. Di Point Blank, Anthony memerankan tokoh seorang perawat yang bernama Paul, dan Frank sebagai seorang penjahat yang bernama Abe.

Saya sebetulnya menikmati saat melihat bagaimana kedua aktor saling berhadapan, di mana Paul adalah seorang perawat yang sedang menjalani kehidupan biasa namun harus terlibat dalam masalah yang besar saat ia ditugaskan untuk merawat seseorang yang terluka, yaitu Abe. Kedua aktor sebenarnya mampu memberikan penampilan yang menarik, namun Point Blank memutuskan untuk memberikan sifat yang setengah-setengah terhadap kedua karakter ini. Menjadikan kedua pasangan ini komedi tidak, dan memberikan kedua pasangan ini menjadi serius juga tidak. Alhasil kedua tokoh ini terlihat kurang cocok, meski sebenarnya lebih dari mampu untuk saling mendorong satu sama lainnya.

robinekariski-film-anthony-mackie-dan-frank-grillo-di-point-blank

Sangat disayangkan, karena Anthony dan Frank adalah dua aktor dengan kemampuan yang sangat bagus dan cukup unik. Selain bermain di MCU, Anthony berperan sebagai tentara di The Hurt Locker, salah satu film perang yang paling menarik di mana ia bermain bersama Jeremy Renner (Wind River). Sementara Frank Grillo mampu memerankan tokoh sebagai seorang supir untuk kabur setelah perampokan di Wheelman. Kedua pemain film memiliki bakat yang mampu memerankan karakter yang tidak terlihat melakukan banyak aksi namun tetap menarik dan seru untuk ditonton. Sayangnya, karakter Paul dan Abe terasa hambar.

Sebenarnya, saya kurang tahu apa yang menjadi masalah pada film yang berdurasi selama 86 menit ini. Karena secara aksi sudah cukup cepat dan tidak berlebihan, namun mungkin bagaimana Point Blank memutuskan untuk memajukan ceritanya yang menjadi isu. Untuk film seperti ini, Point Blank terlalu ringan dan tidak mendebarkan. Penonton, termasuk saya, jadi kurang tegang saat menontonnya, dan merasa potensial yang sebenarnya ada tidak dijelajahi.

Mungkin juga karena bagaimana cerita yang disampaikannya tidak cukup, bahkan untuk film yang hanya berjalan selama satu setengah jam. Awal film sebenarnya dimulai dengan seru, namun semakin lama cerita yang disampaikannya semakin tipis dan terjadilah banyak adegan-adegan yang hampa dan tidak dibutuhkan. Point Blank juga menutup filmnya dengan perasaan yang hambar, sehingga penonton merasa tidak puas dan tidak adil untuk kedua aktor sekaliber Anthony Mackie dan Frank Grillo.

Atau mungkin juga karena Point Blank adalah hasil pembuatan ulang film asal Prancis dengan nama yang sama yang dirilis pada tahun 2010. Seperti yang kita tahu, pembuatan ulang sangatlah sulit karena diharuskan menggunakan elemen yang sama namun eksekusi yang berbeda. Dan Point Blank gagal untuk melakukannya.

Kamu bisa menyaksikan Point Blank di layanan streaming Netflix.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s