Sebenarnya cukup jarang saya menonton sebuah serial berjenis situational comedy (sitcom). Sering saya mencoba untuk menonton banyak sitcom, seperti Friends atau How I Met Your Mother, namun saya kurang menikmatinya. Ternyata ada satu persamaan yang dimiliki kedua acara tersebut yang tidak saya sukai, yaitu adanya laugh track.

Setelah saya menonton Unbreakable Kimmy Schmidt, saya sangat menyukainya dan baru saya menyadari bahwa memang betul, tidak adanya kehadiran laugh track justru membuat lelucon yang disajikan menjadi lebih lucu dan lebih mulus. Begitu juga saat saya menonton Brooklyn Nine-Nine, The Office, bahkan sampai Don’t Trust the B—- in Apartment 23, saya sangat menyukai semua sitcom tersebut.

Saya percaya, sitcom seperti Friends sebetulnya memiliki lelucon yang mungkin memang lucu, tetapi setiap saya mendengar sebuah lelucon kemudian mendengar suara “tertawa” palsu setelahnya, lelucon yang baru saja diucapkan atau dilakukan karakternya langsung saja melewati kepala saya dan berakhir menjadi lelucon yang garing. Mungkin lelucon yang diberikannya memang hambar, atau mungkin saja lucu, tapi laugh track yang disertainya hanyalah mematikan lelucon tersebut.

Ambil saja contohnya sitcom The Office, yang dibintangi oleh Steve Carell (Little Miss Sunshine) dan John Krasinski (A Quiet Place). Karakter yang diperankan Carell, Michael Scott, adalah seorang bos yang sangat arogan, angkuh, dengan ego setinggi langit, dan selalu meluncurkan lelucon yang menghina dan tidak sopan. Namun, lelucon yang diucapkan Michael Scott selalu bekerja. Bahkan tanpa membutuhkan bantuan laugh track.

robinekariski-tv-series-komedi-brooklyn-nine-nine-sangat-bagus-tanpa-laugh-track

Atau ambil contoh sitcom lainnya, Brooklyn Nine-Nine. Komedi yang diperankan oleh Andy Samberg (Hotel Transylvania) dan Terry Crews (White Chicks) tersebut selalu berhasil untuk menghibur saya dengan lelucon yang cepat dan pintar, tanpa menggunakan laugh track. Dengan tidak adanya laugh track, maka sitcom tersebut mengandalkan kreatifitas sang penulis, keahlian sang aktor, dan waktu yang tepat untuk berhasil memberikan lelucon yang segar setiap saat.

Dan itulah di mana saya sangat menghargai sitcom, di mana mereka selalu mampu untuk mengantarkan lelucon sekreatif mungkin, dengan cara yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Tanpa adanya laugh track, maka penonton akan menjadi lebih perhatian dengan setiap lelucon yang dimiliki sebuah sitcom, karena mereka tidak perlu mengandalkan laugh track untuk mengetahui bahwa sebuah lelucon baru saja diberikan, entah para penontonnya sadar atau tidak. Dengan tidak adanya laugh track, maka apapun yang terjadi di sitcom tersebut justru menjadi lebih lucu, mungkin saja dari eksperi wajah aktornya, atau cara mereka mengucapkannya, atau bagaimana mereka bertingkah saat menghadapi suatu situasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s