Detroit: Become Human adalah sebuah permainan besutan Quantic Dream yang dirilis pada tahun lalu. Dan seperti permainan Quantic Dream lainnya, letak utama keseruan yang dimiliki Detroit: Become Human adalah pada kuatnya cerita yang disampaikan oleh permainan tersebut.

Detroit: Become Human menceritakan tiga kisah sekaligus, di mana kita memainkan tiga android. Android adalah sebuah robot yang menyerupai manusia, baik dari fisik maupun perilaku. Ketiga android tersebut adalah Connor, yang pekerjaannya adalah memburu pembangkang android lainnya; Kara, pengasuh yang membawa kabur seorang gadis dari ayahnya yang kasar; dan Markus yang ingin membebaskan android dari statusnya sebagai pembantu.

Dan seperti yang saya katakan sebelumnya, cerita adalah aspek yang sangat ditonjolkan Detroit: Become Human. Dan seperti Heavy Rain ataupun Beyond: Two Souls, Detroit: Become Human selalu memberikan pemainnya beberapa pilihan sekaligus dengan setiap pilihan yang diambil pemain dapat langsung mempengaruhi bagaimana jalannya cerita berlangsung.

Di situlah letak keambiguan para pemain, karena kebebasan yang kita miliki benar-benar dapat mempengaruhi tidak hanya jalan cerita, namun juga tingkah laku karakter yang kita mainkan dan karakter lainnya. Ingin memprotes dengan aksi damai seperti yang sering kita lihat belakangan ini di berita? Atau ingin protes dengan kekesaran dan vandalisme di tengah kota? Semua itu tergantung dengan bagaimana cepatnya pemain dapat menentukan pilihannya.

robinekariski-video-game-kara-di-detroit-become-human

Ketiga android tersebut memang berhasil membuat kita bersimpati dengan mereka, dengan penampilan mereka yang sudah sangat bagus, meski mengetahui betul bahwa diri mereka hanyalah sebuah robot yang dibuat oleh manusia. Seperti kisah Kara, yang pada akhirnya malah berperan sebagai seorang ibu bagi anak dari seorang manusia.

Ataupun Markus yang menyadari bahwa android hanyalah sebuah budak dari manusia. Akhirnya, permainan ini membuat para pemain, termasuk saya, secara tidak sadar malah menganggap semua manusia sebagai antagonis dan selalu merasa kasihan terhadap semua android yang ditemui selama permainan berlangsung.

Ketiga karakter tersebut juga memiliki cerita yang cukup seimbang. Kara memiliki cerita yang lebih intim, sementara Connor dan Markus memiliki cerita yang lebih menegangkan dan meledak-ledak, terutama Connor yang setiap investigasinya selalu mengandalkan ketelitian dan reflek yang cepat dari pemain, sehingga saya selalu merasa waspada setiap memainkan Connor. Bahkan saat sedang dialog santai sekalipun, bisa saja sesuatu menyela dan mengharuskan saya untuk menekan suatu tombol, karena kalau tidak bisa saja sesuatu yang buruk menimpa Connor.

Memang cerita Connor adalah cerita yang paling saya sukai. Berpasangan dengan Letnan Hank Anderson yang selalu murung dan galak, Connor selalu mengerjakan kasus yang menarik untuk mengungkap sebuah kasus yang selalu berkaitan dengan android yang membangkang. Bagaimana kita bereaksi terhadap situasi sekitar juga mempengaruhi hubungan Connor dengan Hank, yang dapat berdampak dengan kasus yang kita tangani.

robinekariski-video-game-connor-di-detroit-become-human

Jika diingat-ingat, memainkan Connor mirip dengan permainan besutan Rockstar Games, L.A. Noire. Sama-sama menginvestigasi sebuah TKP, di mana setiap bukti dapat sangat membantu untuk memecahkan kasus sehingga saya selalu membutuhkan waktu yang sangat lama pada satu ruangan saja hanya untuk mencari barang bukti yang dapat membantu saya. Juga sama-sama memerlukan reaksi yang tepat saat berbicara dengan lawan bicara untuk mendapatkan jawaban dan respon yang diinginkan.

Memiliki gameplay yang menarik dan cerita yang kuat, keganjalan yang saya rasakan saat memainkan Detroit: Become Human adalah banyaknya dialog yang bisa saya temui di banyak film kelas-B. Karakter jadi terasa tidak pintar saat mengucapkan sesuatu, dan reaksi yang dihasilkan karakter lainnya juga terlihat tidak alami dan tidak sejalan dengan pilihan yang saya pilih. Seperti karakter tersebut memaksakan untuk melakukan respon itu, meski sebenarnya ia bisa menganggapi dengan jawaban yang berbeda dan lebih logis.

Saya tidak memerlukan dialog setingkat demgan dialog yang dihasilkan Quentin Tarantino (Pulp Fiction), namun saya menginginkan dialog yang dimiliki Detroit: Become Human menjadi lebih baik agar perasaan saya dapat lebih terunggah. Namun secara keseluruhan, Detroit: Become Human sudah menjadi permainan yang sangat seru dan menyenangkan untuk dimainkan, terutama bagi kamu yang ingin melihat konflik moral dan apa jalan terbaik untuk kemakmuran umat manusia… maupun android.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s