“Hei, kan kamu yang ingin menikah.” “Jadi semua ini adalah salahku?” Percakapan tersebut jika didengar begitu saja dapat terdengar cukup kelam dan menyedihkan, menyiratkan bahwa hubungan pasangan tersebut sudah berakhir. Namun di Ready or Not, percakapan tersebut menjadi dasar komedi gelap yang dimilikinya.

Ready or Not menceritakan pengantin muda Grace (Samara Weaving) bertemu dengan keluarga sang suami, Daniel (Adam Brody) di rumah keluarga besar Le Domas, keluarga besar Daniel yang sudah kaya raya dan sukses sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Grace dan Daniel juga mengadakan acara pernikahan miliknya di rumah ini, dengan seluruh keluarga Daniel hadir.

Film pun dibuka dengan cukup ceria dan romantis, di mana Grace dan Daniel sedang bersiap-siap untuk pernikahan mereka. Grace pada awalnya merasa khawatir apakah keluarga Daniel tidak menyukai dia, namun Daniel, seperti suami baik lainnya, menenangkan dirinya dan mengatakan bahwa Grace membuat dirinya menjadi lebih baik.

Pernikahan pun berlangsung, dan di sini kita sudah mulai melihat bagaimana keluarga Daniel melihat Grace dengan tatapan bengis dan sinis, terutama dari sang tante, Helene Le Domas (Nicky Guadagni) dengan gaya rambutnya yang putih dan eksentrik dan secara langsung menjadikannya salah satu karakter yang menonjol sepanjang film berjalan.

robinekariski-film-aunt-helene-di-ready-or-not

Tengah malam pun tiba, dan alih-alih menikmati malam pertama sebagai sepasang suami istri, Grace diajak Keluarga De Lomas untuk mengikuti sebuah tradisi di mana anggota baru keluarga tersebut akan berpartisipasi dalam sebuah permainan yang telah ditentukan dari sebuah kotak tua. Permainan yang didapat Grace adalah permainan petak umpet. Di sinilah di mana semua kengerian tiba.

Apa yang sebenarnya membuat Ready or Not sangat menyenangkan dan berbeda dari film horror lainnya adalah bagaimana sutradara Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett (Devil’s Due) adalah bagaimana film ini dapat menarik dan mendorong komedi dan horror secara teratur tanpa merusak tempo satu sama lainnya. Di satu momen, saya dapat merasa tegang karena suatu adegan merasa sangat menegangkan namun di detik selanjutnya saya dapat tertawa karena melihat kekacauan yang dihasilkan Grace maupun Keluarga De Lomas.

Tidak hanya horror dan komedinya yang bekerja, namun Samara Weaving (Three Billboards Outside Ebbing, Missouri) yang berperan sebagai Grace memberikan akting dan tingkah laku yang sangat nyata dengan bagaimana seorang pengantin akan bereaksi saat mengetahui keluarga yang akan dinikahinya memiliki ritual yang sangat aneh.

Mulai dari teriakannya yang lantang, sikapnya yang tidak ragu untuk melakukan sesuatu, sampai banyaknya kata kasar yang diucapkan menjadikan Grace sebagai karakter yang sangat menyenangkan untuk ditonton dan sangat mudah untuk kita dukung sepanjang petualangannya di rumah megah Le Domas.

robinekariski-film-samara-weaving-sebagai-grace

Selain komedi yang dimilikinya cukup bagus, namun kesadisan yang diungkapkan Ready or Not juga sudah mencapai tingkat yang cukup tinggi. Darah sudah terciprat ke mana-mana mengingatkan penonton bahwa film ini masih tetap berada di ranah horror, dan apa yang hebatnya meski banyak adegan yang sadis namun semuanya itu tidak terasa berlebihan. Saya tidak merasa banyaknya darah yang tertumpah itu tidak diperlukan, malah sebenarnya cukup efektif.

Pesan yang dikirim Ready or Not juga sangat lantang dan jelas. Semakin kaya sebuah keluarga, maka semakin aneh tingkah laku keluarga tersebut dan jika dilihat pada masyarakat sekitar, memang tidak salah. Tidak hanya seru, namun Ready or Not juga dengan lelucon dan kesadisannya mengolok-olok masyarakat yang angkuh dan kaya raya. Ready or Not bekerja sebagai sebuah film horror, sebagai sebuah film komedi, dan bekerja sebagai reaksi terhadap bagaimana masyarakat di sekitar hidup.

Ready or Not juga memberitahu bahwa dunia film horror membutuhkan karya-karya komedi-gelap-horror yang dimiliki film ini agar film-film horror lainnya tidak terasa membosankan dan klise.