“Kau cukup gelap, dan aku menyukainya.” Kalimat yang diucapkan oleh Homelander (Antony Starr) itu kurang lebih adalah perasaan yang tepat saat saya menonton serial baru yang bernama The Boys. Serial yang sudah tayang sejak 26 Juli lalu ini sangat menarik karena menampilkan kumpulan sosok superhero yang tidak pernah kita lihat sebelumnya.

Diangkat dari serial komik dengan nama yang sama, The Boys menceritakan bagaimana jika di dunia ini kita memiliki sebuah kelompok yang terdiri dari beberapa superhero, namun di balik kebaikan yang ditunjukkannya di publik, mereka adalah sosok yang kejam, jahat dan licik. Kelompok tersebut bernama The Seven, dan diketuai oleh superhero yang bernama Homelander.

Jika dilihat, maka kamu yang memang sering menonton film atau membaca komik superhero pasti langsung dapat memahami setiap kekuatan dari para anggota The Seven, karena penampilan dan kekuatan mereka memang mirip dengan tokoh superhero yang sudah terkenal. Ambil saja Homelander, dengan kekuatannya yang mampu terbang dan menembakkan laser dari mata mengingatkan saya pada Superman, tokoh dari komik DC. Atau Queen Maeve (Dominique McElligott), yang pakaiannya sangat mirip dengan Wonder Woman, tokoh lainnya dari komik DC.

Tetapi mereka bukanlah tokoh utama dari serial ini. Tokoh utama dari The Boys adalah kumpulan manusia biasa yang ingin menjatuhkan The Seven karena alasannya masing-masing. Kumpulan manusia ini dipimpin oleh Billy Butcher (Karl Urban), manusia sadis yang memiliki kebencian sangat tinggi terhadap Supe, panggilan untuk mereka yang memiliki kekuatan super.

robinekariski-tv-series-kumpulan-the-boys

Kemudian tokoh utama lainnya adalah Hugh Campbell (Jack Quaid), yang mengikuti kelompoknya Butcher karena pacarnya tewas terbunuh oleh superhero yang bernama A-Train (Jessie T. Usher). Hugh, atau sering dipanggil dengan Hughie, adalah seseorang yang dulunya adalah penggemar superhero. Saat awal musim dimulai, ia digambarkan sebagai seseorang yang polos, lemah dan baik hati.

Kepribadiannya yang polos semakin lama semakin berubah, dan perubahannya itulah yang membuat saya selalu bersorak karena sungguh menyenangkan untuk melihat seseorang yang dulunya adalah pengecut menjadi seseorang yang berani untuk berhadapan dengan seorang Supe. Sifat polosnya Hughie juga tidak jarang bertabrakan dengan sifat brutalnya Butcher, sehingga sering terjadi percekcokan yang akhirnya membuat hubungan mereka menjadi lebih menarik dan tidak membosankan.

Namun kembali lagi, yang menonjol dari serial ini adalah bagaimana The Boys mengubah jalur berpikir para penonton saat melihat superhero, sama seperti saat film Watchmen keluar 10 tahun yang lalu. Penonton, termasuk saya, sering melihat film superhero seperti The Avengers dan melihat bagaimana hebat dan baiknya mereka untuk selalu melawan kejahatan tanpa pamrih, bagaimana mereka selalu berusaha untuk membuat dunia menjadi lebih baik tanpa meminta imbalan. Di The Boys, semua itu berbeda.

Di kisah ini, semua superhero selalu memiliki niat yang jahat dan pikiran yang licik. Mereka memanfaatkan kekuatan yang mereka miliki untuk memanipulasi seluruh dunia demi keuntungan mereka. Di zaman dewasa ini, kata superhero memang selalu membuat kita berpikir. Apa yang akan saya lakukan jika saja saya memiliki kekuatan seperti si “dia”? Pernahkah kamu meluangkan waktu untuk berpikir itu? Karena saya cukup sering. Kekuatan apa yang ingin saya dapatkan jika saya dapat bebas memilih, dan apa yang akan saya lakukan saat memilikinya?

robinekariski-tv-series-the-seven-kelompok-superhero-di-the-boys

Memang superhero yang ditampilkan di film The Avengers atau Justice League adalah tokoh idaman semua orang, namun tokoh yang ditampilkan The Boys sebenarnya jauh lebih relevan dan lebih nyata dari film-film tersebut. Seperti bagaimana Translucent (Alex Hassell) yang mampu menghilangkan dirinya sering menghabiskan waktunya menghilangkan diri di toilet wanita. Memang menjijikan, namun pernahkah terpikir apakah itu yang akan orang-orang lakukan saat memiliki kekuatan seperti Translucent?

Atau jika kamu memiliki kekuatan seperti Homelander, dengan tubuhnya yang kebal terhadap serangan apapun, mampu melakukan apa saja yang diinginkannya tanpa konsekuensi. Apa yang yang akan kamu lakukan? Berbuat baik seperti layaknya seorang superhero di komik? Atau memanfaatkan kekuatan tersebut untuk keuntungan dan kenikmatan seperti Homelander? Tidak ada jawaban mudah, dan itulah yang ingin The Boys lakukan terhadap para penontonnya, yaitu untuk menantang jalan pikir kita bahwa selama ini manusia dengan kekuatan super akan selalu baik, dan mengubahnya dengan “Bagaimana jika…?”

Bagaimana pun juga, kamu bisa menilai sendiri apakah yang dilakukan para superhero tersebut memang salah atau dapat dibenarkan dengan menonton The Boys di layanan streaming Amazon Prime Video.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s