Dengan durasi yang cukup lama, yaitu 169 menit atau hampir menyentuh 3 jam, It Chapter Two telah menjadi salah satu film terlama yang saya tonton tahun ini, bersamaan dengan Once Upon a Time… in Hollywood yang berdurasi selama 161 menit. Namun meski saya menikmati setiap detik di Once Upon a Time… in Hollywood, saya tidak merasakan hal yang sama dengan It Chapter Two.

Berjarak 27 tahun dengan kisah It, It Chapter Two melihat kembalinya sang badut Pennywise yang meneror kota Derry. Cerita dimulai dengan pasangan homoseksual yang di-bully oleh penindas lokal, kemudian ditangkap dan dibunuh oleh Pennywise. Saat menonton, saya merasakan perasaan yang tidak enak karena tidak hanya betapa kejamnya penindas tersebut, namun juga apakah adegan ini diperlukan di film ini?

Membuka film dengan pasangan sesama jenis yang ditindas kemudian dibunuh? Tidak hanya itu, kejadian yang menyeramkan tersebut seakan tidak memengaruhi cerita selanjutnya, sehingga seperti hanya ada untuk memperkeruh suasana film dan saya tidak mengerti bagaimana menanggapinya. Apakah diperlukan? Apakah tidak? Yang pasti, saya mengetahui film ini akan lebih kelam dari yang sebelumnya.

robinekariski-film-the-losers-club-saat-sudah-dewasa

Kemudian kita secara satu per satu melihat The Loser’s Club yang sudah beranjak dewasa. Mulai dari Bill (James McAvoy) yang menjadi penulis film, Beverly (Jessica Chastain) seorang perancang busana, Richie (Bill Hader) yang menjadi komedian, Mike (Isaiah Mustafa) yang menjadi pustakawan di Derry, Ben (Jay Ryan) seorang arsitek, Eddie (James Ransone) yang bekerja di New York City dan Stanley (Andy Bean) yang menjadi akuntan di sebuah perusahaan.

Meski membawa banyak nama-nama besar dan durasi yang lebih panjang, namun It Chapter Two tetap tidak bisa menyaingi ketegangan dan keseruan dari film sebelumnya. Malah, karena durasinya yang panjang, It Chapter Two terkesan bertele-tele untuk menyampaikan intinya dan tersendat pada satu adegan untuk waktu yang cukup lama. Bukannya terasa menegangkan, tidak jarang film terasa lama dan membosankan, sehingga saya menunggu kapan elemen menegangkannya akan muncul lagi.

Namun, meski terkesan bertele-tele, It Chapter Two masih tetap dapat membawakan momen horror-nya dengan cukup efektif dan menyeramkan. Tidak semuanya tepat mengenai sasaran karena beberapa mudah ketebak, namun yang lainnya memang kreatif dan cukup menyeramkan. Film ini juga tidak ragu untuk melemparkan momen menyeramkan terus-menerus, yang akhirnya sempat membuat beberapa jumpscare miliknya melelahkan dan dapat ditebak dengan mudah. Tetap saja, beberapa momen memang cukup seram dan menegangkan.

robinekariski-film-pennywise-di-film-it-chapter-two

Untuk cerita sendiri, saya kurang begitu menyukainya. Saat cerita sudah berusaha untuk maju, tiba-tiba kita dibawa oleh kenangan masa lalu yang terkadang malah tidak berhubungan dengan cerita saat ini, sehingga saya merasa beberapa kenangan ini hanya ada untuk mengisi waktu dan menakut-nakuti penonton tanpa suatu arti.

Ending yang dimiliki It Chapter Two juga terkesan biasa saja, meski cerita yang dimiliki film ini dan film sebelumnya sudah cukup padat dan bagus. Ending pada film ini hanyalah membunuh seluruh kesan dan aura mistis yang dimiliki Pennywise yang membuat film-film ini menjadi misterius dan menyeramkan. Sungguh disayangkan, karena dengan potensi yang dimilikinya mereka dapat menutup kisah ini dengan lebih tepat lagi, lebih menegangkan lagi, lebih menyeramkan lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s