Satu hal yang pasti setelah rilisnya film Hereditary, yaitu bahwa Ari Aster adalah seorang sutradara yang patut diikuti karena keahliannya untuk membuat film horror yang sangat berbeda dari lainnya. Setahun setelah dirilisnya Hereditary, ia kembali lagi menawarkan kreativitasnya terhadap penonton dengan film terbarunya, Midsommar.

Saya pernah menulis sebelumnya bahwa saya bukanlah penggemar jenis film horror, dengan jumpscare yang di mana-mana dan cerita yang mudah ditebak. Namun setelah menonton film karya Ari Aster dan Robert Eggers (The Witch), opini saya terhadap jenis horror berubah dan saya tertarik untuk mencari film horror yang memang berbeda dari film horror kebanyakan. Bertemulah saya dengan Midsommar, film kedua dari sang jenius Ari Aster.

Midsommar adalah sebuah film yang menceritakan kisah sebuah pasangan bersama teman-temannya yang pergi untuk jalan-jalan menuju Eropa, ke Swedia lebih tepatnya. Di situ, mereka mengunjungi sebuah desa kecil bernama Hårga untuk melihat sebuah tradisi yang hanya berlangsung selama 90 tahun sekali. Disebut, tradisi tersebut adalah sebuah festival dengan beragam kegiatan, seperti tari-menari, makan bersama dan berkumpul bareng.

robinekariski-film-desa-harga-di-midsommar

Di lihat-lihat, Hårga bukanlah desa yang mengintimidasi. Dengan penduduknya yang ramah, tanah yang lapang, rerumputan yang masih segar dan pegunungan yang menghias di belakang, Hårga terlihat seperti sebuah desa impian. Dan inilah yang mengecoh Dani (Florence Pugh), sang tokoh utama bersama kawan-kawannya. Karena ternyata festival yang berlangsung selama 90 tahun sekali tersebut menyimpan ritual kejam dan memuakkan yang tidak terduga-duga.

Apa yang sebenarnya membuat Midsommar menjadi film yang menonjol tahun ini adalah bahwa Ari Aster mampu membuat suatu kisah dan festival yang sangat menyeramkan di tengah teriknya sinar matahari. Jika melihat film Hereditary yang kebanyakan adegan seramnya berlangsung gelap, atau The Witch yang seluruh warna filmnya terasa kelam dan tua, berbeda dengan Midsommar yang terlihat sangat cerah.

Dengan warna biru muda dari langit, warna putih yang cerahdari pakaian para peserta festival dan hijau yang bersih dari alam sekitar, Midsommar mampu menceritakan sebuah kejadian yang menyeramkan dengan latar yang cerah dan terang. Inilah apa yang membuat saya terkagum-kagum dengan Midsommar. Bukannya mematikan elemen seram, namun latar yang cerah tersebut justru membuat kengerian di film tersebut semakin menusuk.

robinekariski-film-keheningan-yang-membuat-penonton-tidak-nyaman

Tidak hanya latarnya yang membuat penonton tidak nyaman, namun setiap adegan juga dengan sedemikian rupa membuat saya bengong dan berpikir “Apa ini?”, “Apa yang terjadi?”. Ari Aster mampu membuat penonton tidak nyaman dengan memanfaatkan berbagai macam hal, salah satunya adalah keheningan.

Banyak adegan yang terasa hening di Midsommar, seperti saat para penduduk Hårga ingin makan bersama. Sebelum makan, ada beberapa detik atau menit di mana suasana terasa hening dan kita disuguhkan para peserta Hårga yang hanya diam dan duduk dengan tenang. Meski mereka tidak melakukan apapun, namun saya juga langsung terdiam dan berusaha untuk memikirkan apa yang akan terjadi karena saya sendiri juga tidak nyaman dengan yang saya tonton, meski tidak ada adegan yang menyeramkan.

Tapi tahukah kamu kalau Midsommar yang kamu tonton di bioskop Indonesia sudah disensor habis-habisan dan dipotong kurang lebih 9 menit dari yang ditayangkan di Amerika Serikat. Memang ada beberapa adegan yang terasa janggal karena dengan kikuknya terpotong atau malah berubah menjadi slow-motion sesaat. Horror yang disajikannya juga menjadi tidak sebrutal dan sesakit yang diinginkan Ari Aster, namun berhubung saya memang jarang menonton film horror, saya tetap saja terkejut dan tidak jarang terpukau dengan kengerian yang dibuatnya.

robinekariski-film-dani-dan-christian-di-midsommar

Namun tarik semua elemen horror yang dimiliki Midsommar, dan kamu akan mendapatkan sebuah cerita tentang sepasang kekasih yang sedang berada pada titik di mana mereka kedua tidak yakin dengan hubungannya mereka. Hubungan antara Dani dan Christian (Jack Reynor) memang sudah terlihat dari awal film sudah tidak mulus, dengan Christian merasa dirinya selalu terjerumus dengan masalah keluarga Dani yang tidak habis-habis. Dani sendiri juga semakin lama merasa tidak enak harus selalu mengandalkan Christian saat keluarganya memiliki masalah.

Cerita romansa kedua karakter tersebut bukannya mematikan cerita Midsommar, melainkan menambah ketegangan dan intensitas dari seluruh cerita film. Florence Pugh (Fighting with My Family) selaku pemeran utama juga memberikan akting yang sangat nyata dan otentik, sehingga tidak jarang penonton ikut merasa berduka ataupun ketakutan bersamaan dengan karakter Dani.

Apakah dengan film Midsommar, saya mampu menyatakan Ari Aster sebagai pembuat film horror terbaik saat ini? Iya, saya berani untuk mengklaim pernyataan tersebut. Selama dua tahun berturut-turut, ia mampu memberikan penonton dua buah kisah yang tidak hanya menyeramkan, namun juga orisinil dan berbeda dari film horror lainnya, serta kedua film tersebut mampu membuat saya tidak nyaman sekaligus terpana atas kengerian yang dimilikinya.

Saya hanya perlu menunggu The Lighthouse, film horror lainnya yang akan keluar tahun ini yang sudah sangat saya antisipasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s