Apa yang pertama membuat saya sangat tertarik dengan serial animasi Netflix Disenchantment adalah sang pembuatnya, Matt Groening. Masih tidak familiar dengan namanya? Ia adalah pembuat serial animasi yang sudah berjalan hampir selama 30 tahun, yaitu The Simpsons, mungkin saja salah satu acara terbaik yang pernah tayang di televisi.

Tentu saja setelah bertahun-tahun mengerjakan The Simpsons, ia akan memerlukan membuat kreasi baru lainnya dan setelah Futurama, lahirlah Disenchantment yang menjadi serial animasi milik Netflix, dengan musim pertamanya sudah tayang sejak Agustus tahun lalu.

Bagi yang belum mengetahuinya, Disenchantment adalah sebuah serial animasi yang menceritakan tentang sebuah desa pada zaman dahulu yang bernama Dreamland, dan Tiabeanie (Abbie Jacobson) atau yang sering dipanggil Bean, seorang putri dari sang raja yang bernama King Zog (John DiMaggio). Petualangan Bean selalu ditemani oleh sesosok setan yang bernama Lucifer (Eric Andre) atau Luci, dan sebuah elf yang bernama Elfo (Nat Faxon).

robinekariski-tv-series-luci-dan-bean-saat-berada-di-neraka

Berbeda dengan The Simpsons yang tayang di televisi dan harus terkena jeda iklan, Disenchantment tayang di layanan streaming yang tidak memiliki jeda apapun sehingga alur cerita yang dimilikinya bebas mengalir selama satu episode yang biasanya berjalan sekitar 30 menit. Namun karena tidak adanya jeda, maka terkadang beberapa momen terasa terlalu panjang dan berbelit-belit sehingga sebuah lelucon terasa lewat begitu saja.

Tetapi tidak jarang juga lelucon yang dimiliki Disenchantment tepat mengenai sasaran, dengan komedi khas Groening yang konyol dan tidak masuk akal seperti beberapa karya sebelumnya menjadi momen yang sudah ditunggu-tunggu para penggemar. Mulai dari bodohnya King Zog, betapa tidak acuhnya Bean meski memiliki status menjadi putri dari seorang raja, sampai betapa polosnya Elfo, Disenchantment tidak kekurangan karakter yang dapat memberikan lelucon baru dari berbagai sudut.

Salah satu momen yang menonjol di musim kedua adalah saat di mana Bean menyadari bahwa terdapat perbedaan yang sangat besar antara kaum wanita dengan kaum pria. Ia mengalaminya saat dirinya tidak diperbolehkan mengikuti interogasi yang dilakukan kerajaan terhadap seseorang yang misterius karena “terlalu kejam untuk wanita” atau saat ia ditolak oleh teater lokal karena “wanita tidak boleh bekerja untuk teater”.

robinekariski-tv-series-kota-steamland-di-disenchantment

Pada suatu saat, ia akhirnya tiba di sebuah kota yang bernama Steamland, sebuah kota futuristik dengan lampu yang kerlap-kerlip, eskalator yang berjalan dengan sendirinya, sampai papan iklan yang dapat berganti dengan sendirinya. Di sinilah Bean akhirnya menyadari bahwa ternyata dunia itu luas dan tidak hanya Dreamland. Di sinilah ia juga melihat bahwa wanita sudah setara dengan pria, di mana ia melihat bahwa seorang wanita yang bisa membuat dan membuka kedai bir dengan sendirinya tanpa pria, berbeda dengan di Dreamland di mana semua aktivitas masih dominan pria.

Bagaimana pun juga, Disenchantment adalah sebuah serial yang menarik yang mengusik tentang dunia fantasi, seorang putri yang siap berpetulang, dan lelucon khas Matt Groening yang kita semua sukai. Cerita musim kedua Disenchantment-pun juga lebih kuat dan lebih terasa dari sebelumnya tanpa mengorbankan komedi yang sudah cukup pas.

Musim kedua Disenchantment sudah bisa ditonton di layanan streaming Netflix.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s