Pada intinya, Ad Astra adalah sebuah film tentang seorang astronot yang ingin terhubung kembali dengan ayahnya yang sudah lama meninggalkannya demi menemui kehidupan intelektual di luar angkasa. Namun pada penyajiannya, Ad Astra lebih dari itu. Dengan visual yang sangat indah, penampilan yang memukau dari Brad Pitt, dan cerita yang melankolis, Ad Astra adalah sebuah film tentang manusia dan betapa kecilnya kita jika dibandingkan dengan megahnya luar angkasa.

Di awal film, kita diberitahukan bahwa Ad Astra berada pada masa depan yang tidak jauh dari kita, atau “in the near future”. Masa depan yang dimaksud adalah masa di mana kita sudah bisa jalan-jalan mengunjungi bulan, dengan Yoshinoya dan Subway sudah ada di bulan. Memang saat ini hal-hal seperti itu masih jauh dari kenyataan, tapi bukan tidak mungkin. Dan itu sepertinya menjadi tema utama dari Ad Astra, yaitu tidak ada yang tidak mungkin.

Di masa depan itu, ada Brad Pitt. Ia memerankan tokoh utama yang bernama Roy McBride. Ia adalah seorang astronot yang sudah cukup terkenal, salah satunya adalah karena kecepatan detak jantung miliknya tidak pernah melewati 80, bahkan saat pada situasi ekstrim sekalipun seperti yang ada di awal film. Ia ditugaskan oleh atasannya untuk mencari ayahnya, Clifford McBride (Tommy Lee Jones) yang sudah terdampar di luar angkasa sekian lamanya karena berusaha untuk mencari kehidupan intelektual baru. Tidak hanya itu, Roy juga ditugaskan untuk mencari tahu penyebab lonjakan energi yang tidak hanya mengancam kehidupan manusia, namun berasal dari kapal ayahnya.

robinekariski-film-roy-mcbride-saat-berada-di-mars

Ad Astra bukanlah film aksi-fantasi yang cepat seperti Interstellar, namun ini adalah film yang dengan sabarnya menyajikan kepada penonton apa saja yang bisa terjadi pada masa depan dan bagaimana indahnya luar angkasa itu. Pada salah satu momen yang menegangkan, kita melihat bagaimana Roy sedang melawan para perompak sembari menaiki moon rover di atas bulan. Dilenkapi dengan senjata yang menembakkan laser layaknya dari Star Wars, para perompak ini adalah sekelompok organisasi yang memang bebas berkeliaran di bulan dan selalu berusaha untuk menjarah dan mengambil barang berharga dari para astronot sekitar.

Sama seperti film Moon di mana manusia akhirnya harus mengandalkan bulan untuk menambang energi baru, kedua film menggambarkan apa yang sangat mungkin akan terjadi dalam beberapa puluh tahun ke depan. Energi di bumi tentu semakin lama akan semakin habis, dan planet lain menjadi pilihan yang tidak bisa dihindari lagi. James Gray selaku sutradara Ad Astra menyatakan dirinya ingin menggambarkan Ad Astra sebagai film dengan sains paling akurat tentang luar angkasa. Apakah semua sains di film ini memang sudah benar dan akurat? Saya tidak tahu, namun yang saya tahu adalah Ad Astra menampilkan luar angkasa dengan gaya yang berbeda dari film luar angkasa lainnya.

Berbeda dengan The Martian atau Gravity yang menggambarkan luar angkasa sebagai sesuatu yang sangat antagonis terhadap manusia, Ad Astra menampilkan luar angkasa sebagai sesuatu yang belum pernah dijelajahi oleh manusia. Dengan teknik sinematografi yang memukau dari Hoyte van Hoytema, musik yang pelan dan dramatis yang selalu mengiringi dari Max Ritcher, Ad Astra menggambarkan luar angkasa sebagai sesuatu yang sangat indah dan megah dan manusia terlihat sangat sangat kecil dari betapa besarnya tata surya kita.

Kemudian apa yang membuat film ini menjadi begitu indah adalah penampilan Brad Pitt (Once Upon a Time… in Hollywood) yang sangat memukau sebagai seseorang yang selalu menggulati perasaannya saat menjalankan misi terpentingnya. Selama bertahun-tahun, Roy percaya bahwa ayahnya sudah meninggal. Kemudian pada suatu saat ia diberikan misi untuk mencari ayahnya. Tentu saja ini memberikan rasa emosi yang sangat besar terhadap Roy, dan Pitt benar-benar memainkannya dengan sempurna.

robinekariski-film-brad-pitt-sebagai-roy-mcbride

Tidak hanya ketenangan Pitt mampu memberikan suatu kedalaman terhadap karakternya, namun karakter Roy McBride benar-benar menunjukkan bahwa Brad Pitt masih menjadi salah satu aktor dengan akting yang sangat indah dan mempesona. Entah sedang galau, panik, tenang, ataupun sedih, akting Brad Pitt tidak terkesan berlebihan saat memerankan Roy. Dengan karakternya, Cliff Booth, yang tidak kalah menarik di film Once Upon a Time… in Hollywood, 2019 memang adalah tahun yang cukup besar untuk Brad Pitt.

Ad Astra tidak hanya menjelajahi luar angkasa, namun juga menjelajahi sebuah hubungan antara ayah dan anak. Di sini terlihat Roy dengan harapannya yang tinggi untuk melihat kembali ayahnya yang selalu dipandang sebagai seorang legenda, seorang pahlawan, seseorang yang membuat dirinya untuk menjadi seorang astronot dan mengikuti jejak ayahnya. Ia akan melakukan apa pun, meski menentang perintah sekalipun, untuk melihat kembali ayahnya yang sudah bertahun-tahun dianggap tewas oleh dirinya. Jika sebelumnya Pitt memainkan seorang ayah pada film The Tree of Life, kali ini ia memainkan seseorang yang selalu mempertanyakan apa yang sedang ayahnya lakukan dan mengapa ia melakukan hal tersebut.

Berdurasi selama dua jam, Ad Astra memang adalah film yang pelan dan tidak menggebu-gebu seperti yang kebanyakan orang kira. Jika kamu adalah orang yang hanya ingin melihat aksi yang besar layaknya Star Wars, maka film ini bukanlah film yang tepat. Namun, jika kamu penasaran dengan bagaimana indahnya luar angkasa dan ingin mengeksplorasinya, maka Ad Astra adalah transportasi yang sangat layak. Entah visualnya yang indah bak lukisan, atau penampilan Brad Pitt yang memang patut diacungi jempol, Ad Astra adalah sebuah film yang sangat saya nikmati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s