Juni lalu, permainan besutan Naughty Dog, The Last of Us genap berusia 6 tahun. Permainan yang dirilis pada 14 Juni 2013 (Bertepatan dengan ulang tahun saya, asyiknya) itu keluar untuk PlayStation 3 dan sampai saat ini telah menjadi salah satu permainan terbaik yang pernah ada. Bahkan, saya berani untuk menyebutnya sebagai permainan terbaik yang pernah saya mainkan.

Apa sih sebenarnya yang membuat saya menyebut The Last of Us sebagai permainan terbaik? Ceritanya yang diberikannya, karakter yang dimilikinya, ketegangan yang dihasilkannya, musik yang mengiringinya, lingkungan yang indah sekaligus mencekam, tantangan yang bervariasi, semua itu berpadu dengan sangat indah dan menghasilkan salah satu mahakarya yang sangat sulit untuk disaingi.

Mengetahui tahun depan The Last of Us Part II sudah ingin dirilis, sekarang adalah waktu yang tepat untuk kembali mengenang dan mengingat apa saja yang sudah terjadi pada permainan sebelumnya, The Last of Us.

Semua itu berawal pada tahun 2013, di mana sebuah penyakit muncul secara tiba-tiba dan menyerang seluruh warga di Amerika Serikat. Penyakit tersebut dapat mengubah manusia menjadi sebuah makhluk yang sangat agresif yang sering disebut Infected. Di Texas, seorang ayah yang bernama Joel (Troy Baker) tinggal bersama putrinya, Sarah (Hana Hayes) sedang hidup dengan tenang dan damai.

robinekariski-video-game-sarah-dan-joel-di-the-last-of-us

Namun suatu malam, penyakit misterius tersebut datang ke kota mereka, di mana Joel pertama kali berhadapan dengan Infected saat tetangganya menerobos masuk rumah dan menyerang mereka. Syok, mereka pun berhasil bertahan diri dan dijemput oleh Tommy (Jeffrey Pierce) dan berencana untuk kabur. Namun naas, saat berlari Sarah harus terkena tembakan oleh seorang prajurit yang ditugaskan untuk menghabisi mereka guna mengurangi kemungkinan bertambahnya jumlah Infected.

“Jangan lakukan ini kepadaku, baby girl. Ayolah…” Itu menjadi kata-kata terakhir Joel kepada Sarah, dan ia pun meninggal di genggaman Joel, dan dimulailah cerita The Last of Us.

Saat permainan baru dimulai untuk pertama kali, kita bermain sebagai Sarah. Ia terbangun saat telepon genggamnya berdering. Kita dapat menjelajahi rumah kita pada malam hari dari sudut pandang Sarah. Memasuki kamar mandi, melihat-lihat isi kamarnya, kita diberikan kesempatan untuk berpetualang sebelum ketegangan dimulai. The calm before the storm. Ketegangan mulai terasa saat ia mendengar suara ledakan yang tidak jauh dari rumahnya, di mana kita bisa melihatnya dari jendela kamar Joel. Ledakan tersebut, sekaligus TV yang nyala yang menyiarkan berita bahwa sebuah penyakit telah tersebar luas di banyak kota, menandakan kepada pemain bahwa bahaya sudah sangat dekat.

Kemudian saat di mana Joel harus menggendong Sarah kabur dari para Infected bersama Tommy juga menjadi momen menegangkan pertama, sekaligus memberitahu kepada pemain bahwa sedikit saja pemain lalai, maka mereka akan menjadi mangsa yang mudah untuk musuh mereka. Berlari melewati gang kecil, melewati tanah terbuka sembari dikejar Infected, kita yang bermain sebagai Joel juga ikut merasa bahwa apapun yang terjadi kita harus terus berlari dan melindungi Sarah. Saat di mana Sarah terkena peluru di bagian perutnya, kita mengetahui bahwa The Last of Us tidak ragu untuk melakukan hal yang kejam dan keji, bahkan membunuh anak kecil sekalipun. Ini juga cara mereka mengatakan kepada kita bahwa dunia yang akan mereka mainkan adalah dunia yang sangat kejam dan siapa saja bisa menjadi korban selanjutnya.

robinekariski-video-game-joel-di-the-last-of-us

20 tahun pun berlalu dari kejadian yang kelam tersebut, dan kita dapat melihat Joel di usianya yang sudah sangat tua dan rambut serta janggut yang sudah beruban. Kita melihat dirinya yang menjadi penyelundup gelap. Kita juga melihat dirinya yang sudah bersikap tidak peduli dengan dunia karena kehilangannya yang ia alami. Tidak hanya dirinya, namun dunia pun juga seperti juga ikut jatuh ke dalam kekacauan. Manusia terbagi menjadi beberapa kelompok, di mana dua kelompok terbesar yang paling sering terlihat adalah militer dan Fireflies, sebuah organisasi independen yang sedang berperang dengan militer dan memiliki kepercayaan untuk mendapatkan sebuah obat yang dapat menyembuhkan penyakit yang sedang mewabah ini.

Ditemani oleh Tess (Annie Wersching) yang juga adalah seorang penyelundup gelap, mereka berdua bekerja menyelundupkan berbagai macam bareng ilegal, seperti senjata. Suatu hari, mereka mendapatkan kabar bahwa senjata yang ingin mereka selundupkan hilang dari salah salah satu pedagang gelap senjata, Robert (Robin Atkin Downes). Dilengkapi dengan kemampuan untuk berantem dan sebuah pistol, Joel pun menyerang tempat Robert bersama Tess dan disinilah di mana kita pertama kali memasuki fase bertarung.

Adegan ini menjadi tempat yang cocok bagi pemain pemula untuk mengetahui apa saja yang bisa mereka lakukan saat berhadapan dengan musuh. Fleksibilitas yang dimiliki The Last of Us juga menjadi sesuatu yang sangat saya kagumi, di mana kita diberikan pilihan apakah ingin bermain secara stealth atau bermain secara liar dan rusuh. Bahkan kita diberitahukan bahwa lihatlah jumlah amunisi dan supply yang kita miliki sebelum menentukan cara apa yang ingin kita lakukan. Ingin bermain stealth? Pastikan saja kamu bermain dengan sangat sabar. Atau ingin bermain secara berisik? Pastikan kamu memiliki jumlah amunisi yang mendukung dan barang lainnya yang memadai.

Sebelum dibunuh oleh Tess, Robert memberitahu bahwa stok senjatanya telah diambil oleh Marlene (Merle Dandridge), pemimpin Fireflies. Marlene pun menemui Joel dan Tess, dan memberikan tawaran bahwa kelompoknya akan memberikan mereka senjatanya sebanyak dua kali jika mereka bisa menyelundupkan seseorang ke salah satu tempat berlindung Fireflies. Setelah menyetujui, mereka akhirnya bertemu dengan seorang gadis bernama Ellie (Ashley Johnson), anak muda yang masih berusia 14 tahun.

robinekariski-video-game-ellie-dan-joel-melihat-state-house

Ellie adalah seorang gadis yang bisa dibilang sangatlah unik. Ia adalah gabungan yang pas dari polosnya anak kecil dan vulgarnya orang dewasa. Ia lahir saat dunia sudah kacau balau karena penyakit yang sudah mewabah, sehingga pengetahuannya dengan dunia luar sangat minim. Ia tidak pernah melihat truk es krim, ia tidak pernah memasuki toko musik, namun ia bisa menembak, ia bisa mengendarai kendaraan manual, ia bisa mempertahankan dirinya layaknya orang dewasa.

Ia adalah seseorang yang selalu penasaran dengan dunia di sekitarnya, sehingga dirinya selalu bertanya-tanya dengan Joel mengenai dunia sebelum semuanya kacau balau. “Itu bangunan apa?” “Pernahkah kamu menginap di hotel seperti ini?” “Pernahkah kamu memesan kopi di toko kopi seperti ini?” Dirinya melambangkan kepolosan sedangkan Joel melambangkan kebrutalan dan keduanya menjadi pasangan yang sangat dinamis dan tidak pernah saya jenuh melihat keduanya berinteraksi. Saya menyukai Ellie, saya menyukai bahwa meski dirinya masih di bawah umur namun dirinya dapat mengatakan kata kasar seenaknya dan dapat bertindak semaunya. Ia pun menjadi salah satu tokoh karekter yang paling memorable dan paling saya sukai dari segala permainan yang pernah saya mainkan.

Saat keduanya pertama kali bertemu, mereka bersikap saling tidak acuh. Joel menganggap Ellie hanyalah sebuah selundupan lainnya, sementara Ellie menganggap Joel hanya sebagai seseorang pelindungnya sesaat. Mungkin juga Joel menganggap Ellie seperti itu karena ia tidak ingin mengingat putrinya yang meninggal 20 tahun silam, makanya ia berusaha untuk menjaga jarak dan menghindari terjalinnya hubungan antara dirinya dengan Ellie karena takut ia akan teringat oleh Sarah.

“Tahukah kamu apa bagian terbaik dari pekerjaanku? Aku tidak perlu tahu alasannya. Jujur saja, aku tidak peduli apa yang ingin kamu lakukan,” ujar Joel kepada Ellie.

“Baguslah kalau begitu,” balas Ellie.

Mereka berdua, ditemani oleh Tess juga, berusaha untuk menyelinap melewati militer agar bisa menuju State House, di mana sekelompok Fireflies akan menunggu kedatangan Ellie dan membawa mereka. Lokasinya yang berada di luar zona karantina memberikan Ellie sekaligus pemain kesempatan untuk pertama kalinya melihat bagaimana dunia luar. Secara tidak langsung, kita pun juga seperti Ellie. Kita tidak tahu apa saja yang sudah terjadi di dunia luar ataupun apa yang sedang terjadi. Setiap Ellie melontarkan pertanyaan, kita juga secara antusias menunggu jawaban dari Joel ataupun Tess untuk ikut lebih memahami dengan dunia The Last of Us.

Saat pemain sedang menyelundup ke luar zona karantina, mereka pun terciduk oleh dua anggota militer. Di saat terciduk itulah kita maupun Joel dan Tess mempelajari bahwa Ellie ternyata sudah tergigit oleh Infected beberapa waktu sebelumnya. Inilah momen krusial kedua dalam The Last of Us, dan menjadi titik yang memulai semuanya. “Kenapa kita menyelundupkan gadis yang sudah terinfeksi?” amuk Joel yang mempertanyakan keberadaan Ellie ke Tess. Ellie pun langsung mengangkat lengannya dan menjelaskan bahwa gigitan di lengannya tersebut sudah dari 3 minggu yang lalu, sementara Tess mengatakan bahwa orang pada biasanya akan berubah dalam 2 hari saja.

Saat Joel tidak memercayai Ellie dan berniat untuk hengkang, kita mendengar militer datang. Di sinilah ujian pertama pemain dengan cara bermain stealth. Jika sebelumnya pemain selalu bermain secara barbar dan berisik, maka di sini kita hanya bisa mengendap-endap melewati puluhan militer. Bersembunyi di balik lemari, melempar batu bata untuk mengalihkan perhatian musuh, adegan ini adalah saat yang tepat untuk mempelajari segala mekanisme gameplay yang dimiliki The Last of Us karena kemampuan untuk bermain secara stealth akan sangat berguna untuk kedepannya.

Setelah melewati sekumpulan militer secara diam-diam, kita akhirnya tiba di daerah perkotaan di mana bangunan pertama yang kita masuki adalah sebuah rumah sakit. Di sini juga adalah tempat kita untuk pertama kalinya berhadapan dengan Infected. Dua tipe Infected kita hadapi di lokasi ini, Runners dan Clickers. Runners adalah tipe Infected fase pertama, di mana meski kekuatannya masih tidak sebesar Clickers, namun kecepatannya untuk berlari sangatlah kencang sehingga melawan beberapa Runners sekaligus menjadi ide yang buruk. Berbeda dengan Runners yang cepat namun lemah, Clickers adalah fase selanjutnya di mana tipe ini memiliki kecepatan berjalan yang biasa saja namun sekalinya mereka menangkap Joel ataupun Ellie, selesai sudah.

Stealth-pun menjadi pilihan yang sangat tepat saat berhadapan dengan sekumpulan Infected, apalagi jika beberapa Infected tersebut terdapat tipe yang lumayan kuat seperti Clickers. Setelah sudah terlatih bermain stealth dari beberapa momen sebelumnya, maka pemain dapat menerapkan semua ilmu yang sudah dipelajarinya dengan mengendap-endap dan menghabisi setiap Infected yang ada di rumah sakit tersebut. Saat pertama main beberapa tahun yang lalu, jujur saya merasa kewelahan saat harus menghadapi Runners sekaligus Clickers karena saya memang kurang ahlisaat harus bermain stealth. Ini pun menjadi pembelajaran bahwa stealth akan menjadi salah satu cara bermain yang sangat ampuh dan wajib dipahami. Melempar botol untuk mengalihkan perhatian, mencekik Runners, menusuk Clickers menggunakan shiv, semua ini adalah pengalaman yang sangat berharga jika pemain bermain dengan sabar, dan sepertinya kesabaran menjadi tema yang sering muncul di The Last of Us.

Pagi pun datang, dan bangunan State House juga sudah terlihat. Saat melihat langit mulai berubah warna dengan atap State House ditengahnya, Joel bertanya kepada Ellie, “Jadi, apakah itu semua yang kamu harapkan?” di mana Ellie membalas “Masih belum tahu. Tapi, kamu tidak bisa menolak pemandangan itu.” Percakapan singkat tersebut membuat Joel terbungkam sejenak, di mana kepalanya tertunduk sembari melihat jam tangan di lengan kirinya. Jam yang dikenakan Joel adalah hadiah pemberian Sarah 20 tahun yang lalu, dan meski sudah tidak berfungsi ia tetap rela mengenakannya demi mengingat anak tunggalnya tersebut. Ia pun teringat Sarah karena melihat Ellie yang memiliki rupa yang sama, seorang gadis kecil. Tess pun menyaut “Hei, ayo jalan” yang membuyarkan renungan Joel dan mereka melanjutkan perjalanan mereka.

Saat sebelum menuju State House, kita dapat menemui mayat yang mengenakan seragam Fireflies dengan secarik surat yang tertulis “Pastikan tidak ada militer sebelum memindahkan anak perempuannya ke tempat aman selanjutnya. Pastikan dia sudah diberikan makan dan dalam kondisi yang sehat. Kesehatannya menjadi kepentingan yang sangat utama.” Ini pun menandakan kepada Joel dan pemain bahwa Ellie bukanlah anak sembarang. Ia adalah prioritas Fireflies yang cukup tinggi, meski masih belum diketahui apa yang ingin mereka lakukan terhadap Ellie.

“Apa yang terjadi jika sampai dan semuanya mati?” tanya Ellie dengan polosnya.

“Mereka tidak akan mati,” jawab Tess, dengan nada yang memaksa.

“Tapi, bagaimana kamu yakin?” kembali Ellie bertanya.

“Aku yakin. Dengar, semuanya akan baik-baik saja,” kembali Tess menjawab, mencoba untuk meyakinkan Ellie.

robinekariski-video-game-tess-di-the-last-of-us

Di sini kita melihat bahwa perjalanan ini tidak hanya tentang Ellie, namun juga tentang Tess dan Joel. Kita terkadang terlalu fokus kepada Ellie dan Joel sehingga kita melupakan bahwa Tess selalu mengikuti kita. Tanpa Tess, Joel tidak akan memercayai Ellie karena dirinya Tess yang percaya kepada Ellie. Jika saja tidak ada Tess, maka Joel bisa saja meninggalkan Ellie sendiri di luar zona karantina dan kita tidak akan mendapatkan cerita The Last of Us. Dirinya pun sebenarnya menjadi salah satu tokoh penting yang sering pemain lupakan, meski kontribusinya sebenarnya cukup besar.

Memasuki State House, ketakutan Tess pun menjadi kenyataan. Beberapa anggota Fireflies yang harusnya menunggu kedatangan Ellie ditemukan meninggal. Ia pun langsung memasuki fase panik, sementara Joel berusaha menenangkannya sembari mengatakan “Sudah selesai, Tess! Kita sudah berusaha. Ayo kita pulang saja.” Namun Tess menolak, dengan dirinya akhirnya mengatakan “Ini pemberhentian terakhirku.” Saat Joel masih menerka-nerka apa yang sebenarnya Tess pikirkan, Ellie pun akhirnya menyadari apa yang sebenarnya Tess alami dan mengapa dirinya menjadi sangat gigih untuk mengantarkan Ellie ke Fireflies. Ia telah tergigit oleh Infected.

Iya, satu-satunya teman Joel selama beberapa tahun terakhir harus menemui titik akhirnya. Satu-satunya orang yang dapat menyaingi dan mengimbangi kesinisan Joel. Momen ini menjadi salah satu titik krusial di The Last of Us, di mana Joel lagi-lagi harus kehilangan seseorang yang memahami dirinya karena serangan Infected. Permintaan terakhir Tess kepada Joel adalah untuk mengantarkan Ellie ke Tommy, saudara Joel yang sempat menjadi anggota Fireflies, karena ia percaya bahwa Ellie benar-benar kebal terhadap gigitan dari Infected. Buktinya, luka bekas gigitan yang dialami Tess sudah jauh lebih parah dari luka Ellie, meski baru saja tergigit beberapa jam yang lalu.

Di saat semuanya bingung apa yang harus dilakukan, beberapa personil militer datang memasuki State House. Tess, mengetahui sudah tidak memiliki banyak waktu, memaksa Joel untuk pergi membawa Ellie sementara dirinya menahan untuk melawan militer. Meski dirinya mengetahui ia akan mati dengan cepat saat berhadapan dengan pihak militer, namun dirinya tidak ingin berubah menjadi Infected. Ia lebih memilih untuk memberikan Joel, teman seperjuangnya selama beberapa tahun terakhir, waktu tambahan untuk kabur.

Dalam dunia ini, tidak hanya Infected yang dapat membunuh manusia, bahkan udara pun juga bisa menjadi predator yang mematikan. Udara yang sudah terdapat spore — sebuah udara beracun akibat busuknya penyakit Infected — dapat membunuh manusia seketika saja. Setelah kabur dari State House, Joel dan Ellie memasuki stasiun kereta bawah tanah, di mana udaranya sudah penuh dengan spore. Spontan, Joel mengenakan masker gasnya untuk menghindari menghirup spore, sementara Ellie tidak mengenakannya. “Bagaimana kamu bisa menghirup udara ini?” tanya Joel dengan bingungnya. “Aku sudah bilang, aku tidak berbohong,” balas Ellie yang menyatakan bahwa dirinya memang tidak bisa ikut berubah menjadi Infected sekaligus meyakinkan Joel bahwa anak ini memang benar-benar kebal dari Infected.

Hubungan keduanya semakin meregang seiring kematiannya Tess, dengan Joel mendikte Ellie dengan memberikan tiga peraturan. Yang pertama, Ellie tidak boleh mengungkit apapun yang berhubungan dengan Tess, selamanya. Kedua, Ellie tidak boleh memberitahu tentang kondisinya kepada siapapun. Dan yang terakhir, Ellie harus selalu patuh dengan Joel, dan dengan ketusnya Ellie menjawab “Tentu saja.”

Berdua, mereka menuju kota terdekat demi menemui Bill, kenalan Joel, dan berharap ia dapat memberikan sebuah kendaran agar mereka bisa melanjutkan perjalanan mereka menuju Tommy. Saat hampir memasuki kota tempat Bill tinggal, Ellie dengan terpukaunya mengatakan “Aku tidak pernah melihat ini.” Joel pun kembali bertanya “Maksudmu hutan ini?” dan Ellie menjawab “Iya, aku tidak pernah jalan-jalan di hutan. Ini cukup keren”

robinekariski-video-game-momen-ketenangan-di-sebuah-hutan

Sebagai pemain, kita juga pertama kalinya menyadari bahwa seumur hidupnya, Ellie tidak pernah melihat dunia luar. Ia selalu menghabiskan hidupnya di dalam zona karantina. Bahkan saya pun juga mendapati perasaan yang menenangkan saat melewati hutan, meski hanya sesaat. Sebelumnya kita selalu melewati perkotaan yang hancur, sehingga pemandangan alam yang hijau menjadi pemandangan yang sangat segar untuk dilihat. Jika dipikir, kita tidak terlalu berbeda dengan Ellie, di mana perasaan yang dirasakan Ellie dapat dengan mudah dirasakan pemain.

Setelah beberapa momen menegangkan berlalu, Joel dan Ellie pun mendapatkan kendaraan dan mereka pergi menuju Pittsburgh. Selama perjalanan, Joel mulai sedikit peduli dengan Ellie di mana ia menyuruh Ellie untuk tidur, meski Ellie sibuk membaca komik yang dicurinya dari tempat Bill. Joel, yang sebelumnya pernah mengatakan bahwa dirinya tidak peduli apa yang ingin dilakukan Ellie, sekarang mulai memiliki perasaan untuk menjaganya dan memastikan kondisi Ellie tetap sehat dan bugar. Bahkan, saat Ellie dengan isengnya mengerjai Joel dengan membaca majalah porno, terlihat Joel yang langsung merasa panik dan insting kebapakannya yang berjalan untuk berusaha mengambil majalah tersebut.

Kejadian menegangkan terjadi saat mereka mencapai kota Pittsburgh, di mana saat mengenderai kendaraan mereka, mereka disergap oleh beberapa bandit. Iya, bandit. Sekarang The Last of Us memperkenalkan kelompok manusia ketiga yang menjadi ancaman Joel dan Ellie. Bandit adalah sekelompok manusia yang kerjaanya adalah menjarah orang yang memasuki kota mereka — atau turis sebutannya — dan menentang Fireflies sekaligus militer. Mereka pun menjadi musuh terbesar Joel dan Ellie pada saat ini.

robinekariski-video-game-ellie-dan-joel-di-the-last-of-us

Saat mereka mencapai di suatu hotel yang besar di tengah kota, Joel dan Ellie harus terpisah karena suatu kecelakaan yang melibatkan sebuah lift. Joel terjatuh ke ruang bawah tanah sementara Ellie harus bertahan seorang diri di bagian tengah hotel. Satu momen yang meregangkan kedua hubungannya terjadi lagi tidak jauh dari momen di mana mereka terpisah.

Setelah menyelinap dan menghabisi beberapa bandit secara diam-diam (Atau secara berisik, tergantung cara pemainnya), Joel mengalami kesulitan saat menghadapi satu bandit terakhir. Dirinya pun terancam untuk terbunuh jika saja Ellie tidak datang dan menembak sang bandit tersebut. Ia menyadari bahwa itu adalah pembunuhan pertamanya, dan ia merasa tidak enak badan setelah itu. Namun bukannya menenangkan, Joel malah memarahinya karena “Aku senang kepalaku tidak tertembak oleh anak kecil.”

Ellie, merasa kesal karena Joel tidak pernah merasa berterima kasih, akhirnya berkata “Tahukah kamu, tidak.” Namun Joel tetap menjaga jarak secara emosi kepada Ellie. Mungkin saja ia seperti itu karena ia tetap tidak ingin ada ikatan emosional dengan Ellie, dan takut jika ia secara tidak sadar menganggap bahwa Ellie sudah seperti anaknya. Ia, dengan bersikeras, hanya menjawab “Kita harus pergi,” ke Ellie, yang tentunya merasa kecewa.

Namun perasaan Joel kepada Ellie cepat berubah, saat mereka berdua menemui sekumpulan bandit. Joel seperti menyadari bahwa kemungkinannya untuk bertahan hidup akan bertambah jika Ellie diberikan senjata untuk melindungi Joel. Ia pun akhirnya memercayakan Ellie sebuah rifle, yang boleh digunakan Ellie jika Joel mengalami masalah saat menghabisi para bandit. Setelah itu, ia memberikan sebuah pistol kepada Ellie dan mengatakannya bahwa itu hanya boleh digunakan untuk keadaan darurat saja. Momen ini menandakan bahwa Joel sudah lebih percaya kepada Ellie untuk saling melindungi satu sama lainnya.

Tengah perjalanan, mereka menemukan dua orang lainnya, kakak beradik Henry (Brandon Scott) dan Sam (Nadji Jeter). Sam dan Ellie pun dengan cepat menjalin hubungan pertemanan karena umurnya mereka yang tidak jauh berbeda. Mulai dari berbagi pengalaman, bermain darts secara bersama, sama-sama melihat truk es krim untuk pertama kalinya, Sam dan Ellie adalah dua orang yang polos dan murni dan hanya sama-sama ingin bertahan hidup. Mereka melewatkan masa kecil mereka berlari, berlindung, bertahan diri, sehingga melihat mereka mencoba untuk bersenang-senang, meski hanya sesaat, adalah suatu emosi yang tidak bisa digambarkan dan menjadi hubungan yang sangat lucu untuk dilihat.

Namun tidak semua orang aman di dunia ini, dan The Last of Us dapat membunuh siapa saja. Sam, teman baru Ellie, harus tergigit oleh Infected, dan memutuskan untuk tidak memberitahu kakaknya, Ellie ataupun Joel. Ia pun dengan tiba-tiba menyerang Ellie, yang mengira dirinya masih tidur. Saat Joel berusaha untuk mengambil sebuah pistol, dirinya dihalangi oleh Henry yang berteriak “Itu adikku!” Namun saat Joel tetap bersikeras untuk mengambil senjatanya, Henry sendirilah yang membunuh adiknya. Seketika, ia merasa dirinya sudah tidak berguna lagi di dunia karena kehilangan satu-satunya anggota keluarga, dan ia pun memutuskan untuk bunuh diri. Gambar terakhir yang kita lihat adalah wajahnya Joel yang syok, dan waktu langsung melompat menuju musim gugur.

Musim gugur tiba, Joel dan Ellie akhirnya tiba menemui Tommy yang sudah bermarkas di sebuah tempat pembangkit listrik. Memasuki markas Tommy, kita mendapatkan perasaan yang tenang dan aman. Untuk pertama kalinya, kita melihat sekumpulan orang yang tidak berusaha untuk membunuh kita. Joel meminta bantuan kepada Tommy untuk membawa Ellie ke markas Fireflies terdekat, yaitu pada sebuah kampus tidak jauh dari markas mereka. Tommy pertamanya enggan untuk membantu kakaknya, namun setelah melihat betapa dekatnya hubungan antara Joel dan Ellie, ia pun akhirnya setuju untuk membawa Ellie ke rumah sakit tersebut. Namun Ellie tidak ingin berpisah dengan Joel dan memutuskan untuk kabur dari markas Tommy dengan mencuri salah satu kudanya.

Joel dan Tommy, tanpa berpikir panjang, langsung mengambil kuda dan mengikuti jejak Ellie sembari melewati beberapa bandit sepanjang jalan. Mereka pun akhirnya tiba di sebuah rumah kosong, di mana Ellie sedang duduk sembari membaca buku jurnal seorang penghuni yang sudah lama tinggal di situ. Joel dan Ellie pun akhirnya terlibat dalam adu mulut, di mana Ellie akhirnya mengungkapkan perasaannya bahwa dirinya akan semakin takut jika bukan Joel yang menemaninya karena hanya dirinyalah yang tidak pernah meninggalkan Ellie. Joel, seberusaha mungkin, tetap ingin menjaga jarak antara dirinya dengan Ellie karena tidak ingin memiliki keterikatan emosional antara keduanya yang pada akhirnya akan mengingatkan dirinya dengan Sarah.

“Kau benar. Kau bukan anakku, dan aku bukanlah ayahmu,” ucap Joel yang seakan-akan menandakan bahwa dirinya tidak ingin ada hubungan emosional dengan Ellie.

Tapi pada akhirnya, Joel menawarkan dirinya untuk menemani Ellie membawa dirinya ke kampus di mana Fireflies bermarkas. Mungkin saja ia merasa bahwa dirinya akan hampa tanpa kehadiran Ellie, atau mungkin ia sudah berjanji kepada Tess untuk membawa Ellie ke pihak Fireflies. Mereka pun pergi menuju kampus tersebut.

Sesampainya di sana, Joel, Ellie dan Callus (Kuda yang dibawa oleh Joel dan dinamai oleh Ellie) mengetahui bahwa Fireflies sudah tidak ada di kampus dan telah berpindah ke sebuah rumah sakit di Salt Lake City. Kecewa, mereka memutuskan untuk pergi menuju rumah sakit tersebut sebelum diserang oleh para sekumpulan bandit.

The Last of Us memang gemar memperlihatkan momen yang menegangkan, dan saat di mana pemain merasa syok ataupun ketakutan, mereka langsung melompat hingga musim selanjutnya, yang akhirnya meninggalkan pemain dengan perasaan yang campur aduk dan pertanyaan yang segudang. Lihat saja pada selanjutnya, di mana saat Joel dan Ellie ingin kabur dari kampus tersebut karena disergap oleh para bandit. Pada salah satu klimaksnya, Joel harus terjatuh dari beberapa lantai dan tertusuk oleh sebuah pipa di bagian perutnya. Saat sedang menaiki kuda bersama Ellie, Joel pun terjatuh pingsan dan waktu langsung secara tiba-tiba melompat memasuki musim salju.

robinekariski-video-game-ellie-berlari-di-musim-salju

Saat selanjutnya pemain ternyata bermain sebagai Ellie untuk pertama kalinya, kita semua tentu merasa terkejut dan beberapa pertanyaan langsung terlontarkan. “Apakah kita akan benar-benar bermain sebagai Ellie?” atau “Bagaimana dengan Joel? Apakah dia bertahan?” Itu menunjukkan betapa efektifnya cara The Last of Us dapat mengagetkan pemain dan berhasil membuat pemain bertanya-tanya sehingga rasa penasaran dari setiap pemain tetap ada dan permainan tidak pernah terasa bosan. Pemain akan bermain karena ingin mengetahui apa yang benar-benar terjadi selama melompatnya waktu tersebut.

Momen krusial terjadi selanjutnya di mana Ellie berhasil kabur setelah ditangkap oleh sekumpulan bandit yang ternyata adalah sekumpulan kanibal. Dipimpin oleh David (Nolan North), kelompok tersebutlah yang ternyata menyerang mereka di kampus. Saat kabur, Ellie harus berhadapan dengan David di sebuah restoran yang sudah terbakar. Joel, menyadari Ellie hilang dan lukanya sudah sembuh, langsung bergegas untuk mencarinya dan membunuh sekumpulan bandit agar bisa mencapai Ellie. Namun, saat Joel akhirnya tiba di restoran tersebut, ia melihat Ellie sudah mencabik-cabik wajah David dengan golok miliknya. Dengan sigap, Joel meneriakkan namanya dan menarik Ellie sembari berteriak “Stop!”

Ellie, yang sudah trauma karena kejadiannya bersama David, menangis sembari mengatakan “Joel, dia berusaha untuk…”

“Oh, baby girl. Semuanya sudah baik-baik saja.” Itulah yang diucapkan Joel sembari memeluk dan menenangkan Ellie yang sudah melewati salah satu momen paling menakutkan di hidupnya.

Di sini untuk pertama kalinya kita dapat melihat secara langsung bagaimana Joel sudah benar-benar mulai perhatian dengan Ellie dan khawatir dengan dirinya. Ia pun memanggil Ellie dengan sebutan “baby girl“, sebutan yang ia biasa ucapkan untuk anaknya, Sarah. Tidak lagi ia merasa tidak peduli dengan Ellie, ia sudah mulai menganggap Ellie sebagai anaknya sendiri karena mereka sudah melewati berbagai macam hal secara bersama-sama dan saling menjaga satu sama lainnya.

Musim semi datang, dan mereka akhirnya hampir mencapai rumah sakit tempat Fireflies bermarkas. Melihat gambar rusa di sebuah tembok, Ellie teringat dengan kejadiannya yang terjadi pada musim salju lalu. Ia pun seperti menjauh dari Joel, menjadi lebih pendiam dan lebih sering melamun. Berbeda dengan Joel yang mulai terbuka, seperti mengajak Ellie untuk belajar bermain gitar. Jika diperhatikan, ini cukup ironis mengingat pada awal permainan Ellie yang lebih sering berbicara sementara Joel hanya ingin ketenangan.

robinekariski-video-game-ellie-pertama-kalinya-menemui-seekor-jerapah

Namun kesedihan Ellie berubah saat dirinya melihat seekor jerapah ditengah reruntuhan kota. Ia pun, untuk pertama kalinya semenjak kejadian yang mengenaskan dj musim salju, merasa dirinya menjadi anak kecil lagi, merasa bahagia karena melihat seekor jerapah yang berkeliaran di kosongnya kota. Untuk Ellie, jerapah tersebut melambangkan kebahagiaan dan kepolosan. Untuk Joel, jerapah tersebut melambangkan harapan dalam kehidupan.

“Jadi, apakah ini semua seperti yang kamu harapkan?” tanya Joel kepada Ellie.

“Yah, ada momen baik dan momen buruknya. Tapi, kau tidak bisa menyangkal pemandangan ini,” balas Ellie.

Untuk sesaat, pemain dapat dengan tenang menikmati keindahaan alam berbaur dengan manusia. Kita menghabiskan hampir seluruh waktu kita untuk berlari dan bertahan, dan sangat jarang kita dapat menikmati waktu sesaat untuk benar-benar menikmati pemandangan sekitar. Di adegan ini, pemain diberikan kesempatan untuk istirahat dan melihat bahwa tidak semua di dunia ini buruk. Memang, Joel dan Ellie harus selalu siaga setiap saat, namun melihat mereka berdua melihat sekumpulan jerapah tersebut dengan tenang, harapan terhadap dunia tetap ada.

Saat sudah sangat dekat dengan rumah sakit, kecelakaan menimpa Ellie dan Joel saat mereka ingin menyebrangi sebuah arus air yang sangat kuat. Keduanya terjatuh ke dalam air, dan Ellie pun hilang kesadaran. Saat Joel berusaha untuk menghidupkan kembali Ellie, mereka ditangkap oleh anggota Fireflies yang sedang berpatroli. Di rumah sakit, Joel bertemu kembali dengan Marlene. Ia pun langsung bertanya bagaimana kabarnya Ellie, karena ia merasa khawatir dengan dirinya. Marlene mengatakan bahwa saat itu juga Ellie sedang bersiap-siap untuk melakukan operasi agar bisa membuat vaksin. Namun untuk melakukan itu, mereka harus mengeluarkan bagian terinfeksi dari otak, sehingga itu akan langsung membunuh dia. Tidak bisa terima, Joel pun melawan balik dan menghabisi setiap Fireflies yang ia temui agar bisa kembali menemui Ellie.

“Aku tidak akan meninggalkan tempat ini tanpamu, jadi ayo kita selesaikan semua ini,” begitu ucap Joel kepada Ellie saat mereka sedang menuju rumah sakit. Itu adalah seperti sebuah janji, bahwa Joel dalam kondisi apapun tidak akan meninggalkan Ellie. Ia pun juga sudah berencana untuk mengajarkan Ellie bagaimana cara berenang dan bermain gitar. Ia tidak ingin lagi-lagi kehilangan anak perempuannya, karena ia sudah menganggap Ellie sebagai anaknya sendiri. Satu kehilangan sudah cukup bagi Joel, ia tidak ingin satu-satunya orang yang membuat ia bertahan hidup harus berpisah dari dirinya.

Mencapai ruang operasi, ia melihat Ellie yang sudah tidak sadar siap dioperasi dengan tiga dokter di dekatnya. Joel, tanpa basa-basi, langsung menghabisi ketiga dokter tersebut kemudian menggendong Ellie dan berlari untuk mencari pintu keluar, semua itu sembari dikejar oleh beberapa anggota Fireflies. Dengan lagu yang sedih, warna yang dipergelap, adegan ini bisa dikatakan salah satu momen paling menyentuh dan paling krusial di The Last of Us. Semua yang telah dilakukan Joel, semua yang telah dilakukan Ellie, telah merujuk pada momen ini. Adegan terakhir dalam permainan ini, di mana Joel berlari dari para Fireflies sembari menggendong Ellie, terngiang balik saat permainan baru dimulai, di mana Joel berlari dari para Infected sembari menggendong Sarah. Ia mengetahui itu, dan ia tidak ingin kehilangan lagi. Seberusaha mungkin ia berlari, membawa Ellie, dan berlari sekencang mungkin.

robinekariski-video-game-joel-saat-dirinya-harus-berlari-sembari-menggendong-ellie

Ia pun melihat sebuah cahaya terang di ujung ruangan. Sebuah lift menanti mereka. Cahaya tersebut menjadi harapan Joel, dengan sebelumnya ia selalu berlari di kegelapan. Saat Fireflies mulai menembaki dirinya, Joel berhasil masuk ke dalam lift dengan Ellie selamat dari segala ancaman. Mencapai di gedung parkir, Joel dihadang oleh Marlene. Pertikaian terakhir Joel.

Marlene adalah seperti sebuah penghalang terakhir Joel antara kehidupan yang diinginkannya dengan kehampaan. Bagaimanapun juga, ia harus bisa melewati Marlene. Ia mengetahui kalau Ellie adalah satu-satunya harapan manusia untuk bisa melawan balik penyakit Infected. Tapi, ia menyadari bahwa dunia sudah mengambil Sarah dari dirinya, jadi saat ini ia melancarkan serangan baliknya dengan mengambil Ellie dan satu-satunya harapan dari dunia. Tanpa belas kasih, ia membunuh Marlene dan membawa Ellie menaiki kendaraan menuju tempat Tommy.

Saat perjalanan, Ellie pun terbangun dan bertanya apakah yang sebenarnya terjadi. Di sini Joel memiliki dua opsi, berkata yang sejujurnya dan berpotensi untuk dijauhi selamanya oleh Ellie, atau berbohong dan menganggap apa yang sudah terjadi hanyalah masa lalu. Tentu saja ia memilih untuk berbohong, mengatakan bahwa ternyata Fireflies sudah menemukan banyak yang kebal seperti Ellie, dan mereka semua gagal untuk mendapatkan vaksin. Terkejut, Ellie pun hanya berdiam diri dan merasa kecewa karena perjalanan mereka selama ini, semua yang telah ia lakukan, terasa seperti sia-sia saja.

Apakah Joel egois karena memutuskan untuk berbohong kepada Ellie? Apakah ia egois untuk merenggut satu-satunya harapan manusia untuk membasmi Infected? Tindakan Joel memang sangat ambigu secara moral, karena di satu sisi jika melihat dari pandangan orang lain, Joel rela membunuh jutaan orang tidak bersalah, namun jika dilihat dari pandangan Joel ia hanyalah tidak ingin sendirian lagi di kejamnya dunia tersebut. Ia tidak ingin kehilangan Ellie, karena dengan adanya Ellie maka Joel dapat merasa bagaimana memiliki seorang anak perempuan lagi. Ia dapat mengenang Sarah dari kehadirannya Ellie.

Setelah hampir saja mencapai kotanya Tommy, Ellie berhenti. Ia pun menceritakan masa lalunya kepada Joel, saat di mana ia tergigit. Ia mengatakan bahwa dirinya tidak sendirian saat tergigit Infected. Ia ditemani Riley (Yaani King), sahabat terdekatnya Ellie dan sama seperti Ellie, Riley juga tergigit Infected.

“Kita tunggui saja. Kau tahu, kita bisa sok puitis dan kehilangan kesadaran bersama,” Riley mengucapkan kepada Ellie saat keduanya menyadari waktu mereka tidaklah lama. Namun entah beruntung atau tidak, Ellie tidak berubah dan mengatakan kepada Joel “Aku masih menunggu giliranku.”

Akhirnya, ia pun memberikan ultimatum kepada Joel.

“Sumpah kepadaku. Sumpah kalau apa yang kamu katakan tentang Fireflies itu benar.”

“Aku bersumpah,” jawab Joel.

Kamera memperlihatkan wajah Ellie secara dekat, matanya yang hijau dan besar seolah sedang memerhatikan apakah Joel berbohong atau tidak, dan beberapa detik kemudian hanya menjawab “Okay.”

Apakah Ellie mengetahui yang sebenarnya? Apakah ia mengetahui kalau Joel, teman terdekatnya saat ini, orang yang selalu menjaganya selama hampir setahun, berbohong kepadanya? Sebelum kita mengetahui itu semua, layar langsung berubah menjadi hitam dan credit pun berjalan.

Ending yang dimiliki The Last of Us memang cukup sulit untuk dicerna, terutama saya, karena merasa bahwa ending yang dimilikinya tidak memiliki konklusi yang benar-benar menyelesaikan kisah Joel dan Ellie. Ini bukanlah happy ending seperti kebanyakan film atau permainan. Mereka menyelesaikan cerita mereka dengan membuat kita bertanya-tanya apakah Joel itu orang yang baik atau tidak? Kita mengetahui bahwa sebelumnya dia memang bukan orang yang bersih, namun setelah menemui Ellie ia seperti kembali menemukan tujuan hidup, tetapi apakah itu dapat membenarkan semuanya yang telah ia lakukan?

Dan apakah Ellie pantas mendapatkan ending seperti itu? Karena ia mengatakan bahwa dirinya masih menunggu gilirannya untuk berubah menjadi Infected, namun tujuan itu digagalkan oleh Joel yang mengambil dirinya dan membawanya memasuki kehidupannya. Bagaimanapun juga, The Last of Us memiliki cerita yang memang tidak hanya sangat menarik namun juga memiliki ending yang sangat mindblowing.

Kita pun diberikan kesempatan untuk mengetahui bagaimana kelanjutan cerita Ellie dan Joel di The Last of Us Part II, yang akan dirilis pada Mei tahun depan, 2020. Sejujurnya? Saya rasa ending yang dimiliki The Last of Us sudah sangat tepat dan akan menjadi sangat sulit untuk melanjutkan cerita dari ending yang dimilikinya, sehingga akan sangat menarik untuk melihat bagaimana Naughty Dog melanjutkan kisah permainan yang apik ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s