Dolemite is my name, and fucking motherfuckers up is my game!” terdengar seperti kata suci Rudy Ray Moore dalam film biografi Dolemite Is My Name yang sudah tayang di Netflix. Saya berbohong jika mengatakan saya tidak menikmati perjalanan saya bersama film ini selama dua jam, karena film ini benar-benar salah satu film paling seru yang saya tonton tahun ini.

Film ini menceritakan kisah nyata seorang artis bernama Rudy Ray Moore (Eddie Murphy), yang pada awalnya hanyalah bekerja di sebuah toko rekaman musik pada siang hari dan bekerja sebagai MC pada malam hari di sebuah bar. Ia selalu bermimpi bahwa dirinya ingin menjadi salah satu artis terkenal, meski usahanya selalu sia-sia.

Pada suatu hari, seorang gelandangan memasuki toko rekaman musiknya dan dirinya mengumbar banyak cerita-cerita, di mana salah satu cerita tersebut mengutarakan nama “Dolemite”. Terinspirasi, ia pun menggunakan nama tersebut sebagai nama panggungnya dan secara inisiatif mengambil panggung utama di bar tempat ia bekerja dan mulai melontarkan lelucon kasar, yang ditanggapi dengan sorak-poranda oleh para penonton. Sisanya adalah sejarah.

robinekariski-film-eddie-murphy-sebagai-ray-moore

Dolemite tidak hanyalah karakter yang menaikkan pamor Rudy Moore, namun juga kembali menghidupkan nama Eddie Murphy. Setelah sekian lamanya kita tidak mendengar dirinya, ia kembali dengan gayanya yang ekstentrik, leluconnya yang vulgar, dan kepribadiannya yang meledak-meledak saat memainkan Rudy Moore di Dolemite Is My Name.

Coba ingat kembali, kapan terakhir kalinya kita benar-benar menikmati film komedi Eddie Murphy? Filmnya yang muncul di memori saya adalah film seperti Beverly Hills Cop, Coming to America, ataupun Life dan semuanya itu adalah film sebelum tahun 2000. Dolemite Is My Name adalah seperti sebuah penebusan bagi Eddie, untuk mengingatkan kepada kita bahwa dirinya masih mampu membawakan karakter yang memang lucu dan menyenangkan untuk kita soraki.

Pertengahan film, kita pun juga mulai diperkenalkan oleh karakter pembantu yang juga menjadi pendorong cerita dan peningkat keseruan film ini. Seperti teman Ray di toko musik Theodore Toney (Tituss Burgess), teman dekat Jimmy Lynch (Mike Epps), penulis naskah Jerry Jones (Keegan-Michael Kay), dan penyanyi Ben Taylor (Craig Robinson). Setiap karakter di dalam film mampu membawakan lelucon dan keseruan yang dimiliki film ini.

robinekariski-film-da'vine-joy-randolph-sebagai-lady-reed

Namun bagi saya, ada dua karakter pembantu yang sering mencuri perhatian saya. Si aktor-kemudian-berubah-menjadi-sutradara D’Urville Martin (Wesley Snipes) dan penyanyi Lady Reed (Da’Vine Joy Randolph). Saat Ray sedang melakukan tur di negara-negara bagian Amerika, ia bertemu seorang wanita di sebuah bar yang ternyata adalah seorang penyanyi. Ia pun meyakinkan Lady Reed untuk mengikuti turnya, sehingga ia bisa menafkahi anaknya.

Memang film ini adalah jenis film yang membuat penonton bersemangat dan selalu bersenang-senang, namun tidak jarang juga film ini memiliki momen beratnya. Lady Reed adalah seorang ibu yang baru mengetahui kalau suaminya berselingkuh. Di saat salah satu momen paling rendahnya, ia bertemu dengan Ray, sang penyelamat. Harapan pun bangkit lagi di dalam dirinya. Ia juga akhirnya selalu semangat untuk mengikuti Ray dalam proyek apapun, yang akhirnya menjadi momen manis tersendiri.

Kemudian D’Urville Martin. Karakter yang berdasarkan tokoh nyata ini pada awalnya terkesan sombong. Saat Ray bertemu dengan D’Urville di sebuah klub tarian striptis dan mengajak untuk bermain film bersama, D’Urville mengatakan bahwa dirinya tidak sederajat dengan Ray, dan lanjut mengumbar fakta bahwa dirinya pernah tampil di filmnya Roman Polanski Rosemary’s Baby, meski dijawab balik oleh Ben bahwa dia hanya tampil sebagai operator lift di film tersebut.

robinekariski-film-wesley-snipes-sebagai-d'urville-martin

Ajakan Ray untuk tampil di film Dolemite — film yang dibintangi dan dibiayai oleh Ray sendiri — terus ditolak, ia pun akhirnya setuju saat Ray menawarkan posisi sutradara. Mungkin karena dirinya yang tidak terbiasa untuk berada di lokasi syuting yang low budget, dirinya kerap kesulitan untuk mengatur akting para pemain ataupun merekam suatu adegan. Ia juga sering tidak menyetujui arah jalannya cerita, yang sering memunculkan debat terhadap penulis Jerry dan produser-sekaligus-aktor Ray.

Tetapi itulah yang menjadi daya tarik karakternya. Dan juga menjadi daya tarik film ini sendiri. Saat di mana semuanya berusaha semampu mereka, meski mengetahui bahwa tidak memiliki duit ataupun peralatan yang mencukupi, untuk membuat satu film saja, film Dolemite. Kita melihat bagaimana setiap karakter bersenang-senang saat proses pembuatan, mulai dari membuat adegan balapan, tembak-tembakan, berantem, sampai adegan syur yang dilakoni Ray.

Dan pada akhirnya, Dolemite Is My Name adalah sebuah selebrasi atas tidak hanya sang tokoh utama Rudy Ray Moore, namun juga sebuah selebrasi atas kejayaan sebuah film blaxploitation yang dirilis pada tahun 1975 lalu, Dolemite. Dolemite Is My Name juga kembali mengangkat kembali nama aktor Eddie Murphy ke perbincangan banyak orang, dengan aktingnya yang memang sangat mudah untuk dipercayai namun juga sekaligus menyenangkan untuk diikuti.

Apakah film ini menjadi salah satu film terbaik tahun ini? Kamu bisa menilai sendiri film Dolemite Is My Name di layanan streaming Netflix.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s