Sebelum saya menulis pendapat saya mengenai permainan 2017 Nioh, saya ingin mengatakan terima kasih kepada PlayStation Plus yang memutuskan untuk menggratiskan permainan ini, karena kebanyakan permainan yang saya mainkan di PlayStation 4 adalah permainan gratis bulanan PS Plus.

Semenjak pertengahan bulan ini saya mencoba permainan produksi Team Ninja, sebuah perusahaan pembuat video game asal Jepang tersebut. Nioh adalah permainan action-RPG di mana pemain memainkan karakter bernama William yang harus menjelajahi Jepang sekaligus melawan bandit dan yokai — monster yang berasal dari legenda Jepang — dan di saat yang bersamaan harus mencari seorang pemegang ilmu hitam bernama Edward Kelley.

Jika kamu kenal saya, maka kamu mengetahui bahwa saya adalah penggemar berat Bloodborne. Saya tidak hanya mengagumi dunianya, namun juga cerita yang minimalis sekaligus padat, tingkat kesulitannya yang benar-benar menguras emosi, dan betapa indahnya dunia yang dijadikan latarnya tersebut.

Saya ingat saya pertama kali bermain Bloodborne sekitar satu atau dua tahun yang lalu. Itu adalah pertama kalinya saya mencoba permainan dari seri “Soulsborne“, sebuah istilah tidak resmi dari pemain dan jurnalis untuk seri Dark Souls dan Bloodborne (Keduanya dibuat oleh perusahaan yang sama, FromSoftware).

robinekariski-video-game-saat-pemain-berada-di-hunter-dream

Saat pertama mencobanya, saya ingat bahwa sangat sedikit tutorial yang diberikan oleh permainan. Alih-alih diberikan waktu untuk berlatih, saya diharuskan mati terlebih dahulu oleh musuh pertama saya demi mendapatkan senjata di Hunter’s Dream, sebuah dunia lain yang hanya bisa didatangi oleh saya dan beberapa pemburu terpilih saja.

Selesai menghabiskan waktu sebulan untuk benar-benar menyelesaikan Bloodborne dan meraih trophy platinum, Dark Souls: Remastered Edition pun dirilis. Tanpa tanggung-tanggung, langsung saya beli karena saya sangat menikmati permainan Bloodborne, meski mengetahui bahwa permainan ini juga akan menguras mental saya.

Lagi-lagi saya menghabiskan waktu sebulan penuh untuk mencapai trophy platinum untuk Dark Souls, di mana pada akhirnya saya bisa mengatakan bahwa permainan ini lebih sulit sedikit dari Bloodborne. Tidak lagi permainan ini mengandalkan kecepatan, namun mengandalkan kekuatan sekaligus penempatan waktu yang sangat sempurna untuk bisa mengeksekusi gerakan yang indah nan mematikan.

Tepat setelah menyelesaikan Dark Souls pertama saya, Sekiro: Shadows of Twice pun sudah tinggal beberapa bulan lagi. Ini adalah pada akhir 2018. Namun saya perlu beristirahat dari permainan seperti ini karena butuh konsentrasi yang luar biasa hanya untuk mengalahkan satu boss saja, dan kabar bahwa Sekiro akan lebih sulit dari permainan Soulsborne lainnya memantapkan niat saya untuk menunggu setahun sebelum membelinya.

robinekariski-video-game-nioh-menggunakan-jepang-sebagai-lokasi-berlangsungnya-cerita

Satu tahun lebih berlalu, dan saat November berjalan, PS Plus memutuskan untuk menggratiskan Nioh. Saya pun lagi-lagi mengurungkan niat saya untuk membeli Sekiro dan mencoba Nioh terlebih dahulu. Karena keduanya memiliki genre dan latar yang sama, saya selalu menganggap Nioh sebagai pemanasan sebelum Sekiro.

Nioh memang adalah permainan sejenis permainan dari Soulsborne, yaitu sama-sama permainan action-RPG dengan musuh yang tidak nanggung-nanggung susahnya, dengan setiap pertarungan melawan satu musuh saja memerlukan tingkat reflek dan ketangkasan yang cukup tinggi.

Setahun lebih tidak bermain permainan seperti itu, saya tentu merasa kaku saat pertama bermain Nioh. Apalagi dengan adanya tiga gaya menyerang saat menggunakan senjata, yang tentunya sangat asing untuk saya, Nioh seperti sebuah permainan yang mengambil beberapa elemen dari Soulsborne namun juga menambah beberapa mekanik gameplay yang baru dan tidak kalah serunya.

Ingin melancarkan serangan yang lebih kuat namun mengorbankan kecepatan? Gunakan High Stance. Atau ingin menyerang musuh secepat kilat dan dapat kabur secepatnya namun mengurangi damage yang dihasilkan dari tebasan pedang? Low Stance menjadi solusi. Sementara Mid Stance menjadi keseimbangan dari kedua gaya tersebut.

Saya ingat beberapa hari lalu saat harus berhadapan dengan salah satu boss, Umi-bozu. Iya, namanya mungkin asyik untuk dieja ataupun diucap, namun sejauh ini itu adalah musuh yang paling menguras emosi. Tidak hanya bentuknya yang buruk dan bergelambir, namun sekali serangannya dapat langsung menyia-nyiakan puluhan menit usaha saya karena darahnya yang luar biasa tebal.

robinekariski-video-game-william-saat-berhadapan-dengan-umi-bozu

Saya menghabiskan berjam-jam mencoba mencari cara bagaimana mengalahkan makhluk laut ini. Bahkan saya memutuskan untuk menghentikan waktu bermain saya dan melanjutkannya di kemudian hari karena ingat betapa jengkelnya saya terhadap musuh yang satu ini. “Bagaimana bisa saya kalah dengan makhluk yang tidak berbentuk dan jelek ini?” pikir saya sembari mematikan PS4.

Di saat frustasi itulah saya kepikiran dengan salah satu momen di mana saya sedang melawan salah satu boss di Bloodborne pada tahun lalu, yaitu Blood-starved Beast. Blood-starved Beast itu seperti boss ketiga atau keempat yang saya hadapi di Bloodborne, dan saya ingat saya memiliki perasaan yang sama menjengkelkannya saat melawan dirinya. Tidak satu, atau dua, namun tiga hari saya habiskan untuk melawan makhluk yang memutuskan untuk menembakkan racun dari tubuhnya di tengah pertarungan.

Selama dua hari tidur saya tidak nyenyak, setiap saya mematikan PS4 saya, saya mengetahui Blood-starved Beast menertawai saya dari balik gereja tempat ia bereda. Memasuki hari ketiga, saya memutuskan untuk mengganti rencana saya. Setelah melalui proses farming yang cukup panjang, saya mengganti senjata yang saya gunakan dan lagi mencoba peruntungan saya untuk menghadapi boss yang ternyata hanya bersifat optional tersebut.

Memang beberapa kali percobaan harus diakhiri dengan saya yang mati terlebih dahulu karena masih mencoba untuk melatih senjata baru saya, namun pada akhirnya saya berhasil. Saya berhasil mengalahkan satu monster yang berpotensi untuk mengakhiri niat saya untuk menyelesaikan Bloodborne.

Tangan masih gemetar, jantung masih berdebar dengan sangat kencang, mata terasa kering karena tidak kedip selama pertarungan berlangsung. Perasaan ini sekaligus perasaan lega yang datang menghampiri beberapa detik kemudian tidak pernah saya temui sebelumnya dalam sebuah permainan. Sensasi adrenalin yang secara harfiah naik sampai ubun-ubun kepala kemudian dapat melepasnya dengan cara melepaskan controller dari genggaman tangan, membaringkan badan kemudian berkata “Akhirnya”.

robinekariski-video-game-saat-pemain-melawan-blood-starved-beast-di-bloodborne

Perasaan ini kembali saya temui saat menghadapi Umi-bozu di Nioh. Setelah pusing menghabiskan waktu dan tenaga menghadapinya secara berulang-ulang sampai mual, saya mengikuti taktik lama saya dan mencoba untuk mengganti cara menyerang saya. Saya mengganti senjata saya, kemudian mencoba menaikkan level William sekaligus senjata untuk mempermudah pertarungan.

Setelah berjam-jam, saya pun berhasil menebas habis makhluk bergelambir asal laut tersebut. Tidak lagi nama Umi-bozu terpampang secara besar-besaran di bawah layar TV, tidak lagi sesosok makhluk buruk rupa berukuran besar dan berwarna hitam menghias layar kaca. Jantung masih berdebar kencang, tangan masih lumayan gemetar karena saya pun juga hampir mati pada detik-detik akhir pertarungan. Lalai sedikit, dan saya akan kalah.

Perasaan lega yang menghampiri setelah itulah perasaan yang saya rindukan dari Bloodborne maupun Dark Souls. Perasaan lega dan menenangkan, mengetahui saya baru saja menghadapi musuh yang luar biasa susahnya. Perasaan bahwa beban telah terangkat banyak dari bahu, meski saja perjalanan menuju tamat masih jauh. Apalagi jika sebuah trophy muncul di pojok layar yang mengatakan bahwa saya baru saja mengalahkan salah satu musuh tersulit yang ditawarkan permainan tersebut.

Saya belom menyelesaikan Nioh, karena satu atau dua boss saja sudah cukup bagi saya untuk sehari. Bahkan, satu hari saja tidak cukup untuk mengalahkan satu boss, seperti kasusnya Umi-bozu. Namun, bermain ini saya jadi teringat kembali mengapa saya sangat menyukai permainan dari seri Soulsborne, terutama Bloodborne.

Memang betul tingkat kesulitannya bukan untuk semua kalangan, namun sensasi yang didapatkannya mengetahui bahwa kamu berhasil melalui segala rintangan yang ditawarkan ketiga permainan tersebut tidak bisa kamu dapatkan dari permainan apapun, karena kamu menyadari bahwa semua itu dapat kamu lewati karena usaha dan kerja kerasmu sendiri.

Berbicara mengenai Bloodborne, bagi yang mengatakan Orphan of Kos adalah boss tersulit, kau seorang pecundang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s