Martin Scorsese. Siapa sih yang tidak kenal beliau? Entah mungkin dari filmnya yang khas mafia seperti Goodfellas atau Casino, atau kolaborasinya yang sangat sering dengan Robert De Niro di Taxi Driver atau Raging Bull, atau mungkin dari komentarnya perihal Marvel baru-baru ini, Martin Scorsese adalah salah satu nama terbesar di dunia perfilman.

27 November lalu ia kembali menggebrakkan dunia dengan film yang bisa saya katakan salah satu film terbaik dekade ini dan film terbaiknya Martin Scorsese. The Irishman, sebuah film yang diakusisi oleh layanan streaming raksasa Netflix karena anggarannya yang luar biasa besar dan studio film lainnya yang ragu untuk mengambilnya.

Apakah gila untuk menyebut ini sebagai film terbaiknya Martin Scorsese? Jika melihat film-film lampaunya, seperti The Wolf of Wall Street, The Aviator atau beberapa filmnya yang saya sebutkan di atas, semua film tersebut adalah film yang sangat-sangat bagus dengan kualitas yang sempurna dan pemainnya yang menakjubkan. Namun, The Irishman dapat melewati semua film tersebut dan memberikan pengalaman yang baru untuk saya.

Pengalaman apa yang saya maksud? Pengalaman apa yang dapat ditawarkan The Irishman yang tidak dimiliki film lain? Pengalaman untuk mengikuti kehidupan seseorang sembari mengenai berbagai macam tema sekaligus. Pertemanan, kesetiaan, keluarga, pengkhianatan, penyesalan, semua tema tersebut tercakup dengan sempurna di dalam film yang berdurasi selama 3 jam dan 29 menit ini.

robinekariski-film-the-irishman-memakan-biaya-sebesar-159-juta-us-dollar

Film epik ini tidak hanya dibuat oleh sutradara handal, namun juga dibintangi oleh pemain film yang tidak kalah legendarisnya dari Scorsese. Robert De Niro dan Joe Pesci, yang sudah berkolaborasi berkali-kali sebelumnya bersama Martin Scorsese tampil di The Irishman bersama dengan Al Pacino, yang menjadi impian para penggemar film karena ini adalah pertama kalinya Al Pacino berkolaborasi bersama Scorsese.

Menceritakan tentang apa sebenarnya film ini? The Irishman menceritakan seorang bernama Frank Sheeran (Robert De Niro), supir truk yang terlibat dengan organisasi kriminal yang diketuai Russell Bufalino (Joe Pesci), dan pada akhirnya bekerja di bawah Jimmy Hoffa (Al Pacino), seorang pemimpin serikat buruh Amerika Serikat.

Selama 209 menit kita melihat bagaimana Frank yang semulanya adalah seorang tentara, kemudian bekerja menjadi supir truk pengirim daging dan semakin lama memasuki dunia kriminal semakin dalam bersama dengan Russell. Sepanjang perjalanannya di dunia kriminal, ia juga bertemu dengan orang-orang berkuasa lainnya yang diperankan oleh pemain film veteran seperti Angelo Bruno (Harvey Keitel), Tony Pro (Stephen Graham), Felix DiTullio (Bobby Cannavale), dan Fat Tony (Domenick Lombardozzi).

Dengan menggunakan teknologi digital de-aging yang dapat mengubah wajah seorang aktor menjadi lebih muda, The Irishman dapat dengan percaya diri menceritakan kehidupan Frank berpuluh-puluh tahun sebelumnya dan secara langsung merubah wajah De Niro dan pemeran lainnya agar tampak lebih muda, dan hasilnya cukup menakjubkan. Jika saya tidak mengetahui bagaimana rupa De Niro yang sebenarnya, maka saya akan percaya bahwa wajah mudanya adalah wajah aslinya.

robinekariski-film-robert-de-niro-di-the-irishman

Robert De Niro, lama setelah kita tidak melihatnya bermain film yang benar-benar menarik kita ke dalam dunianya, kembali berkolaborasi bersama Scorsese setelah 24 tahun lamanya. Dirinya memang sudah tidak asing bermain di film berjenis yang sama, seperti Goodfellas atau Once Upon a Time in America, namun performanya di The Irishman adalah salah satu penampilan terbaiknya.

Entah saat dirinya memerankan Frank yang masih asing dengan dunia kriminal sampai dirinya yang selalu menjaga Jimmy setelah mengetahui seluk-beluk liciknya dunia kriminal, De Niro dapat dengan sempurna menunjukkan kemampuan berakting dalam memerankan karakter yang cukup kompleks ini, seseorang yang percaya bahwa aksi berbicara lebih keras daripada kata-kata. Pada pengujung film, De Niro dapat menutup cerita yang besar tersebut hanya dengan tatapannya. Tatapan yang kosong namun penuh makna dan kisah dibaliknya.

Kemudian ada Joe Pesci. Iya, Pesci yang sudah pensiun dari dunia akting semenjak film terakhirnya, Love Ranch pada tahun 2010, lagi tampil bersama kolaboratornya, De Niro dan Scorsese di mana mereka bertiga sudah sering membuat film bersama. Di sini, ia kembali memerankan karakter seorang mafia, yaitu Russell Bufalino.

Gabungkan De Niro dengan Pesci, maka kau akan mendapatkan sebuah mahakarya. Dengan lihainya, Pesci dapat memerankan Russell dengan tangan besi saat sedang memimpin organisasinya, namun juga dapat menunjukkan sisi rentannya saat melihat anak dari Frank karena dirinya tidak bisa memiliki anak bersama istrinya.

Scorsese, De Niro, dan Pesci adalah seperti bumbu yang sempurna untuk sebuah film mafia. Dan tidak hanya itu, film ini juga dibintangi oleh Al Pacino yang seperti mereka, ia juga tidak asing dengan film berjenis kriminal, sebut saja The Godfather atau Scarface di mana di kedua film tersebut ia menjadi seorang pemimpin organisasi kriminal yang tegas.

robinekariski-al-pacino-di-the-irishman

Tidak jauh berbeda dengan The Irishman, di mana karakter Hoffa adalah seorang pemimpin buruh serikat. Ia adalah seseorang yang sangat percaya diri, yang bahkan rasa percaya dirinya tersebut sering melibatkan dirinya ke masalah hukum maupun masalah dengan organisasi kriminal lainnya. Hoffa adalah karakter yang juga tidak jarang dapat melontarkan humor yang dapat meringankan beratnya film ini, menjadikan The Irishman sebuah film yang tidak membosankan, dan itu semua berkat bakat alami Al Pacino.

Melihat film The Irishman, maka film ini adalah seperti sebuah puisi. Dengan indahnya, Martin Scorsese membuat film ini berjalan dengan berirama dan meski durasinya yang sangat panjang, tidak ada momen yang membosankan dari setiap detik. Dan sama seperti sebuah puisi yang cantik, The Irishman memiliki temponya sendiri yang dapat menaikkan ataupun menurunkan tensi, sehingga film dapat berjalan tanpa tersendat-sendat sekalipun.

Sungguh gila jika dipikir. Bagaimana bisa setelah bertahun-tahun berkarier, ini adalah kolaborasi pertama Al Pacino dengan Martin Scorsese. Dan cukup sedih jika dipikir, apakah ini adalah kali terakhirnya kita melihat bagaimana keempat maestro tersebut melakukan sesuatu yang hanya bisa dilakukan keempatnya, yaitu membuat sebuah karya yang menyentuh, lucu, menggerakkan, dan menegangkan.

Mari saja kita berharap keempat individu yang jenius ini masih memiliki sesuatu yang bisa ditawarkan kepada kita pada waktu yang akan datang, karena merekalah yang dapat membangkitkan kembali sebuah genre film yang mungkin sudah lama mati, sebuah genre film yang dijamin akan sempurna jika memiliki salah satu dari keempat ini, genre mafia.

Salah satu film terbaik dekade ini sudah bisa kamu saksikan di Netflix.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s