Berbicara mengenai acara serial terbaik, tidak sedikit yang setuju bahwa adaptasi novel karya George R. R. Martin Game of Thrones adalah  tidak hanya serial terbaik dekade ini namun juga serial terbaik sepanjang masa. Selama tujuh musim berjalan, Game of Thrones menawarkan dunia fantasi yang mengingatkan saya dengan film The Lord of the Rings, yaitu sebuha dunia fantasi yang megah, besar, indah, epik dengan karakternya yang beragam dan cerita yang sangat menarik.

Namun masuk ke musim kedelapan dan semuanya hancur. Mungkin episode pertama masih terlihat menjanjikan, tetapi semakin lama kualitas setiap episode sangat terlihat semakin menurun dan meninggalkan penonton dengan rasa kekecewaan yang besar, termasuk saya sendiri.

Pertanyaan pun mulai terlontar dari mana-mana, “Apa yang membuat musim delapan Game of Thrones sangat buruk?”. Beberapa bulan sudah berlalu semenjak tayangnya musim delapan, mari lihat kembali dan membahas apa yang membuat musim delapan sangat buruk.

Alasan terbesar mengapa musim delapan gagal adalah cerita yang diburu-buru. Selama tujuh musim, Game of Thrones selalu membangun cerita yang selalu lebih besar dari episode sebelumnya, dan momentum yang dibawa dari setiap episode sangatlah besar sehingga sangat sulit untuk mencari sebuah penutup yang pas.

Dengan hanya berisikan 6 episode, musim kedelapan Game of Thrones berusaha untuk mencari momen yang pas untuk menutup seluruh kisah dunia fantasi tersebut, dan sangat disayangkan karena bisa dibilang sangat gagal. Tidak hanya 6 episode masih sangat kurang, namun juga banyaknya cerita di serial ini tidak mendapatkan akhir yang memuaskan.

robinekariski-tv-series-jon-snow-dan-daenerys-targaryen-di-musim-8-game-of-thrones

Alasan lainnya adalah pengembangan karakter yang entah bagaimana kacau balau. Banyak sekali karakter yang sudah terlihat menjanjikan di musim-musim sebelumnya dan seperti sudah memantapkan posisinya di serial ini. Memasuki musim delapan, semua karakter itu seperti berubah 180 derajat dari sebelumnya.

Contoh terbesar adalah Daenerys Targaryen (Emilia Clarke). Selama tujuh musim Daenerys, atau yang sering dipanggil Dany, digambarkan sebagai seorang pahlawan yang selalu berusaha untuk membebaskan kaum-kaum budak dari warga kaya raya. Kita pun juga sudah terbiasa melihat dirinya bertarung demi nama kebaikan dan berada di sisi baik bersama Jon Snow (Kit Harington).

Tetapi di musim kedelapan, semua sifat berubah drastis di mana kita melihat Dany dengan amarahnya membunuh seluruh penduduk sipil King’s Landing bersama naga kesayangannya Drogon. Hei, saya mengetahui Game of Thrones memang gemar untuk memutuskan sesuatu yang drastis secara tiba-tiba. Namun perubahan Dany yang secara tiba-tiba pada satu episode seperti membuat semua pengalaman menonton pada musim sebelumnya sia-sia.

Karakter lainnya yang mungkin termasuk mengecewakan di musim kedelapan adalah Jaime Lannister (Nikolaj Coster-Waldau). Musim sebelumnya kita melihat dirinya menyadari bahwa kakaknya, Cersei Lannister (Lena Headey) memihak di pihak yang salah. Ia pun lantas pergi meninggalkan kakaknya di akhir musim tujuh dan pergi menuju Winterfell, markas Jon Snow untuk melindungi benteng dari pasukannya Night King (Vladimir Furdik).

Namun setelah peperangan di Winterfell selesai, lagi-lagi ia balik ke Cersei. Inilah yang membuat penonton bingung. Saat musim tujuh selesai, kita dijanjikan bahwa Jaime akan berpindah pihak dan bertarung untuk pihak yang baik. Tetapi itu tidak terjadi, dan Jaime akhirnya mati bersama Cersei karena tertimpa bebatuan di bawah tanah. Kematiannya yang konyol kembali menunjukkan bahwa karakter Jaime dan Cersei tidak memiliki penutup yang baik ataupun terasa benar.

robinekariski-tv-series-jaime-lannister-di-musim-8-game-of-thrones

Berbicara masalah petarungan di Winterfell, saya jadi teringat episode ini memiliki banyak sekali masalah. Padahal episode ini menawarkan petarungan yang megah dan epik, namun keseruan yang dihasilkannya hilang karena betapa gelapnya episode ini. Saya hanya mendengar suara geram, pedang, dan teriakan dari tentara tanpa visual apapun karena sulitnya untuk melihat di kegelapan.

Tidak hanya isu teknis yang menjadi masalah, tetapi juga penutupnya. Petarungan Winterfell adalah petarungan antara pasukan Jon dengan pasukan mayat hidup Night King. Selama tujuh musim sebelumnya, Night King selalu digambarkan sebagai ancaman tersebar dunia Game of Thrones. Karakternya dibangun sebagai musuh terakhir dari serial yang epik ini.

Dan itu semua hilang saat petarungan Winterfell selesai. Ia mati tertikam oleh Arya Stark (Maisie Williams) yang entah bagaimana dapat menyelinap kerumunan pasukan Night King. Saya mengharapkan tujuh kerajaan bersatu dan melawan Night King secara bersama, tetapi apa yang saya dapatkan adalah petarungan yang tidak bisa dinikmati secara visual dan kematian salah satu tokoh penting dengan sangat tidak menarik.

Cerita yang buru-buru. Karakter yang terbuang sia-sia. Apakah itu saja yang membuat musim kedelapan Game of Thrones tidak bagus? Tidak. Mari berbicara mengenai antagonisnya.

Saat musim delapan dimulai, dua antagonis masih terlibat dalam cerita ini. Yaitu Cersei dan Night King. Dua antagonis ini sebenarnya tidak cukup untuk diceritakan hanya dalam 6 episode karena kedua karakter tersebut masih memiliki potensial yang sangat besar untuk cerita yang megah selanjutnya.

robinekariski-tv-series-night-king-di-musim-8-game-of-thrones

Tidak hanya kedua karakter itu memiliki akhir yang buruk, namun musim ini juga ditambah antagonis baru yang bernama Daenerys Targaryen. Ini memperkuat pernyataan saya bahwa 6 episode sangatlah tidak cukup untuk menutup kisah mereka. Dany sendiri adalah karakter yang sangat fantastis dan ceritanya sendiri pantas untuk mendapatkan musim baru agar ceritanya dapat diceritakan dengan jelas.

Untuk mengakhiri tiga antagonis dalam 6 episode masih sangat kurang. Terutama jika tiga antagonis tersebut adalah karakter yang pada musim sebelumnya memiliki cerita yang luar biasa dan dijanjikan memerankan peran yang vital pada musim selanjutnya. Akhir dari ketiga karakter tersebut sangat tidak sepadan dengan cerita yang mereka miliki sebelumnya.

Jika sebelumnya saya mengatakan Game of Thrones adalah serial terbaik dekade ini, musim kedelapannya kembali mempertanyakan pernyataan saya tersebut. Musim kedelapannya sangat buruk saya tidak bisa mengatakan itu adalah serial terbaik tahun ini. Apa serial terbaik tahun ini? Chernobyl, yang sama-sama ditayangkan di HBO.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s