42 tahun. Itulah umur dari salah satu franchise terbesar di dunia, Star Wars. Semua dimulai dari film yang dirilis pada tahun 1977, Star Wars atau yang sekarang lebih dikenal dengan Star Wars: Episode IV – A New Hope. Selama 42 tahun itu juga franchise ini telah melahirkan tiga trilogy, dengan trilogy terakhirnya bermula dengan Star Wars: The Force Awakens pada 2015 dan berakhir dengan Star Wars: The Rise of Skywalker pada akhir 2019.

Setelah membawa kisah dan karakter yang sangat kuat pada dua film sebelumnya, semua itu bertumpu pada The Rise of Skywalker untuk menutupnya. Memang jika harus menutup dari cerita seperti The Force Awakens ataupun The Last Jedi memang cukup sulit dan inilah yang menjadi kesulitan The Rise of Skywalker, yaitu bagaimana mencari cerita yang tepat, mencari sesuatu yang dapat menutup sebuah kisah yang sangat legendaris.

Setelah cerita yang sangat emosional di The Last Jedi, The Rise of Skywalker melanjutkan perlawanan Resistance terhadap Kylo Ren (Adam Driver) dan First Order, yang juga telah dibantu oleh Palpatine (Ian McDiarmid), antagonis utama Star Wars berpuluh-puluh tahun yang lalu. Semua harapan bertumpu dengan Rey (Daisy Ridley) untuk menghentikan First Order dan membawa kembali kedamaian di luar angkasa.

The dead speak!” Itulah teks pembuka The Rise of Skywalker, sebuah pernyataan yang ironisnya juga sebuah peringatan kepada penonton bahwa film ini hanyalah film-film Star Wars sebelumnya yang didaur ulang dengan karakter yang berbeda. Siapakah “the dead” yang dimaksud? Palpatine.

Tidak memahami bagaimana karakter yang seharusnya sudah mati berpuluh-puluh tahun yang lalu, J. J. Abrams selaku penulis dan sutradara dengan beraninya membawa kembali karakter yang sebenarnya sangat tidak cocok dimasukkan. Bagaimana dia bisa tidak mati? Darimana dia bisa tiba-tiba sudah mengendalikan armada raksasa yang diberikan nama Final Order? Apa sebenarnya tujuan dia di film ini? Semua itu terasa tidak logis karena memang membingungkan untuk memasukkan Palpatine.

Tidak hanya peran Palpatine dan Final Order yang mengganggu saya selama menonton, namun juga bagaimana film ini seperti mengabaikan semuanya yang terjadi di The Last Jedi. Saya tidak merasakan adanya koneksi, baik dari segi cerita maupun emosional, antara kedua film ini. The Last Jedi mungkin saja adalah salah satu film Star Wars yang paling saya sukai, dengan temanya yang berat dan ceritanya yang emosional. Namun The Rise of Skywalker terasa sangat asing dengan The Last Jedi. Entah bagaimana, saya merasakan kedua itu seperti dua film yang sangat berbeda dengan latar dan karakter yang sama.

Apakah film ini tidak masuk akal? Sangat. Apakah film ini terkesan seperti tidak menghargai The Last Jedi karya Rian Johnson? Terlihat seperti itu. Tetapi dengan segala kekurangan itu, saya tetap menikmati The Rise of Skywalker. Saya tetap merasakan semangat, senang, sekaligus tegang saat menghabiskan dua jam saya dengan film ini.

Ceritanya memang tidak logis, tetapi bagaimana setiap aktor dan aktrisnya berusaha dengan maksimal untuk tetap membuat film ini menyenangkan adalah sesuatu yang saya sukai. Bagaimana Rey dengan segala keambiguannya berusaha untuk melawan Palpatine, bagaimana Kylo Ren yang masih berada di antara baik dan jahat, bagaimana Finn (John Boyega) dan Poe (Oscar Isaac) menjadi duo yang menyenangkan sekaligus pemberi humor ke dalam film.

Hubungan antara Rey dan Kylo menjadi satu hal yang menonjol dari film ini, dan jujur saja saya menyukainya. Keduanya, berusaha untuk melakukan apa yang terbaik menurut mereka, semakin lama terasa bahwa apa yang mereka lakukan sia-sia. Rey yang menyadari bahwa semua yang telah ia lakukan dapat sia-sia, begitu juga dengan Kylo yang semakin lama menyadari bahwa mungkin saja ia dapat berpihak ke sisi baik. Baik Daisy Ridley maupun Adam Driver memerankan kedua karakter tersebut dengan sangat maksimal dan hasilnya adalah dua karakter yang akan masuk sejarah sebagai salah dua karakter terbaik di Star Wars.

Tidak hanya setiap pemerannya melakukan semaksimal mereka untuk tetap membuat film ini layak masuk dunia Star Wars, namun juga keseruan dari setiap aksi dari film ini tetaplah sangat seru. Entah Rey yang berduel dengan Kylo maupun perlawanan epik antara Resistance dengan Final Order pada akhir film yang mungkin saja terasa mustahil maupun tidak logis, tetapi tetap saja menyenangkan dan seru untuk disaksikan.

Mungkin saja J. J. Abrams ingin menangkap sensasi nostalgia kepada penonton di The Rise of Skywalker dengan membawa karakter lama seperti Palpatine dan Lando (Billy Dee Williams) ataupun ingin memberikan kepada para penggemar apa yang mereka inginkan, tetapi hasilnya adalah sebuah film yang tidak menghargai cerita yang telah dibangun pada film sebelumnya.

Saya masih ingin mengetahui banyak sekali. Siapakah Poe sebelum bergabung dengan Resistance? Bagaimana Palpatine bisa kembali hidup? Apa sebenarnya Snoke? Cerita yang disuguhkan The Rise of Skywalker terlihat terlalu terburu-buru sehingga masih banyak hal yang terlihat penting namun tertinggal begitu saja sehingga terkesan tidak penting. Andai saja cerita yang dimilikinya dibuatkan 2 atau 3 film lagi untuk memperjelas semuanya dengan selengkap-lengkapnya, mungkin saya akan lebih paham dan lebih menyukainya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s