1917 adalah sebuah film yang membuka tahun 2020 dengan sangat menjanjikan. Akhir Januari lalu, film ini dirilis di seluruh bioskop di Indonesia, meski sebenarnya film ini sudah tayang lebih dahulu di luar negeri pada akhir 2019. Ini adalah film perang terbaik yang saya tonton semenjak Dunkirk pada 2017, yang juga sama-sama menceritakan mengenai tentara Inggris yang harus berperang melawan pihak Jerman.

Menurut saya Dunkirk masih lebih “bagus” dari 1917, namun bukan berarti 1917 adalah film yang buruk. Tidak sama sekali, justru ini mungkin saja adalah film perang paling ambisius yang pernah dibuat. Yang jelas ini adalah film paling ambisius yang pernah dibuat oleh sutradara Sam Mendes dan sinematografer Roger Deakins. Ini adalah sebuah film tidak pernah berhenti dalam menjalankan ceritanya karena dibuat sedemikian rupa untuk terlihat seperti sebuah film yang diambil pada “one-shot“.

Teknik tersebut membantu menceritakan cerita kedua tentara yang menjadi pemeran utama di film ini, Kopral William Schofield (George MacKay) dan Kopral Tom Blake (Dean-Charles Chapman) yang ditugaskan oleh Jenderal mereka untuk mengirimkan sebuah surat berisi perintah untuk menghentikan penyerangan kepada salah satu batalion pasukan Inggris, karena mundurnya pasukan Jerman hanyalah sebuah strategi untuk memperangkap pasukan Inggris.

Baik Schofield — atau yang sering dipanggil “Scho” –, dan Blake mengetahui betapa pentingnya misi mereka, karena nyawa sebanyak 1600 sedang dipertaruhkan saat itu. Jika gagal dalam mengirimkan surat perintah tersebut, maka 1600 nyawa akan melayang dalam pembantaian. Dan dimulailah film ini, dengan kedua kopralt tersebut bersiap untuk memasuki daerah musuh guna mencapai daerah Écoust, di mana regu batalion yang hendak mereka peringati berada. Yang lebih membuat misi tersebut lebih penting adalah faktanya bahwa kakak dari Blake berada di regu batalion tersebut.

robinekariski-film-1917-terinspirasi-dari-kisah-kakek-sang-sutradara-sam-mendes

Ini memanglah film perang, namun ini juga adalah film thriller. Ketegangan yang saya rasakan saat menonton sangatlah nyata, dan ini lebih menceritakan mengenai psikologi seorang tentara daripada perang tersebut. Dan ketegangan itu dapat melekat pada saya selama dua jam karena film ini terasa seperti satu adegan saja. Dari awal hingga akhir, adegan pertama terus berjalan tanpa adanya potongan atau “cut“, sehingga cerita berjalan sangat mulus, ketegangan tetap ada, dan cerita tetap terceritakan tanpa adanya gangguan.

Apa yang membuat film ini terasa begitu bagus adalah pada sisi teknisnya. Baik Sam Mendes maupun Roger Deakins mampu seolah-olah membuat film ini dibuat dalam “one-shot“, sesuatu yang mungkin sangat jarang saya lihat. Mungkin teknik ini terakhir kali saya lihat adalah pada film Birdman yang dirilis pada 2014. Teknik ini juga digunakan pada video game yang dirilis pada 2018, God of War.

Film dibuka dengan kedua karakter utama kita sedang tertidur pulas di bawah pohon besar, dengan latar belakang ladang yang sangat luas. Kemudian kita mengikuti gerakan, langkah demi langkah, saat mereka dipanggil menghadap Jenderal mereka. Kemudian lagi kita mengikuti mereka, langkah demi langkah, saat mereka menyusuri parit yang sangat ramai dipenuhi oleh tentara Inggris. Dan setelah itu, tanpa henti, kita masih mengikuti mereka saat mereka menyusuri luasnya medan perang, melewati setumpuk mayat manusia dan kuda, melewati pagar kawat berduri.

robinekariski-film-tom-holland-sempat-dijadikan-pilihan-untuk-memainkan-kopral-tom-blake

Semua itu dilakukan seolah-olah diambil hanya dalam “one-shot“. Medang perang, terowongan, parit, kota kosong, dengan piawainya Sam Mendes membawa kita secara langsung ke dunianya, di mana kita seolah-olah memang sedang mengikuti Scho dan Blake dalam menjalankan misi “hidup-atau-mati” di tengah-tengah ganasnya perang di tengah indahnya Prancis.

Roger Deakins memang adalah salah satu sinematografer terbaik saat ini. Lihat saja film-film sebelumnya seperti Skyfall, Sicario dan Blade Runner 2049. Ia dapat mengubah sebuah film, tidak peduli film apapun itu, menjadi film yang sangat indah dan cantik. Begitu juga dengan 1917. Meskipun harus mengambil seluruh adegan tanpa henti, ia masih tetap dapat membuat setiap detik dari film ini menjadi sebuah gambar yang mempesona.

Satu adegan yang sebenarnya membuat saya terkagum-kagum, yaitu saat di mana Scho sedang berada di tengah kota Écoust pada malam hari. Gelapnya kota tersebut dengan indahnya diterangi oleh cahaya dari suar yang ditembakkan membintangi langit serta diterangi oleh besarnya api yang sedang melahap sebuah bangunan. Adegan tersebut sangatlah luar biasa, karena Roger Deakins mampu membuat adegan tersebut dan membuatnya dalam “one-shot” saja sehingga adegan tersebut benar-benar hidup dalam film ini.

robinekariski-film-para-aktor-berlatih-selama-6-bulan-sebelum-memulai-syuting

Tidak hanya sinematografinya yang sangat cantik, namun hal lain yang membuat film ini sangat hidup adalah karena film ini diambil seolah-olah dalam “one-shot” saja, sehingga kisah yang diceritakan tidak pernah tersendat-sendat. Dari awal hingga akhir film kita terus-menerus dapat dengan jelas mengikuti pergerakan Scho dalam menjalankan misinya. Tidak ada adegan yang baik, tidak ada adegan yang buruk, karena seluruh film ini adalah satu adegan dan 1917 dapat membawa kita dari awal hingga akhir tanpa hambatan sekalipun.

Dari segi teknis, film ini memanglah juara. Namun aktor George MacKay dan Dean-Charles Chapman juga tidak kalah bagus dalam menampilkan dua karakter yang sangat bersusah-payah melewati beratnya medan perang. Keduanya menunjukkan betapa bengisnya, ganasnya, dan sadisnya sebuah peperangan tersebut. Tidak hanya mereka, namun juga aktor-aktor veteran lainnya seperti Mark Strong (Kingsman: The Secret Service), Colin Firth (The King’s Speech), dan Benedict Cumberbatch (The Imitation Game) juga — meski hanya sesaat — mampu memberikan penampilan yang meyakinkan dan menjadi karakter-karakter yang penting di dalam film.

1917 mungkin saja akan masuk ke dalam daftar 10 film terbaik saya tahun 2020. Dari segi teknis, ini adalah sebuah film yang berhasil memiliki sebuah pencapaian yang baru. Brutal, intens, namun juga dibuat dengan indah dan menakjubkan, 1917 adalah film perang yang sangat berbeda dari film-film sebelumnya, dan kembali menunjukkan bahwa Sam Mendes dan Roger Deakins adalah pembuat film yang sangat ahli.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s