Little Women adalah adaptasi terbaru dari sebuah novel karya Louisa May Alcott pada tahun 1968 dengan nama yang sama. Novel tersebut sudah diadaptasi sebanyak tujuh kali, dengan adaptasi terbarunya dibuat oleh Greta Gerwig yang dirilis di Indonesia pada awal Februari. Mungkin sebenarnya cukup sulit untuk membuat ulang sebuah karya yang sudah dibuat sebanyak tujuh kali, namun film karya Greta Gerwig ini terasa sangatlah menyenangkan sekaligus menghangatkan.

Little Women menceritakan mengenai keempat saudari March yang hidup saat dan setelah perang saudara Amerika Serikat. Keempat saudari ini terdiri dari Jo (Saoirse Ronan), Meg (Emma Watson), Amy (Florence Pugh), dan Beth (Eliza Scanlen). Jo memiliki bakat menulis cerita novel dan sedang berada di New York. Meg menikahi seorang guru dan tinggal di rumah sederhana bersama dua anaknya. Amy melatih kemampuan melukisnya di Paris bersama Bibi March (Meryl Streep) dan Beth tinggal bersama ibunya Marmee (Laura Dern) di rumah keluarga mereka.

Apa yang saya perhatikan saat film berjalan adalah bagaimana sebenarnya cerita film ini dibagi menjadi 2 waktu. Saat beberapa menit saat menonton, saya menyadari bahwa kisah karakter yang sedang diceritakan berbeda. 2 waktu yang saya maksud adalah saat cerita ini berjalan pada tahun 1868, dan yang satu lagi pada tahun 1681 atau 7 tahun sebelumnya. Mungkin saja bagi yang tidak terlalu memerhatikannya akan sangat mudah untuk bingung dengan waktunya, namun sebenarnya tidaklah sulit untuk membedakan yang mana yang 1868 dan yang mana yang 1868.

Apa yang membuat Little Women menarik adalah setiap saudari March tersebut karena setiap saudari memiliki sifat yang berbeda dari yang lainnya. Jo adalah saudari yang paling “lelaki”, yang bahkan pernah disebut sebagai saudara. Ia ingin ikut perang bersama ayahnya, dan harus selalu dilarang oleh keluarganya. Meg adalah saudari yang paling dewasa dari keempatnya, dan selalu merenung karena keluarganya yang tidak terlalu kaya. Amy adalah saudari yang paling centil, yang selalu ingin bersenang-senang. Dan Beth, meskipun yang paling pendiam, namun dirinya lah yang paling baik dan paling tulus dari keempatnya. Dan ia juga pandai bermain musik.

robinekariski-film-emma-watson-menggantikan-emma-stone-dalam-memerankan-meg-di-little-women

Di saat keempatnya berkumpul adalah saat-saat terbaik Little Women karena kita dapat melihat bagaimana keempat saudari saling berinteraksi dengan sifatnya masing-masing. Mereka saling mendukung dan menghibur satu sama lain, dan tidak jarang juga saling mengejek yang terkadang berakibat bermusuhan sementara. Interaksi yang dilakukan keempatnya terasa seru dan memang murni menyenangkan. Melihat Jo membuatkan naskah drama yang dimainkan oleh keempatnya di loteng rumah adalah satu dari sekian banyak momen menyenangkan yang dimiliki film ini.

Namun tentu saja kehidupan anak muda tidak lengkap kalau tidak dilanda dengan drama dan kegalauan, dan itu tidak berbeda dengan keempat saudari March. Kehidupan mereka terasa meriah saat anak muda dari tetangga mereka, Laurie (Timothée Chalamet) ikut ke dalam perkumpulan keempat saudari ini dan memulai pertemanan mereka. Tetapi ternyata terjadi kegalauan untuk Laurie, karena selama ini rupanya ia memendam perasaan kepada Jo, sesuatu yang bahkan tidak pernah dirasakan oleh Jo sendiri.

Di sinilah di mana karakter Jo March bersinar. Dimainkan dengan andal oleh Saoirse Ronan — yang juga menjadi kolaborasi kedua dengan sutradara Greta Gerwig — karakter Jo mungkin saja adalah karakter yang paling kompleks dari keempat saudari tersebut. Ia memiliki sifat pemberontak di dalamnya, ia adalah seseorang yang sangat menyukai kebebasannya dan bahkan sempat mengatakan kalau dirinya tidak ingin menikah karena ia terlalu menyukai kebebasan yang dimilikinya, sesuatu yang tidak dimiliki oleh banyak kaum wanita pada masa itu.

Pernikahan juga menjadi salah satu topik yang cukup panas dalam Little Women. Meg menikahi seorang guru bernama John Brooke (James Norton), dan meski mengetahui bahwa keuangan mereka tidak terlalu banyak, namun Meg mencintainya dan rela untuk hidup sederhana demi hidup dengan orang yang memang ia cintai. Berbeda dengan Amy yang melihat pernikahan sebagai strategi ekonomi, karena ia berpikir bahwa wanita akan bergantung dengan prianya. Bahkan ia mengatakan bahwa jika memiliki anak, maka anak tersebut akan menjadi properti untuk suaminya.

robinekariski-film-salah-satu-pidato-amy-mengenai-pernikahan-di-little-women-disarankan-oleh-meryl-streep

Greta Gerwig dengan pintarnya menyinggung suatu topik yang bahkan masih menggema sampai saat ini, yaitu peran wanita. Kebebasan wanita adalah topik yang paling utama dalam film yang berdurasi 135 menit ini. Saoirse tidak ingin menikah, Meg rela menikah karena memang mencintai prianya, dan Amy memandang pernikahan sebagai strategi untuk masa depannya. Mungkin saya tidak bisa merasakan perasaan itu secara langsung karena saya bukan wanita, tetapi saat melihat film ini saya jadi berpikir seperti apa peran wanita di dunia modern ini. Apakah kesetaraan jenis kelamin memang sudah merata? Apakah wanita memang bisa hidup dengan bebas di zaman yang sudah maju ini?

Tetapi meski pernikahan tersebut memang terasa berat untuk wanita di Little Women, namun semuanya tabah untuk menerimanya. Semuanya terlihat berusaha untuk selalu positif di segala situasi, selalu berusaha untuk mencari cara untuk mencari kesenangan di buruknya hidup. Dan energi positif yang mereka berikan memang sangat terasa di film ini, menjadikan Little Women sebagai film yang tidak hanya manis, namun juga menyentuh sekaligus menyenangkan.

Semua keseruan itu tidak lepas dari setiap aktrisnya yang dapat memancarkan semangat muda untuk setiap karakternya, begitu juga dengan sutradara Greta Gerwig yang dapat mengarahkan alur film dengan halus meskipun harus memaju-mundurkan waktu setiap saat. Tidak ada momen yang terasa kaku ataupun kikuk, dan ini menjadikan pengalaman menonton Little Women sebuah pengalaman yang sangat baik. Tentu saja saya juga akan mengharapkan kolaborasi selanjutnya dari Saoirse Ronan dan Greta Gerwig karena saya sangat menyukai Lady Bird.

Komentar terakhir yang ingin saya berikan terhadap film ini adalah bagaimana anehnya melihat Florence Pugh memainkan karakter yang sangat ceria, bersemangat dan selalu optimis. Perasaan aneh ini tentu datang karena film Florence terakhir yang saya lihat adalah Midsommar, dan kedua karakter yang dimainkan Florence terasa sangatlah berbeda. Ini menandakan kalau Florence Pugh adalah aktris yang cukup berbakat, dan saya juga tidak sabar melihat peran apa yang selanjutnya akan ia ambil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s