Margot Robbie, Margot Robbie dan Margot Robbie. Jika ditanya apa yang paling saya sukai dari Birds of Prey (and the Fantabulous Emancipation of One Harley Quinn), maka tidak perlu diragukan kalau saya akan menjawab Harley Quinn dan energinya yang dibawa oleh Margot Robbie.

Birds or Prey adalah film kedelapan dari DC Extended Universe (DCEU) yang bukan lagi menceritakan seorang superhero, melainkan tangan kanan dari supervillain papan atas Joker, yaitu siapalagi kalau bukan kekasihnya Harley Quinn. Nah, apa yang menarik dari Birds of Prey adalah Harley Quinn putus dari Joker. Jadi pada dasarnya, ini adalah film mengenai seorang wanita yang baru saja putus dan mencari sebuah emansipasi atau sebuah kebebasan. Tidak, ini bukan film romantis.

Birds of Prey menceritakan bagaimana Harley Quinn — yang mungkin lebih menjadi antihero ketimbang superhero — terlibat dalam pemburuan sebuah berlian dari saingannya sekaligus musuh di film ini, Roman Sionis (Ewan McGregor) atau yang penggemar buku komik lebih mengenalnya sebagai Black Mask.

Ini adalah film yang menyenangkan dengan semangat yang pas, tetapi tidak terlalu berjalan mulus selama 109 menit. Ada momen-momen di mana cerita terasa melambat dan energi yang sebelumnya meledak-ledak terasa memudar. Dan ini sebenarnya sangat disayangkan, karena saya sungguh menikmati beberapa momen yang ada di dalam film.

robinekariski-film-sebelum-ewan-mcgegor-sharlto-copley-dan-sam-rockwell-dipertimbangkan-untuk-memainkan-black-mask

Sebetulnya momen terbaik dari Birds of Prey adalah pada saat menit-menit pembukaan film dan saat adegan terakhir di mana semua karakter berkumpul dan menunjukkan aksi-aksi yang heboh dan cepat. Saya tidak ingin membicarakan adegan terakhir karena takut untuk memberikan spoiler, namun dengan senang hati membicarakan adegan pembukanya.

Birds of Prey dibuka dengan animasi yang menjelaskan bagaimana Harley Quinn bertemu dengan Joker dan jatuh cinta padanya. Kemudian kita melihat adegan selanjutnya di mana Harley Quinn dicampakkan oleh Joker (Karakter yang tidak diperlihatkan di film), dan akhirnya ia mencari kebebasan dari perihnya patah hati dengan meledakkan tempat favorit mereka berdua, Ace Chemicals. Dan misi Harley untuk mencari emansipasi pun dimulai.

Dari sini kita sudah bisa melihat sisi Harley yang tidak sempat kita lihat pada film sebelumnya, Suicide Squad. Sisi yang meledak-ledak, sisi yang tidak kalah gilanya dengan Joker. Waktu Margot Robbie untuk memerankan Harley di Suicide Squad harus terbagi dengan karakter lainnya, namun di Birds of Prey dia diberikan semua kesempatan untuk benar-benar menampilkan energi yang dimilikinya, dan ini tidaklah mengecewakan.

Apa yang mungkin membuat karakter Harley Quinn sangat meledak-ledak di film ini adalah bagaimana Birds of Prey memutuskan untuk membuat film ini rated R, sehingga tidak lagi ada batasan-batasan untuk keliaran Harley. Dan juga, ini adalah film pertama yang mengusung rated R pada DCEU yang juga sekaligus membuka kesempatan untuk film-film selanjutnya memiliki rating yang sama.

Dan aksi-aksi berkelahi di Birds of Prey juga memang seru untuk dilihat karena berjalan dengan cepat sekaligus halus yang memberikan kesan yang indah untuk diperlihatkan. Meski tidak sebagus, namun beberapa aksi di film ini mengingatkan saya dengan beberapa aksi di film-film John Wick. Mungkin ini dikarenakan Cathy Yan selaku sutradara dibantu dengan 87Eleven, studio action design yang ditemukan oleh sutradara John Wick itu sendiri, Chad Stahelski. Itulah yang mengakibatkan setiap aksi di Birds of Prey terasa sangatlah “meremukkan-tulang” dan mulus. Apalagi karena film ini adalah rated R, sehinnga bebas untuk mengeluarkan setiap atraksi yang dimiliki setiap karakter.

robinekariski-film-saat-produksi-film-ini-diberi-nama-fox-force-five

Tidak hanya karakter Harley Quinn yang seru, karakter Roman Sionis adalah antagonis yang dapat mengimbangi hebohnya sifat Harley karena Roman sendiri juga adalah penjahat yang flamboyan. Ia gemar mengenakan pakaian yang mencolok, sering menata rambutnya hingga rapi, dan bahkan terkadang mengenakan makeup saat berada di klub malam miliknya. Jadi saat film sedang berganti menceritakan Roman, alur film tidak terasa lambat karena karakternya memang heboh dan tetap terasa menegangkan karena karakternya yang sadis.

Selain Harley dan Roman, karakter lainnya entah mengapa tidak terasa sebaik kedua karakter itu. Saat film sedang tidak menceritakan mereka berdua, semangat film seperti menurun dan energi film terasa memudar. Bisa jadi ini karena karakter lainnya tidak memanfaatkan keluasan yang diberikan mereka seperti Harley dan Roman yang memang betul-betul memanfaatkan rated R yang dimiliki film ini. Selain hanya sering meneriakkan kata “fuck” terus-menerus, tidak ada tingkah laku yang terlalu menarik perhatian.

Mungkin karakter lainnya yang saya sukai selain Harley dan Roman adalah Huntress (Mary Elizabeth Winstead). Ia adalah karakter yang paling keren di fillm, dengan senjatanya yang sebuah crossbow, mengenakan pakaian serba hitam dan menggunakan motor besar. Bahkan namanya pun terdengar badass, Huntress. Sikapnya yang kaku juga sering mengundang momen-momen komedi pada film, memberikan karakternya sesuatu yang selalu menyenangkan untuk ditonton.

Birds of Prey, sama seperti Deadpool, adalah film antihero yang mendapati rated R sehingga dapat memberikan segala kebebasan untuk tokoh utamanya. Untungnya karakter utama kita, Harley Quinn, dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menunjukkan segala keliaran yang jarang dimiliki tokoh utama pada film superhero lainnya. Sayangnya, karakter lainnya tidak bisa mengimbangi energi Harley sehingga film dapat dengan mudah terasa melamban dan terkadang membosankan. Apakah emansipasi yang dicari Harley memang tercapai? Mungkin saja iya, mungkin saja tidak, tergantung dari sisi apa para penonton melihatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s