Melihat iklan The Gentlemen, saya langsung teringat dua film buatan Guy Ritchie pada tahun 1998 dan 2000, yaitu Lock, Stock and Two Smoking Barrels dan Snatch. Film mengenai kriminal di Inggris yang juga ditaburi unsur komedi dan kumpulan karakter unik. Bedanya? The Gentlemen, meski cukup menghibur, namun tidak bisa menyentuh keseruan yang dimiliki dua film yang saya sebut sebelumnya.

Sebenarnya saya masih tidak terlalu mengetahui di mana letak kesalahan Guy Ritchie dalam membuat film ini karena sebenarnya film ini memiliki bahan yang sudah sangat pantas untuk membuat resep yang sempurna untuk sebuah film yang menarik. Cerita yang padat dan cepat, pemain film yang ternama, komedi yang sudah menjadi ciri khas Ritchie. Sungguh, saya ingin menyukai film ini seperti saya menyukai Lock, Stock ataupun Snatch. Namun tidak bisa, ada sesuatu yang tidak pas.

Mungkin keganjalan terbesar saya untuk menyukai film ini sepenuhnya terletak pada pembukaan filmnya. Dimulai dari adegan pembukaan sampai animasinya, semua terasa sangat canggung. Animasinya, yang memperlihatkan nama-nama pemain dan gambar di belakangnya lewat kepulan asap, terasa sangatlah kuno dan buruk. Beberapa menit awal saya tidak menyukainya. Bahkan saat awal di mana Fletcher (Hugh Grant) mencoba menceritakan kisahnya ke Raymond (Charlie Hunnam), semua itu terasa membingungkan dan melempar saya dari keseruan yang sudah saya tunggu-tunggu sebelumnya. Dan mungkin ini yang membuat keseruan saya saat menonton berkurang.

robinekariski-film-judul-film-sebelumnya-adalah-toff-guys-dan-bush

Dibintangi dengan nama-nama papan atas seperti Matthew McConaughey (Interstellar), Henry Golding (Crazy Rich Asians), Michelle Dockery (Godless), Eddie Marsan (Ray Donovan) dan Colin Farrell (The Lobster), The Gentlemen menceritakan seorang Amerika pemilik ladang ganja di Inggris bernama Mickey Pearson (McConaughey) yang berniat menjual bisnisnya karena ingin pensiun. Saat rencananya untuk pensiun terdengar di mana-mana, dimulailah rencana-rencana licik oleh para pesaingnya untuk mengambil alih salah satu bisnis paling menguntungkan tersebut.

Mengingat film ini dibuat oleh Guy Ritchie, tentu saja film ini mengandung unsur kekerasan sekaligus unsur komedi. Semua karakter, meski terlihat garang dan ganas, memiliki momen komedinya tersendiri, yang terkandang unsur lucunya terdapat di adegan yang cukup sadis.  Setelah melewati beberapa menit pertama, cerita baru berjalan cukup mulus dan saya baru bisa mulai merasakan keseruan film. Entah karakternya yang konyol, cerita yang berjalan begitu cepat, hingga percakapan yang terasa sangat komikal, The Gentlemen masih mampu untuk membawa ceritanya sepanjang 2 jam cukup menghibur.

Mungkin saja bagi yang belum pernah menonton film-film buatan Ritchie dapat menganggap film ini terlalu kacau atau terlalu berantakan karena ceritanya yang lompat ke sana kemari dan berjalan cukup cepat. Namun jika menonton Lock, Stock atau Snatch, memang itulah ciri khas filmnya. Diperlukan pemanasan terlebih dahulu di awal film untuk benar-benar memasuki ceritanya. Dan pemanasan The Gentlemen di awal film gagal. Namun saat sudah berjalan di pertengahan barulah terasa segala keseruan yang dimiliki filmnya.

Meskipun cerita film ini berpusat pada karakter Mickey Pearson yang dimainkan oleh McConaughey, apa yang membuat film ini seru sebenarnya terletak pada karakter-karakter lainnya. Raymond, yang menjadi anak buah Mickey, meski terlihat gagah dan mematikan, rupanya adalah seorang OCD (Obsessive compulsive disorder). Ia tidak tahan jika melihat orang lain menggunakan sepatu di dalam rumah. Ia juga tidak senang jika ada yang merokok di dalam rumah, sehingga akhirnya menyerah dan mengajak Fletcher untuk berbincang di halaman rumah mereka.

robinekariski-film-hugh-grant-adegannya-bersama-charlie-hunnam-memakan-waktu-5-hari

Begitu juga dengan lawan mainnya, Fletcher yang memiliki kepribadian sangat jauh berbeda dengan Raymond. Tingkah lakunya yang ekstentrik sering mengganggu lawan bicaranya, sehingga sering memancing tawa dan sebenarnya pertikaian keduanya cukup menghibur. Tidak hanya Fletcher dan Raymond, masih banyak karakter yang membantu menopang film yang mungkin dari segi cerita sendiri tidak terlalu menonjol. Seperti Coach (Colin Farrell) yang merupakan seorang pelatih petinju muda. Karena ulah konyol yang dilakukan oleh anak didiknya, akhirnya ia harus bekerja untuk Raymond.

Segi cerita sendiri tidak terlalu menonjol. Memang betul. Sebenarnya jika ditonton secara seksama dan memerhatikan segi cerita yang dimiliki, film ini kurang baru. Kurang segar. Meski cerita film sering diputar ke sana kemari, tidak ada sesuatu yang benar-benar membuat saya terkejut, dan lumayan disayangkan mengingat film ini sudah memiliki karakter yang lebih dari mampu untuk membawakan cerita yang rumit. Cerita ini mungkin saja terlihat rumit, namun sebenarnya tidak ada yang memang benar-benar membuat penonton berpikir.

Film ini mungkin saja masih belum bisa menyentuh keseruan yang dimiliki film Lock, Stock atau Snatch meskipun sedemikian rupa mirip. Namun karakternya yang sangat seru dan humor film yang memang cukup menyenangkan, The Gentlemen masih menjadi film yang cukup menghibur meski saja ceritanya tidak terlalu baru dan pembukaannya yang cukup buruk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s