Sangat disayangkan bahwa Portrait of a Lady on Fire tidak ditayangkan di bioskop. Film asal Prancis ini adalah bukti terbaru bahwa sebuah film dapat menjadi sebuah karya seni yang memiliki seribu makna. Setiap penonton dapat menafsir film ini menjadi ide atau makna yang berbeda-beda, namun saya menangkap bahwa ini adalah sebuah film yang menceritakan mengenai sebuah cinta terlarang dan betapa sakitnya untuk mempertahankan cinta tersebut.

Apa yang membuat cinta di film ini terlarang? Keduanya adalah wanita. Pada akhir abad ke-18, seorang pelukis bernama Marianne (Noémie Merlant) tiba di sebuah pulau terpencil di dekat Prancis, di mana ia ditugaskan untuk melukis seorang wanita yang tinggal di pulau tersebut, Héloïse (Adèle Haenel). Héloïse adalah seseorang yang sangat sukar untuk diajak ramah tamah, dan ia tidak menyukai berpose untuk dilukis, sehingga ibunya (Valeria Golino) menyuruh Marianne untuk melukisnya secara diam-diam dan mengandalkan kemampuan observasinya untuk mengingat rupa Héloïse. Kita dapat mengetahui apa yang akan terjadi pada film ini, namun ketegangan yang dirasakan Marriane saat memerhatikan Héloïse secara diam-diam tetap menjadi momen yang mendebarkan.

Adalah Marianne di mana film ini berpusat. Kita tidak melihat Héloïse selama beberapa belas menit awal. Dan sekalinya kita melihat dia, kita melihat dirinya berlari menuju ujung tebing, berhenti, membalikkan badannya, memperlihatkan wajahnya untuk pertama kali ke Marianne dan berkata “Aku memimpikannya selama bertahun-tahun.” Dari sinilah tensi keduanya meningkat. Keduanya saling melihat, mencoba mencari tahu apa yang sedang dipikirkan oleh satunya, mengetahui bahwa nasib mereka akan saling berkaitan satu dengan yang lainnya.

Céline Sciamma, penulis sekaligus sutradara, tidak terburu-buru untuk menunjukkan sisi seksual dari keduanya. Dengan ceritanya, ia melaju perlahan namun pasti, mencoba untuk mengeksplorasi setiap sisi dari kedua karakter ini. Mulai dari saat Marianne menemani Héloïse berjalan menyusuri pantai hingga saat Marianne memainkan sebuah piano yang ditonton dengan seksama oleh Héloïse. Di saat itulah keduanya menyadari bahwa telah terjadi sesuatu dalam diri mereka, saat di mana Héloïse duduk di samping Marianne, menatap matanya dengan intens, sembari melihat permainan piano Marianne.

robinekariski-film-portrait-of-a-lady-on-fire-dibuat-menggunakan-8k

Menonton Portrait of a Lady on Fire, tentu saya jadi teringat film karya Paul Thomas Anderson bernama Phantom Thread yang dirilis pada 2017. Phantom Thread adalah salah satu film favorit saya, di mana di film tersebut juga menampilkan kedua tokoh yang terlibat dalam sebuah hubungan percintaan yang sangat rumit. Kedua film tersebut memiliki dua karakter yang mengetahui cinta yang dimilikinya bukanlah cinta biasa yang dimiliki orang lain, sehingga mereka tidak mengetahui apa yang harus dilakukan dengan perasaannya tersebut. Ketidaktahuan mereka mengenai perasaan tersebut akhirnya berubah menjadi tensi seksual yang sangat bisa dirasakan penonton, menjadi dua film yang sama-sama memancarkan gairah seksual yang sangat tinggi, meski saja Phantom Thread tidak memiliki adegan tidak senonoh.

Apa yang mungkin membuat Marianne dan Héloïse memiliki gairah seksual yang sangat tinggi adalah bahwa mereka mengetahui perasaan mereka saat itu terlarang. Portrait of a Lady on Fire berlatar pada akhir abad ke-18, di mana rasa cinta terhadap sesama jenis masih sangat tabu. Zaman sekarang hal itu sudah tidak dipermasalahkan lagi, namun pada zaman itu, hal yang seperti itu akan sangat mudah mengundang kontroversi. Tidak hanya itu, Héloïse juga sudah direncanakan untuk menikah dengan seseorang dari kota Milan. Meski begitu, ia menyadari bahwa ia telah jatuh cinta dengan seseorang yang ditugaskan untuk melukis dirinya, dan begitu juga dengan Marianne yang tertimbul perasaan terhadap seseorang yang menjadi model untuk lukisannya.

Kita sebagai penonton mengetahui bahwa rasa cinta mereka itu terlarang. Kita mengetahui bahwa masa depan mereka sangat tidak menentu karena Héloïse harus berangkat ke Milan untuk menikah dengan seseorang. Kita mengetahui bahwa Marianne tidak bisa selama-lamanya melukis Héloïse hanya demi bertemu dengannya. Namun kita juga tidak bisa menolong perasaan kita untuk mendukung keduanya, mengharapkan sampai detik akhir film untuk keduanya selalu bersama. Bagaimana karakter Marianne maupun Héloïse dapat menarik simpati dari penontonnya adalah salah satu titik terkuat dari film ini, dan sesuatu yang sangat saya kagumi.

Apakah ini termasuk sebagai film romantis? Tidak, saya tidak menganggapnya sebagai salah satu film romantis. Ini bukanlah film di mana seseorang mencoba memenangkan hati seseorang yang disukainya. Portrait of a Lady on Fire adalah sebuah film yang menceritakan bagaimana kedua karakternya mencoba memahami perasaannya, bagaimana mereka harus melanjutkan hubungan mereka, mengetahui bahwa apa yang mereka miliki itu terlarang. Marianne dan Héloïse, mengetahui bahwa mereka tidak bisa selama-lamanya, tetap mencoba menjalankan hubungan mereka secara diam-diam.

robinekariski-film-tidak-ada-musik-di-portrait-of-a-lady-on-fire

Tidak hanya ceritanya yang melankolik yang membuat film ini sangat indah, namun bagaimana secara visual film ini juga sangat memanjakan mata. Claire Mathon yang menjadi sinematografer untuk Portrait of a Lady on Fire dapat membuat setiap detik dari film ini menjadi sebuah karya seni yang sangat cantik. Setiap frame dari film ini bisa dijadikan sebagai sebuah lukisan karenan memang begitu mengagumkannya. Bagaimana ia mampu menangkap suasana film hanya dari cara ia mengambil gambar membantu suasana yang dibangun oleh film ini.

Selain bagaimana secara visual film sangat memikat, namun hal lain yang membuat film ini sangat menarik adalah percakapan dari kedua karakter. Selama film berjalan, tidak ada musik yang bermain di background. Perhatian penonton dipusatkan dengan setiap kata yang dilancarkan oleh Marianne maupun Héloïse. Percakapan keduanya terdengar pintar dan selalu menarik. Seperti pada salah satu momen di mana Héloïse sedang berpose untuk Marianne.

“Jika kamu sedang mengamati aku, siapa yang aku amati?”

Kalimat yang diluncurkan Héloïse tidak hanya merayap ke dalam diri Marianne, namun juga memasuki pikiran penontonnya. Satu kalimat yang mungkin saja memulai semuanya. Itu juga menjadi salah satu kutipan yang sangat saya sukai dari sebuah film, karena kalimat itu memposisikan Héloïse sebagai seseorang yang juga memiliki kekuatan terhadap Marianne. Dia mengungkapkan bahwa selama ini Marianne tidak hanya mengamati, namun juga diamati secara cermat oleh modelnya sendiri. Sebuah kalimat yang memiliki kekuatan yang cukup besar, dan kalimat ini adalah salah satu contoh dari banyaknya kutipan-kutipan yang saya sukai dari film ini.

Portrait of a Lady on Fire adalah film yang tidak hanya memesona secara visual, namun juga mengagumkan secara cerita. Ini adalah sebuah film yang akan selalu merayap ke dalam jiwa dan pikiran penontonnya, bahkan setelah film ini selesai. Sebuah pengalaman yang menakjubkan, Portrait of a Lady on Fire adalah sebuah mahakarya dan pastinya menjadi salah satu film terbaik tahun ini. Andai saja dapat dinikmati di layar lebar bioskop.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s