Robert Pattinson adalah salah satu contoh aktor berbakat yang sayangnya selalu dikenang oleh banyak orang karena bermain di satu film saja, film Twilight. Memang film itu yang melontarkan nama Pattinson menjadi aktor yang terkenal, namun juga film itulah yang mencamkan ke banyak pikiran penonton bahwa Pattinson hanyalah aktor muda yang terkenal karena wajahnya yang tampan dan bukan karena aktingnya. Bahkan hingga sekarang saat saya bertanya ke beberapa teman saya apa yang dipikirkannya saat mendengar nama Robert Pattinson, jawabannya hanyalah “Si pemain Twilight“, “Yang mukanya pucat jadi vampir”, atau bahkan ada yang tidak mengetahui namanya namun tahu saat melihat dirinya bermain di Twilight. Robert Pattinson, untuk sebagian besar orang, masih dikenal sebagai Edward Cullen.

Saya pun juga berpikiran begitu saat mendengar namanya, hingga awal 2018 di mana saya melihat dia bermain di film thriller Good Time. Film dari studio indie A24 tersebut disutradari oleh Safdie Bersaudara, di mana Pattinson bermain sebagai seorang perampok yang berusaha untuk mencari duit guna membayar uang tanggungan untuk mengeluarkan adiknya yang keterbelakangan mental dari penjara. Di sinilah saya untuk pertama kali menyadari, Robert Pattinson memiliki bakat.

Tidak lagi saya melihat dia hanya mengandalkan wajahnya, namun melihat bagaimana dia mengandalkan caranya untuk menyalurkan energinya ke karakter yang dia perankan. Setelah menonton Good Time saya mencoba melihat film-film sebelumnya dan apa yang saya dapati adalah bahwa setelah bermain Twilight, dia memutuskan untuk menolak bermain di film besar dan memutuskan untuk bermain di film-film indie yang mungkin sangat jarang didengar oleh kebanyakan orang.

Semua itu dimulai pada 2012 di mana dia bermain di Cosmopolis, film drama yang disutradarai oleh auteur David Cronenberg. Ini adalah upaya pertamanya untuk merubah stereotip yang dimiliki dirinya. Cosmopolis adalah film arthouse yang mungkin tidak dapat dipahami penonton biasa karena memiliki struktur yang sangat unik dan artistik, namun menunjukkan bakat tersembunyi yang dimiliki Robert Pattinson. Kita melihat di sini ia bermain sebagai milyarder berpikiran dingin, dan dapat merasakan hawa yang dimilikinya sangatlah berbeda dengan karakter yang dia mainkan di Twilight.

Dia kemudian kembali bereuni dengan David Cronenberg untuk bermain film satir Maps to the Star, di mana dia memainkan supir kendaraan limusin yang bercita-cita menjadi aktor. Lagi-lagi dia memainkan karakter yang berbeda dari sebelumnya, memainkan seseorang yang oportunis dan akan melakukan apa saja untuk mencapai cita-cita miliknya. Sama seperti Cosmopolis, Maps to the Star juga adalah film artistik yang mungkin bukan untuk semua. Tetapi apa yang pasti saya sukai adalah akting yang dimiliki Robert Pattinson.

Kemudian setelah bermain di film enerjik Good Time, dia lagi-lagi bermain di film sci-fi indie besutan studio A24, High Life. Ini adalah film dengan alur yang lambat, sehingga satu-satunya yang dapat membawa film ini adalah penampilan setiap pemain filmnya. Dan Robert Pattinson tidaklah mengecewakan. Bahkan, High Life adalah salah satu film terbaik 2018 saya. Lagi-lagi dia memainkan karakter yang berbeda dari sebelumnya, bermain sebagai tahanan penjara yang harus bertahan hidup di luar angkasa bersama tahanan-tahanan eksentrik lainnya.

Setiap film setelah yang dimainkannya setelah Twilight seperti sebuah tantangan untuk dirinya sendiri, tantangan di mana ia ingin menunjukkan kepada dunia bahwa dirinya tidak hanya mengandalkan fisik namun juga memiliki bakat dan keberanian untuk memainkan film-film indie yang mungkin saja tidak pernah didengar. Cosmpolis, Maps to the Star, Damsel, itu adalah beberapa film yang juga saya baru ketahui saat mencoba menonton koleksi film Pattinson. Dari film-film itu saja, dia menunjukkan bahwa dirinya adalah seseorang dengan keahlian akting yang fleksibel, mampu memainkan karakter yang dingin, ambisius ataupun konyol.

Memasuki 2019 dan dia bermain di film horror The Lighthouse. Film studio A24 lainnya, ini adalah salah satu film terbaik 2019 dan juga film horror terbaik yang pernah saya tonton. Dan lagi-lagi dia memainkan karakter yang berbeda dari karakter sebelumnya, di mana di sini dia memainkan seorang penjaga mercusuar bernama Ephraim Winslow. Ini mungkin saja adalah penampilan terbaiknya, dan salah satu akting terbaik 2019 di mana dia menunjukkan sisi-sisi yang belum pernah dia tunjukkan sebelumnya, yaitu liar, gila dan penyendiri.

Selesai dengan The Lighthouse, Robert Pattinson akhirnya kembali bermain di film-film studio besar. Dia akan bermain bersama John David Washington di film besutan Christopher Nolan, Tenet yang direncanakan akan rilis pada pertengahan 2020 ini. Tidak hanya itu, dia juga akan bermain sebagai tokoh utama di film The Batman yang akan tayang tahun depan. Apakah dia akan menjadi Batman terbaik? Mungkin iya, mungkin tidak, namun yang pasti saya sudah tidak sabar untuk melihat dirinya menjadi tokoh pahlawan yang paling saya gemari tersebut. Dan yang lebih pasti lagi adalah fakta bahwa Robert Pattinson adalah salah satu aktor paling menarik saat ini, selama kita melupakan kiprahnya di film seri Twilight.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s