Saat pertama mendengar berita mengenai film The Invisible Man, saya hanya beranggapan bahwa ini akan menjadi film horror biasa. Kemudian saya melihat bahwa Elisabeth Moss akan membintanginya. Oke, saya tertarik, ia telah membintangi beberapa film ataupun serial yang sangat baik (Mad Men, The Handmaid’s Tale, The One I Love). Kemudian saya melihat film ini ditulis dan disutradarai oleh Leigh Whannell yang juga membuat film yang tidak banyak dilihat orang dan juga saya sukai, Upgrade dan saya semakin penasaran dengan film ini.

Film ini diadaptasi dari novel yang terbit pada tahun 1897, seratus tahun lebih yang lalu, dengan nama yang sama. Namun tidak ada kemiripan dengan novel, bahkan yang sama-sama dimiliki keduanya adalah judul dan karakter yang tidak terlihat. Saya tidak membaca novelnya, tetapi saya baca dari tanggapan-tanggapan penonton lainnya saat menonton film ini dan mereka mengatakan bahwa film ini sama sekali terasa berbeda. Tidak hanya itu, film ini juga berpusat tidak pada manusia yang menghilangnya, melainkan menceritakan pada korbannya, seorang wanita yang bernama Cecilia Kass (Elisabeth Moss) atau yang sering dipanggil Cee.

Cee adalah seorang wanita yang berada dalam sebuah hubungan yang abusive dengan Adrian Griffin (Oliver Jackson-Cohen), seorang kaya raya yang juga seorang peneliti optik. Pada awal film, dalam adegan yang menarik napas penonton, Cee melakukan upaya yang cukup rumit untuk kabur dari rumah mewahnya Adrian. Rumahnya Adrian adalah rumah mewah tipikal rumah yang dimiliki seseorang yang kaya raya sekaligus seorang peneliti, dengan keamanan yang tinggi dan lokasinya yang jauh dari mana-mana, hanya dekat dengan laut dan hutan. Cee kabur dari rumahnya yang akhirnya dijemput di hutan dengan rumah Adrian oleh saudarinya, Emily (Harriet Dyer).

robinekariski-film-awalnya-the-invisible-man-ingin-menjadi-bagian-dari-dark-universe

2 minggu kemudian, kita melihat Cee sekarang tinggal dengan teman lamanya yang juga merupakan seorang polisi bernama James (Aldis Hodge) dan putrinya, Sydney (Storm Reid). Cee masih takut untuk keluar rumah karena paranoid bahwa Adrian masih membuntutinya, meski James sudah mengatakan bahwa ia sudah berada di lingkungan yang aman. Kemudian ia mendapati kabar bahwa Adrian telah bunuh diri dan meninggalkan 5 juta dolar AS yang diatur oleh saudaranya Adrian yang juga seorang pengacara, Tom (Michael Dorman).

Cee pun merasa lega. Lega karena seseorang yang terus mengancam dan mengintimidasinya sudah tidak ada. Namun perasaan itu tidak bertahan lama, karena tidak lama setelah itu Cee merasa kejadian-kejadian yang janggal di sekitarnya. Ia pun akhirnya meyakini dirinya bahwa ada sesuatu yang mengganggunya, sesuatu yang tak kasat mata. Apakah itu Adrian? Bukankah Adrian sudah meninggal? Apakah itu hanya perasaannya atau apakah memang ada seseorang di kamarnya?

Keseraman utama yang terletak pada film ini bukanlah pada sosok yang tidak terlihat itu. Memang, kejadian-kejadian janggal yang terjadi memang menyeramkan. Namun sebenarnya keseraman utama terletak pada bagaimana paranoidnya Cee. Kini, ia adalah seseorang yang sangat mudah takut dengan hal-hal kecil. Ia bahkan langsung kaget saat seseorang yang sedang jogging melintasinya di pagi hari, karena ia masih memiliki luka yang sangat besar akibat hubungan sebelumnya dengan Adrian. Hubungan abusive yang sudah parah, bahkan berhasil meyakinkan Cee bahwa Adrian masih hidup meski ia sudah melihat foto mayat Adrian.

Paranoid dan rasa takutnya tersebut sangatlah nyata dan bisa dirasakan secara langsung oleh penonton. Dan itu semua tentu saja berkat penampilan Elisabeth Moss yang gemilang. Kita bisa melihat bagaimana rapuhnya dirinya setelah hubungan yang rusak dengan Adrian hanya dengan melihat wajahnya, dengan suaranya, dengan gera-gerik badannya yang tidak nyaman. Tidak hanya itu, kita juga bisa merasakan ketakutan yang dialami Cee saat mengetahui bahwa ada sesuatu yang bergerak secara ganjil di sekitarnya.

robinekariski-film-sebelum-oliver-jackson-cohen-armie-hammer-dan-alexander-skarsgard-pilihan-untuk-adrian

Keseraman yang terjadi tidak hanya dihasilkan oleh penampilan Elisabeth Moss yang memukau sebagai Cee, namun juga dihasilkan oleh permainan kamera yang pintar oleh sinematografer Stefan Duscio. Kamera sering menyorot seluruh ruangan secara perlahan, yang memberikan kesan bahwa ada sesuatu yang akan atau sedang terjadi, namun tidak bisa ditangkap mata. Itu seperti film ini mengatakan kepada penontonnya “Perhatikan dengan seksama apa yang sedang terjadi, mungkin kalian akan menangkap sesuatu atau tidak.” Apakah memang ada sesuatu yang terjadi di ujung ruangan itu atau apakah memang ada yang bergerak? Permainan itulah yang membangun tensi yang semakin lama semakin meningkat.

Daripada membuat film ini berfokus pada keseraman gaib, Leigh Whannell membuat keseramannya dari sisi emosional. Bagaimana seorang wanita yang, meski sudah keluar dari hubungan yang rusak, masih tetap merasa tidak aman dari kekasih sebelumnya. Bagaimana ia masih mencari emansipasi yang dibutuhkannya untuk lepas dari ketidaknyamanannya. Inilah yang membuat cerita The Invisible Man juga menarik, karena kita sebagai penonton juga jadi ingin membantu Cee lepas dari genggaman Adrian, baik secara fisik maupun emosional.

Cecilia digambarkan sebagai seorang korban. Seorang korban dari hubungan kekesaran lainnya. Tetapi ia enggan untuk dijadikan korban, dan semakin lama kita melihat dirinya berusaha sekuat mungkin untuk melawan. Dia bukanlah korban. Dia adalah jagoan tokoh utama yang menuntut kebebasan dalam hidupnya. Elisabeth Moss mungkin saja memerankan peran terbaiknya di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s