Serial yang mengambil tema zombie memang sangat banyak berkeliaran, namun tidak banyak yang memiliki kualitas yang sangat tinggi seperti Kingdom. Meski saja setiap musim hanya berisikan 6 episode, namun Kingdom sangat mampu dalam membawa berbagai macam polemik dan dilema dengan teratur tanpa kehilangan arah sekalipun. Baru saja memasuki musim keduanya, namun serial ini memiliki potensi yang besar untuk dijuluki sebagai serial zombie terbaik saat ini.

Salah satu kelebihan yang dimiliki Kingdom adalah bagaimana mereka mampu membawa berbagai macam tema dalam 6 episode saja setiap musimnya. Bengisnya dunia politik, tajamnya perbedaan status masyarakat, keseraman dari penyakit misterius, betapa indah dan rumitnya dunia kerajaan Korea, hingga bagaimana kesetiaan dapat berperan penting dalam mengubah sebuah sejarah. Semua itu dapat berjalan dengan mudah tanpa adanya rasa membuang-buang waktu sekalipun, yang akhirnya membuat keenam episode berjalan sangat cepat.

Lanjut dari musim pertamanya, Pangeran Lee Chang (Ju Ji-hoon) beserta pengikut setianya sedang bersiap-siap untuk mempertahankan diri dengan membangun pagar berduri, tumpukan kayu untuk dibakar, hingga pagar kayu besar untuk pertahanan mereka. Apa yang tidak mereka ketahui, rupanya sekarang para zombie tidak lagi takut dengan cahaya matahari dan dengan kata lain dapat menyerang mereka pada siang hari. Kalang kabut, mereka akhirnya harus mengerahkan segenap kekuatan mereka untuk mencoba menghentikan serangan mendadak pada siang hari.

Seperti yang kita ketahui pada akhir musim pertama, ternyata bukanlah cahaya matahari yang ditakuti para zombie melainkan suhu yang tinggilah yang sebenarnya menghentikan pergerakan mereka. Sekarang musim dingin sudah tiba dan seperti yang terjadi pada Game of Thrones, winter is coming dan dimulailah serangan dari para pemakan manusia. Info tambahan itu menambah kebrutalan pada musim kedua, dengan jumlah korban bertambah jauh lebih banyak karena udara yang dingin meskipun pada siang hari.

robinekariski-tv-series-pangeran-lee-chang-dan-pengikutnya-saat-mempertahankan-kerajaan

Namun bukanlah serangan zombie pada siang hari yang sebetulnya menjadi ancaman utama Pangeran Lee Chang, melainkan permainan politik yang penuh pengkhiatan adalah yang sebetulnya menyebabkan segala kekacauan yang terjadi semenjak musim pertama. Ratu Cho (Kim Hye-jun) yang merupakan istri dari sang raja dan juga ibu angkat dari Lee Chang ingin mengklaim takhta kerajaan dengan sendirinya karena kematian sang raja dan bertujuan untuk menggusur Lee Chang dari posisinya sebagai pangeran agar ia tidak mengambil alih takhta kerajaan.

Dibantu dengan ayahnya yang juga berkedudukan tinggi di kerajaan, Cho Hak-ju (Ryu Seung-ryong), Ratu Cho telah mengusung sebuah rencana yang cukup panjang untuk mengambil alih kerajaan. Salah satunya adalah dengan menggunakan sebuah tumbuhan yang dapat membangkitkan kembali seseorang yang sudah meninggal untuk menghidupkan sang raja hingga anaknya Ratu Cho lahir. Namun ternyata apa? Terungkap pada musim pertama bahwa ayahnya memang hidup kembali namun telah berubah menjadi makhluk yang ganas, sementara anaknya Ratu Cho? Ia tidak mengandung. Ia berbohong dan telah menyusun rencana untuk mengambil bayi laki-laki dari kalangan masyarakat bawahan untuk dijadikan sebagai anaknya sendiri agar takhta kerajaan tetap pada dirinya dan tidak berpindah ke tangan Lee Chang.

Tema utama pada musim kedua bukanlah pada zombie-nya. Memang serangan-serangan zombie tetaplah gawat dan dapat mengancam nyawa siapa saja dan kapan saja, namun adalah bagaimana seseorang dapat memegang teguh dengan janji dan kesetiaannya kepada junjungan dan kerajaan mereka yang berperan penting. Musim kedua masih dipenuhi dengan kejadian-kejadian yang saling menikam dari belakang, dengan kata lain banyak sekali momen-momen pengkhianatan yang terjadi. Tetapi tidak semuanya melakukan itu karena mereka haus akan kekuasaan atau karena loyalitas yang lemah.

Mu-yeong (Kim Sang-ho) yang merupakan penjaga pribadi Lee Chang sekaligus teman dekatnya, juga ternyata selama ini ia mengintai pergerakan Lee Chang dan mengabari setiap gerak-gerik sang pangeran kepada Ratu Cho. Tetapi ia tidak melakukan itu semena-mena karena ia memang membenci Lee Chang atau memang sifatnya yang licik, tetapi ia melakukan itu karena Ratu Cho telah menahan istrinya yang pada saat itu sedang hamil. Ia menyadari perbuatannya salah, ia tahu bahwa ia masih mendukung Lee Chang dengan segenap hatinya, namun ia tidak memiliki pilihan lain. Ia masih adalah seorang suami yang menyayangi dan mengkhawatirkan keselamatan istrinya.

robinekariski-tv-series-kim-hye-jun-sebagai-ratu-cho

Inilah yang sebenarnya juga sangat saya kagumi dari Kingdom. Tidak hanya serial ini dapat menunjukkan betapa liciknya dunia politik, namun di balik itu mereka juga masih dapat menyisipkan cerita-cerita drama yang memang menyayat hati. Di sini, kita melihat sesosok pengawal pribadi seorang pribadi yang sangat ahli dalam membela diri dan menebas zombie. Tetapi, di balik kegagahannya kita melihat seseorang yang tidak berdaya terhadap kekuasaan yang menimpa dirinya. Seseorang yang harus melawan kata hatinya karena seseorang yang dicintainya telah masuk ke dalam perangkap sang ratu.

Berbicara mengenai “menebas zombie“, maka tidak lengkap kalau tidak membicarakan betapa dahsyatnya setiap aksi yang dimiliki setiap episode pada musim kedua. Dan pada musim kedua ini, aksi-aksi jauh lebih brutal dari musim sebelumnya terutama karena sekarang zombie bisa menyerang pada siang hari. Serangan di tembok perbatasan, serangan di dalam parit yang sempit hingga serangan di dalam kerajaan, semuanya berlangsung dengan cepat dan sadis. Ini bukanlah seperti zombie pada umumnya yang berjalan sangat pelan, namun seperti pada film World War Z di mana para zombie tidak hanya bisa berlari namun juga dapat memanjat dengan kecepatan yang cukup tinggi.

Memang jika kita melihat dari adegan aksinya saja, kita bisa melihat betapa besarnya anggaran yang diperlukan untuk membuat satu episode saja. Bahkan dilaporkan bahwa satu episode saja memakan anggaran yang sangat besar, yakni sebesar 1,78 juta dolar AS atau setara dengan 29 miliar rupiah. Mungkin itu yang akhirnya membuat mereka memutuskan untuk membuat 6 episode setiap musimnya — jumlah yang lebih sedikit daripada serial pada umumnya — namun setiap episode tentu memiliki kualitas yang sama rata dengan kualitas sebelumnya sehingga 6 episode terasa sedikit tetapi cukup. Tidak ada adegan yang membuang-buang waktu, semuanya selalu langsung menuju inti masalah dan itu yang saya nikmati dari Kingdom.

Menghabiskan musim kedua, saya masih heran dengan Kingdom. Bagaimana bisa hanya dengan enam episode saja setiap musimnya, serial ini mampu berhasil membawa beragam-macam tema di dalamnya sementara serial lainnya yang memiliki jumlah episode maupun musim yang jauh lebih banyak gagal hanya dengan membawa satu tema saja? Mungkin saja semua jawaban itu terletak dengan bagaimana Kingdom tidak pernah membuang-buang waktunya sedikitpun dalam menyampaikan masalah. Seperti yang saya katakan sebelumnya, serial ini tidak pernah memiliki adegan yang membuang waktu karena serial ini selalu maju dalam menceritakan kisahnya dengan kecepatan yang stabil dan diselingi oleh beraneka ragam aksi-aksi mendebarkan yang lebih brutal dan lebih sadis dari sebelumnya.

Musim kedua Kingdom sudah tayang dan bisa ditonton di layanan streaming Netflix.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s