Menonton The Way Back, saya melihat ini adalah contoh film yang memiliki alur dan cerita yang mungkin sering dipakai di film-film lainnya. Seorang pemabuk yang sedang berjalan di jalur kerusakaan menemui jalan kebenaran lewat sebuah olahraga. Memang film seperti ini sangat mudah untuk disukai karena betapa menginspirasinya melihat seseorang untuk bangkit kembali dari keterpurukannya hidup, terutama jika hasil akhirnya cukup memuaskan seperti karakter Jack Cunningham yang diperankan dengan sangat baik oleh Ben Affleck. Tetapi saya tidak bisa menghilangkan perasaan kalau film ini, meski memiliki pesan yang dalam, namun tidak bisa menyampaikan pesan tersebut dengan cukup kuat.

Film ini menceritakan seorang pekerja konstruksi bangunan yang pada siang hari bekerja, malam hari mengunjungi bar langganannya dan mabuk hingga sempoyongan. Bir dan alkohol adalah seperti pendamping hidupnya, yang bahkan pada kulkasnya selalu penuh dengan kaleng-kaleng bir yang bisa ia habiskan hanya dalam semalam saja. Jack, tokoh utama kita ini, pada suatu hari ditawari posisi sebagai pelatih basket di sekolah tempat ia dulu juga bersekolah dan bermain. Jack dikenal sebagai pemain basket yang piawai, ditawari posisi itu karena pelatih saat ini masuk rumah sakit dan tidak bisa meneruskannya. Meski pada awalnya ia tidak berminat, namun keesokan paginya ia menerima pekerjaan itu.

Awalnya, ia terlihat malas-malasan. Timnya kalah secara terus-menerus, pemainnya tidak terlalu termovitasi, dan Jack hanya mengatakan kalau pekerjaan ini bagus untuk mengalihkan dirinya dari semua hal buruk yang menimpanya. Tetapi pada suatu malam saat ia ingin mengunjungi bar kesukaannya, ia tidak turun dari mobil. Setelah lama merenung, ia kembali menyalakan mobilnya dan pulang. Untuk pertama kalinya, ia menolak godaan alkohol. Dan dimulailah perjalanan Jack untuk mencari jalan yang benar. Dan semuanya dimulai dengan menjauhi alkohol dan serius melatih tim basketnya.

robinekariski-film-sebelum-the-way-back-nama-film-ini-the-has-been

Cerita yang dimiliki film ini bagus. Semuanya berjalan masuk akal sehingga kita memang bisa merasakan bagaimana sengsaranya hidup Jack. Dan kita juga semakin lama semakin mengetahui apa yang menyebabkan ia untuk terus merangkul sifatnya yang merusak itu. Tetapi kembali lagi, cerita film ini seperti cerita kebanyakan film yang mengusung tema penebusan. Seseorang yang pada akhirnya ingin berhenti dan melakukan apa yang memang benar. Sama seperti The Way Back, di mana Jack akhirnya ingin selesai dengan kebiasaan lamanya.

Tidak hanya ceritanya yang terbilang klise, tetapi juga sepertinya ceritanya terlalu lurus. Terlalu mulus. Hingga beberapa puluh menit akhir film, kehidupan Jack terasa seperi impian di mana ia sudah terbebas dari kebiasaan meneguk alkohol. Di saat saya mengira akan terjadi sesuatu yang menghambat Jack, ia tetap berhasil. Kemudian pada akhir film, sebuah tragedi terjadi yang akhirnya membuat Jack kembali ke dalam jalur kerusakaan. Kemudian dia lagi mencari penebusan. Jika memang film ini memiliki makna dan pesan tersembunyi, maka tidak cukup kuat untuk benar-benar membuat penonton berpikir secara mendalam.

Tetapi meski dengan segala klise yang dimiliki film ini, The Way Back tetaplah film yang bagus dan itu semua karena penampilan Ben Affleck. Penampilannya sebagai seorang pemabuk dan tercandu alkohol mungkin memang sangatlah dekat dengan kehidupan pribadi Ben yang tidak jarang menemukan dirinya di tengah kasus-kasus kecanduan alkohol. Karakter Jack juga terasa nyata, di mana kita bisa secara langsung melihat seseorang yang memang terlihat mabuk dan tidak mengada-ada. Ben tahu bagaimana cara menjadi orang yang kecanduan dan ia juga tahu bagaimana untuk bertingkah mabuk karena ini adalah masa lalunya yang kelam.

robinekariski-film-gavin-o-connor-meninggalkan-the-suicide-squad-untuk-membuat-the-way-back

Gerakan-gerakan seperti sempoyongan, bicaranya yang ngelantur, dirinya yang mudah emosian dan melempar kaleng bir dari meja. Mungkin memang tidak nyaman untuk dilihat oleh beberapa penonton, namun Ben Affleck sendiri mengatakan kepada The New York Times kalau “Keuntungannya, bagiku, jauh melebihi risiko. Aku melihat ini sangatlah terapeutik.” Sang sutradara, Gavin O’Connor yang menyutradari film 2016 The Accountant yang juga dibintangi oleh Ben Affleck, mengatakan “Saya mengira Ben, dengan caranya yang artistik, dalam sisinya yang paling manusiawi, ingin menghadapi masalahnya sendiri lewat karakter ini dan menyembuhkan dirinya.”

Dan memang benar. Hasil akhirnya adalah sebuah film yang terasa lebih dalam, bahkan lebih dalam dari yang seharusnya karena penampilan Ben Affleck yang gemilang sekaligus dapat dipercayai dengan mudah. Bagaimana kehidupan seseorang yang dalam sekejap saja dapat hancur hanya dengan meminum alkohol, sebuah minuman yang seharusnya tidak merusak jika diminum dalam takaran yang sedikit. Bagaimana kita melihat Jack bersikap dengan alkohol adalah mungkin juga apa yang dilakukan Ben jika dirinya sedang meneguk alkohol.

The Way Back, sama seperti olahraga yang menginspirasinya, ingin menggunakan taktik-taktik cerita film yang berhasil dan disukai banyak orang namun dengan kekurangan yang besar, yaitu cerita yang terlalu “menjiplak” dalam format yang sering kita lihat di film-film yang serupa. Tetapi film ini berhasil melewati tahap klise itu dengan penampilan Ben Affleck yang sedemikan terbuka, kita tidak bisa berbuat apa-apa selain merasa terinspirasi setelah selesai menontonnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s