“Ada tiga jenis orang. Yang di atas, yang di bawah, yang jatuh.”

Kalimat pembuka itu tepat seperti apa yang menggambarkan film Spanyol ini. Bagaimana status masyarakat dapat sangat berdampak dengan keseluruhannya karena di dunia nyata memang masyarakat terbagi-bagi menjadi kelas-kelas yang bisa kita lihat secara langsung. Seperti film komedi gelap Parasite, The Platform juga menguji nyali masyarakat dengan menyinggung secara langsung bagaimana beratnya dampak sebuah perbedaan kelas masyarakat dalam konsep yang sangat unik dan baru.

Pada adegan pertama kita melihat beberapa tukang masak yang sedang sibuk menyiapkan makanan. Biola dengan anggunnya dimainkan sembari para tukang masak dengan cepat dan sigapnya menyiapkan berbagai makanan yang diawasi secara langsung oleh kepala juru masak mereka. Ikan yang terlihat mewah, sup yang terlihat menggiurkan hingga kue yang ditata dengan cantik dapat kita lihat. Untuk siapakah makanan-makanan mewah itu disiapkan? Rupanya untuk para penghuni sebuah lubang yang diberi nama “Vertical Self-Management Center” atau biasa disingkat dengan VSMC.

VSMC berbentuk seperti sebuah menara yang sangat tinggi, dengan setiap tingkatnya memiliki sebuah lubang besar di mana lubang itu digunakan untuk mengangkut makanan dari level 0 — tingkat teratas — sampai tingkat terendah. Jadi pada level 0, makanan akan disiapkan untuk diturunkan ke tingkat bawahnya di mana para penghuni level 1 dapat menyantap bebas makanan yang telah disiapkan  dan menyisakan untuk tingkat yang di bawahnya. Sistem tersebut sering menghasilkan konflik, di mana para penghuni yang paling atas dapat menyantap segala makanan yang telah disediakan, menyisakan hampir tidak ada untuk setiap makanan tersebut melewati setiap tingkat.

robinekariski-film-the-platform-terdapat-makanan-asli-dan-makanan-buatan

Dan masuklah tokoh utama kita, yang dengan hebatnya memiliki nama Goreng (Iván Massagué). Dia terbangun di tingkat 48, dengan teman satu tingkatnya yang juga memiliki nama yang sangat unik, Trimagasi (Zorion Eguileor). Trimagasi menjelaskan kalau setiap bulannya, mereka akan menempati tingkat yang berbeda-beda. Mereka juga tidak boleh meyimpan makanan jika papan makananya sudah melewati tingkat mereka karena sel mereka entah akan meningkat suhunya atau menurun, yang akhirnya akan membuat mereka mati gosong atau membeku.

Bahkan dari konsep bangunannya itu sendiri memang sarat akan kritik terhadap bagaimana sebuah masyarakat bekerja. Bagaimana meski mereka sama-sama penghuni pada sebuah bangunan yang sama, namun perbedaan pada tingkat saja dapat menyebabkan konflik yang berakibat sangat panjang. Bagaimana satu orang saja dapat merusak rantai hubungan sebuah masyarakat, seperti pada adegan di mana Baharat (Emilio Buale Coka) — seorang tahanan lainnya — yang ingin memanjat untuk naik ke tingkat di atasnya. Ia melemparkan tali ke atas yang diterima oleh penghuni di atas, namun saat memanjat ia tidak ditolong dan malah dilepas, yang membuat Baharat kembali terjatuh ke bawah. Adegan yang hanya berlangsung selama beberapa menit itu memiliki sebuah arti bahwa di masyarakat, jika ada satu orang saja yang tidak bekerja sama maka runtuhlah masyarakat itu.

Tidak hanya bentuk bangunannya yang pintar sekaligus unik, namun juga bagaimana dengan pintarnya film ini menggunakan makanan sebagai musuh utama para penghuni. Saat wawancaranya dengan Filmmaker, Galder Gaztelu-Urrutia selaku sutradara mengatakan “Makanan di sini diperlakukan sebagai sebuah karakter, yang menjadi antagonis dari arsitektur dari penjara itu. Pada tingkat tertinggi, makanan adalah sebuah gairah mewah yang berlebihan, hampir erotis. Itu sempurna untuk dinodai, dihancurkan, hingga pada akhirnya di tingkat terbawah menjadi sesuatu yang hina.”

Bagaimana tidak, manusia memang butuh makanan. Tidak peduli kelas, kasta maupun status, manusia membutuhkan makanan untuk hidup. Di The Platform, makanan dipandang tidak hanya sebagai sebuah benda untuk dimakan, namun juga dilihat sebagai status penghuni. Jika berada di atas, maka mereka bisa memakan semewahnya tanpa noda sedikitpun. Jika di bawah, mereka sudah beruntung jika masih ada tulang atau makanan yang tersisa, itupun jika belum ternodai oleh para penghuni lainnya. Kalau makanan sudah habis total saat papan makanan itu menyentuh tingkat mereka, maka mereka akan bertindak — seperti yang dikatakan Trimagasi — “memakan atau dimakan.”

robinekariski-film-syuting-the-platform-dilakukan-secara-kronologis

The Platform memang adalah film yang terkadang cukup sulit untuk ditonton, karena menyimpan banyak adegan yang cukup keji dan brutal, dan itulah yang ingin ditujukan oleh Galder Gaztelu-Urrutia. “Jika lubang (VSMC) itu adalah gambaran untuk masyarakat kita, itu tidak bisa menyembunyikan kekerasannya. Itu harus menunjukkan bagaimana kita saling merobek satu dengan yang lainnya.” Entah apakah “merobek” dari yang ia maksud memiliki makna lain atau memang secara harafiah, namun kebrutalan yang ditunjukkan oleh film ini memang sangatlah ganas, yang menggambarkan bagaimana kita sebagai masyarakat hanya mementingkan diri sendiri dan selalu siap untuk menghancurkan yang lainnya untuk keselamatan, tidak peduli apakah ada jalan lain yang lebih masuk akal.

Film seperti ini memang adalah sebuah topik pembahasan yang sangat menarik, cocok untuk dijadikan bahan diskusi dengan penonton lainnya. Tujuan film ini memang adalah untuk membuka pikiran setiap penontonnya, dan pastinya setiap penonton itu menangkap makna yang berbeda-beda. Apa yang sebenarnya ingin disampaikan pembuat film ini? Apa yang sebenarnya ingin dikritik oleh mereka? Rapuhnya sebuah masyarakat? Perbedaan kelas yang masih sangat kuat di masyarakat?

Semuanya dengan sadis dituangkan di film ini lewat sesuatu yang bahkan kita tidak sering syukuri setiap harinya, yaitu lewat makanan. Film ini juga menanyakan pertanyaan penting kepada kita. Apakah apa yang dilakukan para penghuni di itu memang sebuah perlakuan yang keji? Atau apakah mereka hanya melakukan itu karena mereka memiliki sifat yang manusiawi, yaitu untuk bertahan hidup semata?

Film The Platform sudah tayang semenjak akhir Maret dan bisa langsung ditonton di layanan streaming Netflix. Setidaknya cobalah untuk menonton dan renungkan apa yang kalian tangkap.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s