Esai berikut mengandung spoiler untuk film High and Low yang dirilis pada tahun 1963.

Tidak ada samurai, tidak ada pedang, tidak ada teriakan perang. Film 1963 yang disutradarai oleh Akira Kurosawa ini berlatar pada Jepang zaman modern di mana telepon sudah ada, mobil sudah berkeliaran dan setiap orang mengenakan jas formal. Kurosawa memang dikenal oleh film-film yang menceritakan zaman samurai seperti Rashomon, Seven Samurai, Throne of Blood dan Ran. Namun dibalik itu, ia juga piawai dalam menceritakan pada waktu modern seperti Drunken Angel, Stray Dog dan High and Low (Dari semuanya itu, kecuali Ran, dibintangi oleh Toshiro Mifune, aktor Jepang terbaik).

High and Low dimulai dengan Kingo Gondo (Toshiro Mifune), petinggi sebuah perusahaan pembuat sepatu yang bernama National Shoes. Gondo adalah seseorang yang berpegang teguh dengan pendiriannya, yakni ia percaya untuk terus membuat sepatu yang indah dan dapat bertahan lama meskipun akan memakan biaya yang tidak sedikit. Inilah yang membuatnya terlibat dalam adu debat bersama ketiga petinggi perusahaan lainnya, di mana mereka percaya bahwa sepatu tidak perlu dibuat tahan lama karena mereka akan sepi pelanggan jika sepatu yang mereka miliki tidak cepat rusak.

Perdebatan itulah yang akhirnya membuat Gondo melakukan tindakan ekstrim. Ketiga petinggi itu ingin mendepak pemegang saham terbanyak pada National Shoes, yang kemudian ingin mengambil alih perusahaan pembuat sepatu itu. Tidak diketahui oleh mereka, Gondo sudah siap untuk membeli mayoritas saham pada perusahaan itu dengan menggadai seluruh barang miliknya, termasuk perabotan di rumah mewahnya. Selama tiga tahun terakhir, ia telah membeli saham sebanyak 15%. Kemudian setelah mengangkat telepon, ia mengabarkan bahwa ia lagi-lagi telah membeli saham sebanyak 19%. Itu cukup untuk membuatnya menjadi penguasa National Shoes.

Ambisi yang dimiliki Gondo itu mungkin pada awalnya terdengar terlalu berlebihan, konyol bahkan. Sang istri Reiko Gondo (Kyōko Kagawa) dan asisten Kawanishi (Tatsuya Mihashi) hanya bisa terdiam dan duduk, tidak mengetahui apakah harus sedih atau bergembira. Mereka mengetahui, belum tentu Gondo akan balik modal dan mereka tidak mengetahui kapan Gondo bisa kembali mendapatkan keuntungan. Namun berbeda dengan mereka yang khawatir, Gondo merasa sangat yakin. Ini bukanlah ambisi konyol, melainkan ini adalah jalan hidupnya.

Dari masa mudanya, Gondo sudah berlatih bagaimana membuat sepatu yang baik. Keahliannya membuat sepatu terlihat pada pertengahan film, di mana ia yang dengan sendirinya merajut bom asap di dalam tas dalam posisi yang tidak bisa terlihat. Ia pun juga adalah seseorang yang yakin dengan kualitas, karena tidak hanya ia memang menghormati setiap produk yang dibuatnya namun ia juga yakin bahwa caranya itu tidak akan membawa keuntungan dalam jangka panjang namun akan menguntungkan dalam jangka panjang. Cara berpikirnya itu juga dihormati setiap pekerja di pabrik, di mana salah satu pegawainya mengatakan “Tuan Gondo memang memiliki sifat yang mudah marah, namun ia sangat peduli dengan pekerjaannya. Ia adalah atasan yang sempurna jika kau melakukan kerja yang baik.” Gondo tidak peduli jika ia diancam oleh petinggi lainnya, karena ia sangat yakin dengan keahliannya maupun produk yang dibuatnya.

robinekariski-film-gondo-dan-polisi-saat-mengamati-percakapan

Namun nahas, saat dirinya sedang bergembira karena ia sudah hampir memiliki mayoritas saham, telepon rumahnya berdering. Orang asing menelepon dan mengatakan bahwa anaknya, Jun (Toshio Egi), telah diculik dan meminta uang tebusan sebanyak 30 juta yen. Tidak hanya itu, penculik juga mengatakan jangan menelepon polisi atau anaknya akan terancam nyawanya. Sekarang, hilanglah ambisi Gondo. Ia bukan hanyalah seorang pebisnis, namun ia juga adalah seorang ayah. Ia bukan termasuk dalam kategori orang yang hanya peduli uang, ia juga rela mengeluarkan uang sebanyaknya demi menyelamatkan anaknya. Tetapi, terjadilah sebuah kejadian yang tidak terduga. Jun muncul dari balik ruang dan memanggil ibunya. Semuanya kaget, hingga Gondo mengatakan “Lelucon busuk macam apa ini?”

Dan terjadi lagi sesuatu yang tidak terduga. Rupanya penculiknya salah menculik. Bukannya Jun yang diambil, melainkan teman bermainnya yang merupakan anak dari sang supir Gondo, Shinichi (Masahiko Shimizu). Sang penculik kembali menelepon dan sadar bahwa ia salah mengambil anak, namun ia tetap bersikeras untuk meminta 30 juta atau anak yang ia culik akan kehilangan nyawa. Ayahnya, Aoki (Yutaka Sada), tidak bisa berbuat apa-apa selain berlutut dan memohon majikannya untuk menebus 30 juta. Di sinilah dilema Gondo dimulai. Akankah ia membayar uang tebusan, meski itu akan membuat dirinya bangkrut dan juga bukanlah anaknya yang diculik? Atau ia tetap bersikeras untuk tidak membayar, dan menjadi musuh publik karena rela membuat seorang anak kehilangan nyawa?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menjadi fondasi dari High and Low, di mana seseorang yang kaya raya dan sedang berada pada jalur kesuksesan harus menghadapi kenyataan bahwa tidak ada masa depan yang cerahnya untuknya. Seperti nama filmnya, Gondo dengan cepat merasakan bagaimana jika sedang berada di posisi yang tinggi maupun rendah. Coba bayangkan dan renungkan, apa yang akan kalian lakukan jika menjadi dirinya? Di saat kejayaan sudah tepat di depan matamu, sebuah kejadian yang memiliki konsekuensi panjang menanti. Memang bukan anaknya sendiri yang diculik, tetapi tetap saja ia mengenal anak itu. Ia juga mengenal ayahnya yang sudah bekerja untuknya. Awalnya Gondo tidak ingin bayar, dengan alasan masa depannya akan hancur. Namun setelah semalaman berpikir dan berkonsultasi dengan Inspektur Tokura (Tatsuya Nakadai) — kepala penyelidik yang bertugas untuk kasusnya penculikan Shinichi — Gondo akhirnya memutuskan untuk membayar.

Kini pertanyaan yang menyelimuti pikiran semuanya adalah: siapakah penculiknya? Mereka dapat mengetahui sedikitnya beberapa petunjuk yang mereka dapatkan saat sang penculik menelepon Gondo. “Di bawah sini panas sekali, terasa seperti neraka. Tapi kau pasti merasa enak karena memiliki air conditioner.” Ginjirô Takeuchi (Tsutomu Yamazaki), dalang di balik aksi pencurian itu adalah orang yang memiliki nasib yang tidak seberuntung Gondo. Ia tinggal di kaki bukit di mana rumah Gondo berada, sebuah perumahaan kumuh yang menghadap dengan bukit dan sebuah rumah mewah yang berada di puncaknya. Dari jendela kamar tempat tinggalnya, ia bisa dengan jelas melihat rumah Gondo yang terlihat seperti menghina perumahaan kumuh di bawah kaki gunung. Juga seperti namanya, kita bisa melihat bagaimana Kurosawa menggunakan letak posisi rumah untuk memperlihatkan status sang penghuni. Gondo, orang sukses dan kaya raya yang tinggal di atas bukit (high) dan Ginjirô yang hidup sederhana dan tinggal di bawah kaki bukit (low).

robinekariski-film-rumah-gondo-di-high-and-low

High and Low mungkin adalah film Jepang yang sangat awal dalam mencoba untuk mengkritik perbedaan kelas ekonomi di sebuah masyarakat. Bagaimana Akira Kurosawa dengan lihainya mencoba mempermainkan kedudukan sebuah masyarakat dalam filmnya, dan mencoba untuk mencari bagaimana setiap orang bereaksi. Di sini, ia menggambarkan Ginjirô sebagai seseorang yang hidup mengengah ke bawah. Ibunya sudah meninggal setahun yang lalu, dan dia melihat kematian ibunya sebagai kesempatan untuk melakukan apa yang ia inginkan, mengatakan “Menyenangkan untuk melihat orang yang beruntung merasakan penderitaan yang dirasakan oleh orang yang kurang beruntung.”

Ia, meski tidak mengenal Gondo secara baik, namun mengatakan bahwa ia membenci Gondo karena melihat rumahnya saja mengingatkan betapa tidak adilnya dunia. “Aku mengetahui bahwa kamarku sangat dingin saat musim dingin dan sangat panas saat musim panas hingga aku tidak bisa tidur. Dari kamarku yang kecil, rumahmu terlihat seperti surga. Hari demi hari aku semakin membencimu,” Ginjirô mengatakan kepada Gondo pada akhir film, sebelum dirinya dihukum mati dan mengetahui bahwa tidak ada lagi yang bisa ia lakukan kecuali mengantagonis Gondo. Ia ingin, dalam pertemuan terakhirnya, tetap mengejek Gondo dan mencoba membuatnya amarah. Namun apa yang terjadi? Gondo tetap tenang. Ia tidak membenci Ginjirô. Ia ingin seberusaha mungkin mencoba untuk mengerti apa yang membuat dia sangat membenci dirinya, bahkan pada suatu momen berkata “Apakah kau benar-benar sebegitunya tidak beruntung?”

Begini, saat menonton film pada awal saya hanya mengira bahwa Gondo adalah satu dari sekian banyaknya orang yang hanya memedulikan hartanya. Oke, ia memang rela menghaburkan duitnya untuk keselamatan anaknya, namun saat mengetahui bahwa rupanya sang penculik salah mengambil anak, ia langsung mengubah pikirannya dan enggan untuk mengeluarkan duit. Tetapi sehari berlalu, dan ia pun rela mengeluarkan 30 juta yen mengetahui ia akan bangkrut seketika. Memang kedudukannya lebih kaya dan lebih sukses dari Ginjirô, namun bukan berarti orang kaya adalah orang jahat. Gondo, di sini, adalah orang yang berusaha berbuat benar, seperti pada awal film di mana ia berdebat dengan petinggi perusahaan lainnya bahwa membuat sepatu yang tahan lama adalah cara yang benar dan tidak curang.

Bagaimana Gondo berperan di sini tentu sangat berpengaruh dari bakat yang dimiliki sang aktor Toshiro Mifune, di mana ia biasanya memainkan peran yang garang dan ganas seperti pada film-film sebelumnya (Yojimbo, The Hidden Fortress, Throne of Blood, dan sebagainya). Ia biasanya memainkan seseorang yang memiliki sifat yang sangat meledak-ledak, namun di sini berbeda. Kini ia memainkan seorang pebisnis yang tidak memiliki pilihan apa-apa selain tunduk dan mengikuti permainan sang penculik. Setiap pergerakannya harus didiskusikan terlebih dahulu dengan Inspektur Tokura, berbeda dari film sebelumnya di mana Mifune dapat berbuat sebebas mungkin seperti saat ia memainkan seorang bandit di Rashomon ataupun seorang pendekar yang cepat amarah di Seven Samurai. Kini kita dapat melihat secara langsung bagaimana Mifune memainkan seseorang yang mengalami konflik dilema dan hanya bisa menekan segala amarah dan kebingungannya.

robinekariski-film-ginjirô-takeuchi-di-high-and-low

Gondo bukanlah orang jahat, sementara Ginjirô sendiri mungkin berbuat semuanya itu karena nasibnya memang sangat sial. Ia bahkan mengatakan bahwa dari lahir ia sudah berada di neraka, dan justru jika ia mati dan menuju surga itu akan mengagetkannya. Jadi selama di dunia yang ia sebut neraka ini, ia hanya ingin melihat secara langsung bagaimana orang yang selama ini ia pandang sebagai sangat sukses — yakni Gondo — merasakan bagaimana pahitnya dunia dengan menculik sesuatu yang tidak bisa tergantikan oleh apapun, yaitu seorang anak. Ia memang salah menculik, namun tetap saja kesalahannya masih dapat ia manfaatkan untuk keuntungannya, yaitu melihat dilema yang dirasakan Gondo.

Iya, pada akhirnya ia tetap gagal. Ia tertangkap polisi dan dijatuhi hukuman mati, dan iya apa yang ia perbuat salah. Namun apakah ia tidak akan melakukan kejahatan yang keji itu jika saja ia lahir di lingkungan yang berbeda? Kita pun menyadari bahwa Gondo, yang memiliki nasib yang lebih beruntung dari Ginjirô bukanlah orang yang jahat hanya karena ia memiliki kekayaan. Akankah semuanya berbeda jika saja Ginjirô berbicara dengan Gondo sebelumnya tanpa perlu menculik? High and Low adalah sebuah mahakarya oleh Akira Kurosawa karena tidak hanya selama 143 menit film ini tidak pernah berhenti dalam memberikan ketegangan dalam menjalankan ceritanya, namun juga bagaimana film ini mempertanyakan sisi kemanusiaan yang kita miliki karena apalah kita jika kita tidak memiliki sifat manusiawi. High and Low adalah film terbaik Akira Kurosawa yang sangat jarang dibicarakan oleh orang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s