Mendengar namanya, saya teringat dengan film action yang dibintangi oleh Jeremy Renner dan Gemma Arteton yang dirilis pada 2013 lalu, Hansel & Gretel: Witch Hunters. Cerita utamanya sama, di mana kedua kakak-beradik itu bertemu penyihir. Hanya saja yang satu menjadi film action dengan banyak tembak-menembak dan yang satu menjadi film horror dengan cerita yang lambat dan visual yang menawan. Dan yang satunya itu juga namanya diubah, menjadi Gretel & Hansel untuk menonjolkan tokoh utama yang merupakan kakak dari keduanya, Gretel.

Film horror seperti ini memang mengambil risiko yang cukup besar. Film yang penuh dengan banyak adegan-adegan yang seperti mimpi, dengan visual yang menawan dan yang meninggalkan kepada penontonnya untuk menafsirkan dengan sendirinya. Jika berhasil, maka akan menjadi sebuah film horror yang sangat menghipnotis seperti The Lighthouse. Jika tidak, maka akan terasa kosong-melompong seperti film yang disutradarai oleh Oz Perkins ini.

Gretel & Hansel adalah percobaan terbaru untuk mengadaptasi cerita legenda asal Jerman itu, di mana kedua saudara ini meninggalkan rumah mereka karena kemiskinan yang melanda keluarga mereka. Ibu dari keduanya juga mengusir mereka karena sudah tidak ada ruang lagi bagi mereka untuk tinggal bersamanya. Gretel (Sophia Lillis) dan adiknya, Hansel (Sam Leakey) akhirnya memutuskan untuk kabur dari rumahnya mereka.

robinekariski-film-gretel-and-hansel-sam-leakey-dan-sophia-lillis

Selama perjalanan, mereka menemui seorang pemburu (Charles Babalola) yang memberi mereka arah untuk sebuah tempat yang dapat menampung mereka. Selama perjalanan ini jugalah mereka juga menemui sebuah rumah misterius yang berbentuk segitiga, yang rupanya juga dihuni oleh orang tua (Alice Krige). Tidak diketahui oleh kakak-beradik ini, orang tua ini adalah seorang penyihir yang memiliki kekuatan misterius dibaliknya.

Menggunakan cerita yang telah digunakan berkali-kali oleh medium lainnya memang adalah hal cukup sulit, apalagi jika kita sudah mengetahui bagaimana akhir dari ceritanya. Cerita Hansel and Gretel adalah salah satu cerita legenda yang cukup terkenal, dan bagaimana film ini ingin mengubah cerita yang sudah populer itu menjadi sedikit lebih original adalah sesuatu yang tidak mudah. Dengan menambahkan sedikit elemen baru dan beberapa karakter baru, Gretel & Hansel sebetulnya sudah mampu untuk membuat sebuah cerita yang sedikit berbeda dari adaptasi kebanyakan.

Namun sayangya, semua itu tidak dapat dimanfaatkan dengan baik oleh penulis Rob Hayes ataupun sutradara Oz Perkins. Filmnya terasa sangatlah lambat, dan meski saya tidak terlalu mempermasalahkan pelannya jalan cerita tetapi saya juga tidak bisa menemukan apa pesan dari setiap adegan. Seperti sebuah lukisan indah tapi tidak bermakna, setiap adegan di film ini terasa sangat menawan untuk dilihat namun tidak memiliki makna apa-apa selain hanya untuk kita berspekulasi dan mencari apakah memang ada pesan yang ingin disampaikan dalam adegannya atau tidak.

Cukup disayangkan karena tidak hanya fondasi ceritanya sudah sangat menjanjikan, tetapi film ini juga memiliki visual yang menakjubkan. Bagaimana mereka menunjukkan sosok-sosok misterius berjubah di hutan, bagaimana mereka dapat mengambil setiap gambar dengan simetris dan permainan cahaya seperti pancaran warna lilin di dalam rumah sang penyihir menerangi ruangan dengan warna jingga yang terkesan cantik dan menggoda sekaligus misterius.

robinekariski-film-gretel-and-hansel-alice-krige-sebagai-penyihir

Film ini mungkin menginginkan para penontonnya untuk lebih merasa seram dari segi visualnya daripada segi ceritanya. Mereka menginginkan untuk menimbulkan perasaan ngeri dari bagaimana mereka menampilkan setiap adegannya. Itu tidak berhasil karena untuk film seperti ini, visual sendiri tidaklah cukup untuk memberikan penonton kesan kelam dan misterius yang diinginkannya. Bandingkan dengan film yang serupa seperti The Lighthouse (iya, saya jarang menonton film arthouse horror), di mana mereka mampu untuk memberikan suasana yang jauh lebih mencekam karena mereka tidak hanya mengandalkan visual yang menarik namun juga karena mereka mengandalkan kedua aktornya untuk membawa filmnya ke tingkat yang lebih.

Kedua film ini adalah film misterius yang mau tidak mau harus mengandalkan setiap karakternya untuk menambah kesan misterius yang dimilikinya. Sayangnya, ketiga karakter di Gretel & Hansel tidaklah terlalu menonjol. Gretel terkesan sangat monoton dan tidak ada gairah dalam hidup, Hansel terkesan tidak memiliki pendirian yang kuat dan hanya ikut-ikut saja sementara sang penyihir hanyalah mengandalkan dialognya untuk menghidupkan suasana.

Itupun tidak berubah meski nama judul filmnya sudah berubah, dengan nama Gretel di depan untuk menjadikan film ini lebih feminim. Oz Perkins, kepada Entertainment Weekly, mengatakan “Kita berusaha untuk mencari cara untuk menjadikan ceritanya menjadi cerita coming of age. Saya ingin Gretel menjadi lebih tua dari Hansel, jadi kita tidak memiliki dua anak yang berusia 12 tahun — jadinya seorang anak yang berusia 16 dan 8 tahun.”

Sayangnya, niat untuk menjadikan film ini lebih menjadi cerita coming of age tidak terlalu terlihat ataupun terlalu terasa di film ini. Konsep-konsep yang setengah jadi itulah yang akhirnya membuat film ini sangat lambat dan terkesan sangat lama, meski hanya berdurasi sekitar 87 menit. Ini adalah contoh film di mana setiap adegannya dibuat dengan sangat indah dan menawan untuk dilihat namun dibalik itu semua tidak ada apa-apa lagi. Cerita? Tidak banyak. Karakter? Datar sekali. Keseraman? Tidak terlalu meski seharusnya memiliki potensial yang jauh melebihi hasil akhir film ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s