Extraction adalah film yang memenuhi janjinya. Aksi yang tiada henti, melihat Chris Hemsworth membunuh menggunakan penggaruk rumput, kejar-kejaran di perkotaan Bagladesh dan melihat bagaimana satu orang dapat membunuh puluhan musuhnya termasuk personil militer sekalipun. Menonton film seperti ini memang tidak perlu memerhatikan alur cerita ataupun karakternya, cukup memerhatikan betapa hebatnya film ini dari segi teknis dengan koreografi yang mematikan dan bagaimana mereka bisa membuat aksinya seolah-olah diambil oleh sekali shot saja.

Film pertamanya Chris Hemsworth — setelah bermain di Men in Black: International pada tahun lalu — di tahun ini di mana ia kembali lagi bereuni bersama Russo Bersaudara (Avengers: Endgame) yang berperan sebagai produser di film ini menceritakan seorang prajurit bayaran bernama Tyler Rake (Chris Hemsworth) yang ditugaskan untuk menjemput Ovi Mahajan (Rudhraksh Jaiswal), anak dari seorang gembong narkoba terbesar di India dari kota Dhaka di Bangladesh di mana ia diculik oleh musuh ayahnya, Amir Asif (Priyanshu Painyuli).

Biasanya film action yang dirilis di Netflix bisa dimasukkan ke dalam kategori film yang “terlalu berlebihan dan terlalu norak.” Tentu saja saya membicarakan film-film seperti 6 Underground yang secara tidak mengejutkannya disutradarai oleh Michael Bay dan Polar yang sangat disayangkan karena saya sungguh menggemari pemeran utamanya, Mads Mikkelsen. Jadi saya sebetulnya tidak memiliki ekspetasi yang tinggi terhadap Extraction, namun rupanya film ini tidaklah mengecewakan. Memang jangan dibandingkan dengan film-film action seperti John Wick ataupun seri film Bourne, namun Extraction masih bisa dinikmati dari bagaimana film ini membawakan setiap baku hantamnya ke tahap selanjutnya.

Film baru saja memasuki 19 menit, kita sudah melihat Tyler Rake membanting orang di tangga, yang dilanjutkan dengan dirinya mengamuk di satu ruangan bersama 4 atau 5 musuhnya. Dia menendang, dia memukul, dan dia menancapkan salah satu wajah musuhnya ke penggaruk rumput yang entah bagaimana bisa ada di ruangan itu, menunjukkan bahwa Tyler tidak main-main di film ini dan Chris Hemsworth siap untuk menunjukkan aksi berantem paling brutal dan sadis pada tahun ini.

robinekariski-film-tyler-rake-di-awal-extraction

Seperti yang saya katakan sebelumnya, film ini tidak kuat di bagian cerita namun juara di bagian teknisnya. Mulai dari koreografi yang hampir menandingi film action papan atas, bagaimana mereka bisa memanfaatkan segala situasi di sekitar mereka menjadi arena pertarungan atau bagaimana mereka bisa membuat seluruh aksinya seolah-olah diambil dalam satu shot yang sangat panjang. Seperti bagaimana saat adegan kejar-kejaran mobil di sempitnya jalan kecil atau bagaimana saat Tyler harus menghadapi musuh-musuhnya di sebuah rusun yang kumuh sembari melindungi Ovi.

Tidak hanya Chris Hemsworth yang memang pilihan tepat untuk memainkan tentara bayaran yang sadis, namun juga bagaimana sang sutradara Sam Hargrave yang menjadi koordinator stuntmen di beberapa film Marvel Cinematic Universe membantu membuat film ini menjadi lebih keras dan lebih menendang di bagian berantemnya. Seperti film John Wick juga, Extraction disutradarai oleh seseorang yang sebelumnya menjadi seorang stuntman yang sangat mengerti bagaimana menghasilkan sebuah aksi yang keras dan brutal sehingga setiap aksi berantemnya memang sangatlah terasa dan memompa adrenalin.

Iya, selama hampir dua jam kita secara tidak henti-hentinya disuguhi aksi yang kejam dan pertarungan yang brutal. Darah tertumpah di sana-sini, dan tulang sudah patah-patah. Namun bagaimana dengan cerita di film ini? Ceritanya sangatlah sederhana sebetulnya, yaitu seseorang yang dibayar untuk menjemput seseorang di pedalaman kota Bangladesh. Itu saja yang terjadi selama dua jam, jadi jangan mengharapkan bahwa ceritanya yang akan menonjol karena memang tidak. Dan mungkin itulah yang membuat film ini bekerja, karena memang bukan ceritanya yang menjadi niat utama film ini, melainkan bagaimana mereka bisa menonjolkan setiap aksinya yang sebetulnya adalah misi utama dari Extraction.

Tidak hanya ceritanya yang sangat mudah tenggelam dari bengisnya setiap aksi di film ini, tetapi karakter juga terasa sangat hambar. Musuhnya, si Amir Asif yang selalu ditakuti semuanya? Hanya terlihat sangat sedikit di film dan tidak terasa apa-apa karena kita hanya melihat dia selalu duduk tenang dan mengucapkan beberapa kalimat saja setiap ia muncul di film. Ia bahkan tidak pernah bertemu secara langsung dengan Tyler ataupun Ovi yang sebetulnya membuat kehadiran di film ini hanya sebuah bayangan yang hanya bisa melihat Tyler dari kejauhan.

robinekariski-film-chris-hemsworth-sebagai-tyler-rake

Begitu juga dengan kawan seperjuangan Tyler yang berada di sekitarnya. Kita tidak diperkenalkan siapa saja teman-temannya yang akan mendukung dia selama berjalannya misi karena kita hanya melihat mereka sekilas-sekilas saja. Bahkan salah satu temannya Tyler yang merupakan penembak jitu yang selalu melindunginya, Gaetan atau sering dipanggil “G” yang diperankan oleh sang sutradaranya sendiri, juga tidak pernah diperkenalkan secara langsung meski ia yang menyelamatkan Tyler dari situasi yang mencekamnya di awal film. Semua karakter, selain Tyler dan Ovi, terasa sangatlah “mati”.

Untungnya, baik Tyler maupun Ovi masih bisa memberikan sedikit sentuhan “manusia” di film yang terasa seperti sebuah mesin keji yang hanya menampilkan darah dan patah tulang. Tyler, dibalik sifatnya yang tidak banyak membual, memiliki masa lalu yang membentuk pendiriannya saat ini, menjadikan dirinya memiliki sifat emosional yang tidak dimiliki karakter lainnya. Begitu juga dengan Ovi, yang pada satu waktu mengatakan kepada Tyler “Aku seperti sebuah paket, dalam bungkusan coklat.” Keduanya sebetulnya memiliki dinamika yang sangat menarik untuk dijelajahi, tetapi sayangnya film ini tidak menggali terlalu dalam terhadap hubungan keduanya, sehingga hubungan emosional yang seharusnya dimiliki antara Tyler dan Ovi tidak sekuat yang diinginkan film ini.

Dan lagi, bukanlah cerita yang mendalam yang akan didapat dari film ini. Film ini tidak menginginkan kalian untuk berlama-lama di kisah setiap karakternya melainkan film ini ingin menunjukkan apa yang bisa terjadi pada tubuh manusia jika dibanting kanan dan kiri. Apakah tidak mustahil bagi satu orang untuk bisa melawan puluhan orang seharian? Mungkin saja tidak masuk akal, namun lagi kalian tidak usah berpikir banyak jika menonton Extraction. Cukup perhatikan bagaimana Chris Hemsworth berubah menjadi John Wick di Bangladesh selama dua jam.

Extraction sudah tayang dan bisa langsung ditonton di layanan streaming Netflix.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s