Oktober mendatang, film Halloween akan berumur 42 tahun yang menjadikannya hampir dua kali lipat dari umur saya. Bukan, saya tidak membahas mengenai film Halloween terbaru yang dirilis dua tahun yang lalu (tetapi yang kedua juga sangatlah bagus). Saya membicarakan film pertama dalam serialnya, yang disutradarai oleh John Carpenter dan dirilis pada Oktober, 1978. Meski sudah sangatlah tua, namun film ini mungkin saja adalah film slasher horror yang paling saya sukai, padahal saya sendiri sangatlah tidak menyukai genre itu.

Apa yang membuat Halloween bekerja adalah bagaimana efisien dan efektifnya horror bekerja di dalam film. Ceritanya tidak terlalu kompleks, hanya menceritakan kehidupan sehari-hari di sebuah perumahan di kota kecil Haddonfield, Illinois. Karakternya juga bukanlah seseorang yang berbeda dari yang biasa kita temui sehari-hari. Beberapa anak muda perempuan, seorang polisi, seorang dokter dan beberapa anak kecil perumahaan. Oh, ada satu karakter yang tidak pernah kita temui dalam kehidupan sehari-hari kita (dan semoga tidak akan pernah), yaitu Michael Myers.

Pada malam Halloween tahun 1963, Michael Myers yang masih berusia 6 tahun membunuh kakaknya dengan pisau yang ia temukan di dapur, benda yang akan menjadi senjata favoritnya di sisa film, dan meninggalkan rumahnya dengan eskpresi yang datar tepat saat kedua orang tuanya pulang. Adegan ini terjadi di awal film, dan pada adegan ini juga kamera dilihatkan dari sudut pandang Michael, memberikan penonton perasaan yang tidak nyaman.

Kita melihat dia secara perlahan mengelilingi rumah, melihat kakaknya yang bercumbu dengan pacarnya di sofa, kemudian kita mengambil pisau dan naik tangga menuju kamar kakaknya. Semua itu terjadi saat kamera masih menunjukkan dari sudut pandang Michael, sehingga kita melihat pisau yang naik turun menancapkan berulang kali ke tubuh kakaknya. Dari awal film kita sudah ditegaskan bahwa iya, film ini menyeramkan. Bahkan kita juga melihat semuanya dari mata Michael, dan mendapatkan perasaan yang menggigil sekaligus merasa kewelahan karena kita tidak bisa menghentikan perbuatannya padahal kita sudah “menyatu” dengan Michael. Apa yang membuat adegan ini lebih menyeramkan adalah fakta bawa ini semua dibuat oleh anak kecil, yang seharusnya baru saja masuk ke tingkat SD.

robinekariski-film-jamie-lee-curtis-di-halloween-1978

15 tahun kemudian, atau pada tahun 1978, kota kecil itu lagi merayakan perayaan Halloween. Apa yang tidak para penduduk ketahui, ada seorang pembunuh yang kabur dari rumah sakit jiwa dan pergi menuju tempat asalnya, Haddonfield. Michael, kini berusia 21 tahun, sudah memiliki topeng putih dan pisau dari toko perabotan, dan ia sudah kembali ke jalur pembunuhannya. Mangsanya kali ini? Seorang perempuan muda bernama Laurie Strode (Jamie Lee Curtis).

Michael masih membunuh para penduduk lainnya, namun ia sangat terpaku dengan Laurie. Pertemuan pertama mereka terjadi saat Laurie menaruh kunci di depan rumah keluarga Myers yang sudah terbengkalai agar ayahnya bisa menjualnya. Tidak diketahui oleh dirinya, Michael melihat Laurie dari dalam rumah dan memulai membuntutinya.

Cara dia membuntutinya itu yang membuat film ini sangat seram. Sebetulnya bukanlah bagaimana ia membunuh orang-orang yang mengambil peringkat nomor satu dalam hal keseraman, tetapi bagaimana dia dengan pelan tapi pasti mengikuti Laurie di sekitar perumahan. Dengan musik piano yang sangat khas, kita melihat dia berdiri tegap melihat Laurie lewat jendela dan kemudian menghilang. Setelah itu kita melihat Michael lagi-lagi membuntuti Laurie dengan berdiri bukan di belakang dan bukan di samping namun di depannya secara langsung. Ia hanya menunjukkan setengah badannya, dan kemudian berjalan ke arah semak-semak yang menutupi setengah badannya.

Tingkah lakunya itulah yang sangat menyeramkan. Ia tidak berlari, ia tidak berteriak. Ia hanya diam, dengan topeng putih dan jaket hitam miliknya. Inilah yang saya kagumi dari film Halloween, bagaimana film ini bisa membangun nuansa yang menyeramkan maupun mencekam seefektif mungkin hanya dari suasana. Tidak banyak yang terjadi di layar, film juga tidaklah terasa cepat ataupun terburu-buru. John Carpenter berhasil membangun tensi film secara perlahan namun pasti tanpa melewatkan satu detik pun, yang akhir menghasilkan salah satu film slasher horror paling menyeramkan. Hingga sekarang, tidak banyak film slasher horror yang memiliki mengandalkan suasana sebaik film ini.

robinekariski-film-michael-myers-di-halloween-1978

Apa juga yang saya kagumi juga adalah bagaimana film ini meski saja adalah film slasher horror, namun sebetulnya tidak banyak memiliki adegan berdarah seperti film lainnya dengan genre yang serupa. Meski kita diceritakan seorang pembunuh yang memasuki rumah penduduk dan membunuh yang tinggal di dalamnya menggunakan pisau dapur, namun adegan pembunuhannya tidak terlalu sadis atau brutal seperti yang kita ekspetasi. John Carpenter tidak menggunakan momen pembunuhan sebagai titik menyeramkan, namun ia membangun suasana dengan perlahan tapi pasti yang hasilnya adalah sebuah film yang tidak berhenti membuat kita merasa tegang.

Lagu pianonya, yang muncul setiap Michael ada di layar, juga sangatlah membantu film membangun suasana. Piano tersebut tidaklah heboh dimainkan, melainkan dimainkan dengan nada yang hampir sama secara berurutan dan cepat. Hasilnya adalah sebuah adegan yang tidak terasa terlalu heboh atau cepat namun sebuah adegan yang suasa menyeramkannya terbangun secara cepat. Musiknya pun juga menjadi salah satu soundtrack paling ikonik dalam dunia perfilman, hingga saat ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s