Capone adalah jenis film yang menguji daya tahan penonton seberapa besar mereka mampu menoleransi penampilan tokoh utamanya. Di sini kita melihat Tom Hardy meludah, memasang raut wajah yang masam, meraung dan buang air di celana (kecil dan besar, saya tidak mengada-ada). Jika kalian bisa menemukan keseruan ataupun titik seni, mungkin, dari tingkah laku Tom Hardy, maka ada kemungkinan kalian akan menikmati film ini. Jika tidak, maka kalian akan merasa seluruh film terasa seperti sebuah cerita yang tidak berguna.

Saat saya melihat kabar bahwa akan ada film yang bernama Fonzo — nama film sebelumnya — dan melihat bahwa Tom Hardy akan membintanginya, saya berpikir “Sudah berapa banyakkah Tom Hardy memainkan tokoh gangster dalam karirnya?” Ingatlah bahwa dulu Tom Hardy bermain di Bronson dan Legend, dan kini ia lagi-lagi membintangi seorang kriminal pada dunia kisah nyata. Mungkin saja Tom Hardy akan dikenal sebagai seseorang yang bermain sebagai gangster karena saya rasa ia tidak akan berhenti di Capone. Meskipun begitu, saya tetaplah antusias untuk menunggu film ini.

Kalian mungkin sering mendengar nama Al Capone. Ia adalah seorang gangster, seorang mafia yang sering membuat kasus pada tahun 1920an. Ia biasanya diperankan saat masa-masa jayanya, seperti di film The Untouchables di mana Al Capone diperankan oleh Robert De Niro. Ketenaran yang dimilikinya bahkan membuat dirinya muncul di film komedi Night at the Museum: Battle of the Smithsonian di mana ia diperankan oleh Jon Bernthal. Namun apa yang mungkin belum pernah dilihat adalah bagaimana masa-masa akhir dari sang Musuh Publik Nomor 1 itu.

Capone menceritakan saat-saat Al Capone (Tom Hardy) telah dikeluarkan dari penjara karena sudah dianggap bukan ancaman bagi masyarakat lagi. Ia dikeluarkan karena otaknya sudah digerogoti oleh penyakit sipilis yang dideritanya. Para dokter bahkan menganggap Al Capone memiliki mentalitas seperti anak yang berumur 12 tahun. Kini ia tinggal di rumah mewahnya di Florida bersama keluarganya, termasuk istrinya, Mae (Linda Cardellini). Kesehariannya hanyalah diisi dengan duduk dengan wajah yang masamnya sembari menghisap cerutu miliknya.

robinekariski-film-al-capone-yang-kehilangan-akal-sehatnya-seiring-waktu

Meski begitu, dirinya masih dalam pengawasan daru Biro Investigasi Federal karena mereka berpikir bahwa Al Capone mungkin saja berpura-pura memiliki penyakit. Mereka juga menganggap bahwa Al Capone menyembunyikan duit 10 juta dolar AS, sesuatu yang bahkan dia sendiri tidak yakin apakah memang benar atau tidak. Tekanan dari agen federal dan penyakitnya yang semakin ganas menyerang membuat Al Capone semakin parah seiring berjalannya waktu. Semakin lama, ia semakin tidak mengenal wajah-wajah di sekitarnya. Ia juga semakin sering berhalusinasi, sampai titik di mana ia tidak sadar bahwa dirinya sedang buang air besar di celananya.

Ya, buang air besar di celana. Tidak sekali namun dua kali saya harus melihat Tom Hardy ngeden sembari dirinya sedang mengeluarkan “sesuatu”. Adegan itu memanglah memualkan dan menjijikkan, namun saya tetap harus memuji bagaimana komitmennya Tom untuk melakukan itu. Apakah Tom Hardy memberikan akting yang bagus? Hmm, itu saya kurang tahu. Di sini, ia menggunakan make up yang membuat wajahnya rusak, rambutnya menipis, dan matanya yang merah seperti darah. Selama film berjalan, ia hanya memasang wajah yang sama secara terus-menerus, ia hanya menggerutu dan berbicara dengan nada yang rendah dan tidak jelas, dan ia tidak berbuat banyak.

Iya, semua itu memang menunjukkan bahwa Tom Hardy adalah aktor yang sangat berkomitmen. Ia mampu menunjukkan betapa gilanya Al Capone di pengujung hidupnya, namun apakah apa yang ia salurkan ke dalam karakternya adalah akting yang bagus jika apa yang ia lakukan selama 100 menit selalu hal yang sama? Meski saya cukup sedih mengatakannya, tetapi tidak. Al Capone milik Tom Hardy memanglah menjadi perhatian saya selama film berjalan, karena hanya dia yang menarik di film ini. Andaikan bukan Tom yang bermain, Capone bisa saja menjadi film yang jauh lebih buruk.

Dan iya, hanya karakter Al Capone yang berhasil menarik perhatian saya selama film berjalan. Alur film terasa terlalu lambat, dan tidak banyak yang terjadi. Bahkan beberapa adegan yang mungkin dirasa penting untuk cerita film terasa terlalu lama dan malah terasa tidak penting, seperti pada salah satu halusinasi yang dialami Al Capone pada ujung film. Adegan itu memakan kurang lebih 7 menit, dan membuat kita percaya bahwa apa yang terjadi memang betul terjadi, tetapi ternyata tidak. Sesuatu yang sudah kita pegang rupanya terlepas begitu saja karena apa yang terjadi hanya di pikiran Al Capone.

robinekariski-film-tom-hardy-sebagai-al-capone

Apa yang membuat ceritanya berantakan adalah betapa banyaknya cerita-cerita sampingan yang diceritakan namun tidak pernah dijelajahi lebih lanjut. Seperti bagaimana Al Capone memiliki anak laki-laki yang tidak diketahui keluarganya yang kini tinggal di Cleveland bernama Tony (Mason Guccione). Juga bagaimana ceritanya dokter pribadi Al Capone yang rupanya bekerja sama dengan agen federal, Dokter Karlock (Kyle MacLachlan). Cerita-cerita yang menggantung ini hanya terasa setengah-setengah karena kita lebih dipusatkan dengan imajinasi-imajinasi yang terjadi di dalam pikiran Al Capone.

Berjalan selama 100 menit lebih, Capone bukanlah film biopik. Josh Trank — sutradara, penulis dan editor — sepertinya tidak terlalu melihat apa yang benar-benar terjadi dengan Al Capone pada pengujung kehidupannya, karena Capone sangatlah liar bahkan tidak terasa bahwa apa yang kita lihat adalah kehidupan nyata seseorang. Ini juga bukanlah film gangster karena meski menceritakan salah satu tokoh paling populer di dunia gangster, film ini tidaklah berpusat dengan aktivitas kriminal Al Capone. Memang kita melihat seorang gangster dengan anak buahnya yang banyak dan agen federal yang masih mengincarnya, dan kita juga melihat Al Capone memegang senjata tommy gun miliknya yang dilapisi emas, namun film ini tidaklah menonjolkan unsur-unsur yang dimiliki gangster pada umumnya.

Jadi apa itu Capone? Jujur, saya sendiri kesulitan menjawabnya. Kenapa tidak kita setuju kalau ini adalah imajinasi dari Josh Trank mengenai kehidupan terakhirnya Al Capone, tokoh yang selalu saja tidak pernah habis dibahas hingga sekarang. Dan kalau lebih jujur lagi, saya merasakan kekecawan melihat Tom Hardy bermain di sebuah film yang bisa saja menyaingi film legendarisnya, Bronson. Keduanya sama-sama menceritakan seseorang yang memiliki kepribadian yang luar biasa. Hanya saja, satu film dibuat dengan baik dan menawan. Dan satunya dibuat dengan heboh dan liar namun malah terasa berantakan.

2 thoughts on “Tom Hardy dan Kegilaannya di CAPONE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s