The Eddy adalah contoh dari sebuah serial yang saya sulit untuk lakukan ulasannya. Di satu sisi serial ini memiliki cerita yang terkadang terasa sangat lambat dan membosankan, tetapi di sisi lainnya tidak sedikit juga memiliki momen-momen yang sungguh menyenangkan dan menyegarkan untuk ditonton. Sama seperti genre lagu yang dibawakannya, The Eddy terkadang meraih tempo yang tinggi maupun rendah sepanjang perjalanannya, tetapi tidak semuanya berjalan selancar lagu-lagunya.

Berisikan 8 episode, kita diceritakan masing-masing karakter di dalam serial ini pada setiap episode. Dua episode pertama, berjudul “Elliot” dan “Julie” menceritakan dua tokoh utama yang ceritanya akan berlanjut hingga akhir serial ini. Kedua episode ini juga disutradarai oleh Damien Chazelle, sutradara yang film-filmnya saya sukai seperti La La Land ataupun First Man. Nah tetapi justru kedua episode ini jugalah saya dengan tidak bangga menyebutnya sebagai dua episode yang paling tidak saya sukai dari serial Netflix ini. Saya pun juga kaget karena saya mengantisipasi dua episode ini memiliki energi yang setinggi film-film musikal Chazelle sebelumnya.

Tetapi tidak, keduanya terasa sangatlah lambat dengan alur yang sulit saya ikuti karena terasa tidak menarik meski saja ceritanya sebetulnya membuat saya tetap penasaran. Pada “Elliot”, kita diceritakan tokoh utama kita yakni mantan musisi terkenal yang sekarang memiliki bar musik jazz bernama The Eddy di Paris, Elliot Udo (André Holland). Kehidupannya kini sedang sulit-sulitnya, band yang ia berdirikan kesulitan untuk membuat album; anaknya yang dari mantan istrinya, Julie (Amandla Stenberg) datang ke Paris; ia juga memiliki hubungan yang merenggang dengan mantan kekasihnya yang sekaligus vokalis dari bandnya, Maja (Joanna Kulig). Tetapi bukan itu masalah utamanya. Masalah utamanya datang saat teman baiknya sekaligus co-partner dari bar miliknya, Farid (Tahar Rahim) dibunuh karena melakukan bisnis gelap dengan sebuah organisasi kriminal.

Semua itu membuat Elliot mungkin saja orang paling tertekan di Prancis. Kesehariannya hanya diisi dengan mengurus band dan ke kantor polisi untuk mengurus apa yang sebetulnya terjadi dengan Farid. Semua itu terjadi dalam satu episode, yang akhirnya berakibat episode ini berjalan lebih dari satu jam. Namun sayangnya semua cerita itu terasa sangatlah datar, meski terdengar sungguh menarik untuk ditelusuri. Saya juga kurang mengerti mengapa, tetapi satu episode terasa sangatlah panjang dan membosankan. Perasaan ini akhirnya berdampak pada ceritanya Elliot hingga beberapa episode terakhir karena ceritanya Elliot yang selalu berlanjut hingga serial selesai.

robinekariski-tv-series-amira-elliot-dan-musik-produser-franck-levy

Sama seperti Elliot, cerita Julie pada episode kedua “Julie” juga sangatlah terasa tidak menarik. Julie adalah apa yang orang-orang bilang “anak nakal.” Dia tidak ingin sekolah, dia mengisap ganja, bahkan pada suatu waktu ia mencari orang yang berjualan obat-obatan. Tingkah lakunya yang kacau balau mungkin saja bertujuan untuk memancing simpati dari penonton karena masa lalunya yang digambarkan berantakan juga, tetapi hasilnya malah jauh berbeda dari yang mereka inginkan. Karakter Julie malah terkesan karakter anak remaja yang menyebalkan sepanjang episode, dan bukannya simpati yang didapatkan dari penonton melainkan rasa kesal seperti ayahnya yang bingung apa yang sebenarnya dipikirkan dengan Julie. Apalagi episode ini juga melebihi satu jam.

Apa yang lebih disesali adalah bagaimana cerita Elliot dan Julie selalu berjalan selama 8 episode, padahal cerita keduanya digambarkan sebagai yang paling lemah dari cerita lainnya. Memasuki episode ketiga, “Amira” barulah serial ini mulai menemui tempo yang diinginkannya. Di sini kita bisa merasakan bahwa musik jazz bukanlah sekedar musik, ini adalah gaya hidup. Salah satu momen yang paling saya sukai dari The Eddy juga muncul pada episode ini di mana saat teman dan keluarga Farid berkumpul untuk berduka. Mereka memutuskan untuk bermain musik jazz bersama-sama agar tidak terlarut dalam kesedihan dan juga inilah yang mungkin diinginkan Farid, untuk tidak berlama-lama bersedih dan kembali bersenang-senang dengan musik yang digemarinya.

Dari episode ketiga tersebut, hingga episode terakhir adalah masa-masa terbaiknya The Eddy. Di setiap episodenya kita melihat kehidupan yang dialami setiap karakternya, dan juga melihat masalah apa yang mereka hadapi. Tidak hanya itu, di setiap episode juga kita melihat bagaimana musik sudah menjadi diri mereka, bagaimana masalah apapun yang mereka hadapi musik adalah jalan keluarnya mereka. Seperti pada episode “Jude” di mana kita diceritakan karakter Jude (Damian Nueva Cortes), pemain bas untuk band mereka. Di sini kita mengetahui kalau masa lalunya ia adalah seorang pecandu narkoba. Bagaimana ia bisa berhenti? Dengan bergabung dengan band milik Elliot dan bermain musik jazz.

Tetapi setiap episode itu terasa sedikit terlalu panjang karena mereka masih disisipi cerita Elliot dan Julie yang berkepanjangan. Sangat disayangkan karena cerita dari masing-masing karakter ini sudahlah sangat bagus dan menyentuh, namun cerita mereka terasa seperti hanyalah cerita sampingan karena cerita utamanya tertuju dengan dua karakter itu. Apalagi sebetulnya cerita Julie bisa saja diperpendek, begitu juga dengan Elliot. Saya mengatakan begitu karena saya memang sangat ingin serial ini untuk lebih mendalami karakter lainnya. Lagipula, nama episode-nya sudah memakai namanya mereka, mengapa tidak kita diceritakan saja karakternya itu? Buat serial ini seperti serial semi-anthology, di mana kita bisa lebih mengenal musik jazz dari kehidupan sehari-hari karakter ini.

robinekariski-tv-series-band-the-eddy-bermain-lagu-jazz

Dan lagi yang lebih disesali adalah cerita ini tidak selesai dengan benar, bahkan hingga serial selesai. Saya sudah mengikuti ceritanya Elliot dari awal hingga akhir, dan bukannya kita diberikan konklusi yang benar kita malah harus puas dengan cerita yang masih saja memiliki lubang yang cukup besar untuk diisi. Selesai menonton The Eddy, saya malah berpikir “Setelah mengikuti cerita dan masalah Elliot, ceritanya tidak diselesaikan?”

Ceritanya memang seperti sangatlah tanggung, apalagi saya harus puas dengan itu karena ini adalah sebuah miniseri yang berarti tidak akan ada musim keduanya, tetapi tidak dengan segi teknis mereka. Apa yang membuat cerita di film ini lebih personal adalah bagaimana mereka menggunakan kamera layaknya seperti sedang merekam untuk dokumentari. Penggunaan kamera yang goyang-goyang dan tidak stabil membuat nuansa keintiman lebih melekat dan lebih terasa. Kita jadi tidak seperti sedang menonton sebuah serial TV, tetapi kita seperti sedang mengikuti mereka secara langsung, langkah demi langkah.

Untuk musik sendiri, tidak perlu diragukan lagi. Bahkan saya menulis ini sembari mendengar soundtrack dari film ini, karena musik jazz yang mereka miliki memang sangatlah membuat nyaman diri kita. Alunan lagunya yang melankolik, permainan terompet yang dengan indahnya berpadu dengan drum dan piano membuat setiap lagunya di setiap episode terasa sangat nyaman untuk didengar. Apalagi dengan latar perkotaan Paris yang memang sudah indah.

Untuk 8 episode, cerita The Eddy mungkin masih belum terlalu memanfaatkan nuansa yang dimilikinya. Episode yang justru disutradarai oleh sutradara yang saya kenali malah menjadi episode paling buruk, dan sutradara yang tidak saya kenali — Houda Benyamina untuk “Amira” dan “Jude”, Laïla Marrakchi untuk “Maja” dan “Sim”, dan Alan Poul untuk “Katarina” dan “The Eddy” — malah berhasil membawa episode-episode terbaiknya. Jika sudah menonton dan merasa dua episode awalnya tidak menjanjikan, paksakan saja dan kalian tidak akan kecewa dengan sisanya.

The Eddy sudah tayang dan bisa ditonton di layanan streaming Netflix.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s