Saat membuka aplikasi Netflix dan melihat deskripsi episode ini, saya membaca “Face-sucking Alien cause issues for Rick and Morty…” kemudian saya melihat judul episode ini dan barulah saya memahami. Akhirnya Rick and Morty membuat parodi dari serial film Alien, dengan mengambil judul dari film kelimanya yang dirilis pada 2012, Prometheus. Tentu saja dengan gayanya yang komedik dan kocak, “Promortyus” seberusaha mungkin untuk membuat konyol dari dunia yang dibuat oleh Ridley Scott itu. Hasilnya? Bisa dibilang lumayan.

Pada awal episode, kita langsung dimasukkan ke tengah-tengah cerita di mana Rick dan Morty (Justin Roiland) membawa telur alien dengan masing-masih wajah sudah dihinggapi oleh alien, mirip seperti dari film Alien. Beberapa saat kemudian, mereka berdua barulah sadar kalau diri mereka sedang dikendalikan oleh alian yang menempel pada wajah masing-masing. Cara episode ini memulai dari pertengahan cerita memang seru dan dapat menendang intensitas secara instan karena saya langsung bertaya “Apa yang terjadi sebelumnya dengan mereka?”

Mereka kemudian menemui perkotaan canggih alien. Rupanya kini mereka berada di planet yang jauh dari bumi. Di sini, semua penduduk alien dihinggapi oleh parasit alien di wajahnya, seperti yang terjadi dengan Rick dan Morty. Dan seperti biasa, dengan hebohnya mereka berdua kabur dari planet tersebut menaiki pesawat canggih milik Rick. Sampai di bumi dan sedang makan bersama keluarga, barulah mereka menyadari. Summer (Spencer Grammer), kakak dari Morty dan cucunya Rick, ketinggalan di planet alien penyedot muka itu.

robinekariski-tv-series-morty-dan-rick-di-promortyus

Alur cerita yang tidak linear memang seru untuk diikuti, karena kini cerita kembali ke sebelum pembukaan di mana kita diceritakan apa yang terjadi sebelumnya. Jarang bagi Rick and Morty untuk menggunakan gaya non-linear seperti ini, karena biasanya seberapa rumitpun cerita yang dimilikinya, mereka biasanya menceritakannya dari awal hingga akhir secara linear. Namun sayangnya, mesti penggunaan gaya non-linear terlihat cerdik, “Promortyus” tidaklah serumit atau sekompleks episode sebelumnya, “Never Ricking Morty“.

Jika pada “Never Ricking Morty” cerita terasa sangatlah “meta” dan pintar dengan permainan antara fantasi dan realita, cerita di “Promortyus” terasa menyenangkan tetapi hanya itu saja. Rick dan Morty menyelamatkan Summer, yang rupanya kini sudah menjadi semacam ratu di planet itu, dengan menggunakan pakaian armour yang mirip dari anime Gundam. Memang menyenangkan melihat Rick dan Morty dengan pedangnya menggila di tengah alien-alien yang malang itu, tapi di sini tidaklah ada yang benar-benar membuat saya berpikir seperti episode-episode sebelumnya.

Namun bukan berarti episode ini bukan tanpa humor. Karakter Rick dan Morty, seperti biasa, memang sangatlah Rick dan Morty. Rick, dengan gayanya yang selalu tidak peduli dengan keadaan sekitar dan tidak pernah takut bahkan pada saat menemui kota alien, satu hal yang dilihat adalah toko permen M&M. Morty juga sangatlah Morty, bagaimana ia selalu mempertanyakan tingkah laku Rick dan selalu merasa khawatir dengan petualangan mereka. Tingkah laku keduanya masih cukup untuk membuat episode ini jauh dari kata “buruk”.

robinekariski-tv-series-rick-dan-morty-dengan-alien-di-promortyus

Dan apa yang saya sukai dari episode ini adalah bagaimana humor komedi tidak datang dari karakter utama ini. Tingkah laku alien juga sama-sama nyeleneh dengan dua karakter ini. Seperti saat kedua alien beragumen karena yang satunya hanyalah berumur 7 menit, sementara yang satunya sudah berumur 30 menit dan harus mengorbankan dirinya untuk bertelur (dengan meledakkan diri, tentunya). “Apa itu?” tanya Summer. “Itu namanya bertanggung jawab” jawab Alien yang lagi satu. “Jadi yang harus kalian lakukan adalah hidup selama 30 menit, bertelur, dan mati?” protes Summer.

Dan bukanlah Rick and Morty jika tidak membuat parodi dari suatu hal yang dianggap kontroversial. Jika sebelumnya mereka didatangi Yesus Kristus yang disuarai oleh Christoper Meloni, kini mereka menyenggol kejadian “9/11”. Saat mereka sedang terbang kabur, mereka melihat dua bangunan tinggi. Mereka, tanpa berkata apa-apa, menghindari bangunan itu. “Sesungguhnya, aku sangat bangga bagi kita untuk tidak melakukannya,” Rick mengatakan. Namun setelah itu memutuskan untuk meledakkan pelabuhan kapal. “Namun kalau Pearl Harbor…” ucap Rick sebelum meledakkan kapal-kapal di bawahnya. Apakah ini adegan terkocak di “Promortyus”? Bisa jadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s