Saya tidak bisa menjelaskan pengalaman menonton Long Day’s Journey into Night selain seperti sebuah mimpi. Setiap adegan berlalu dan berjalan seperti mimpi, dialog antar karakternya seperti mimpi, alur maju-mundur yang terasa seperti mimpi, dan ceritanya juga seperti sebuah mimpi. Saya, yang memutuskan untuk menonton film ini pada tengah malam, menyelesaikannya pada pukul 3 pagi dan merasa kalau 2 jam berlalu seperti sebuah mimpi. Pengalaman yang berbeda dari pengalaman menonton seperti biasanya.

Sebetulnya cerita yang dimiliki film Tiongkok ini tidak terlalu rumit. Luo Hongwu (Huang Jue) kembali ke tempat asalnya, Kaili, untuk mendatangi pemakaman ayahnya. Ia mengingat kematian teman lamanya, Wildcat (Lee Hong-chi), dan ingin mencari cinta lamanya yang terus ia kenang, Wan Qiwen (Tang Wei). Cerita seperti itu membuka sangat banyak kesempatan, apakah film ini ingin menjadi drama biasa atau thriller atau misteri, namun Bi Gan — penulis sekaligus sutradara — memutuskan untuk membuat film ini drama namun bukan drama yang biasa (saya juga kesulitan untuk menjelaskannya).

“Aku sedang bermimpi lagi. Dan jika kamu sadar kalau kamu sedang bermimpi, itu adalah sebuah pengalaman yang di luar tubuhmu (out-of-body experience),” Luo mengatakan pada awal film. Berdurasi selama 138 menit, nuansa film ini memang sangatlah terasa seperti mimpi. Selama setengah film, alur film dibuat bolak-balik antara masa lalu dan masa kini, sehingga satu-satunya cara saya mengetahui mana yang mana adalah dengan melihat Luo itu sendiri.

Film ini mengingatkan saya dengan filmnya Nicolas Winding Refn, Only God Forgives, yang seluruh film bergerak dengan mengambang, tidak mengetahui apakah yang terjadi di layar memang betul terjadi atau hanyalah sebuah perumpamaan. Kedua film ini sama-sama menarik, dan meski saya memang lumayan menyukai kedua film itu namun saya masih merasa ada yang kurang. Selama film berjalan, tidak ada ikatan emosi yang mengkaitkan saya dengan ceritanya sehingga hal yang saya sukai hanyalah datang dari segi teknis saja.

robinekariski-film-tang-wei-sebagai-wan-qiwen-di-long-day's-journey-into-night

Jangan main-main, Long Day’s Journey into Night adalah film yang sangat indah untuk dilihat. Permainan lampu warna-warni pada malam hari yang sering menghias layar memang membuat nuansa film lebih magis. Pengambilan gambar yang sangat panjang dan lama tidak jarang menunjukkan betapa menariknya film ini dari segi visual, dan saya bisa mengatakan itulah hal yang paling saya nikmati dari film ini. Namun sayangnya saya tidak bisa seantusias begini kalau membicarakan mengenai ceritanya.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, cerita film ini sungguh sederhana jika diperhatikan. Bi Gan dengan ambisiusnya membuat film ini bisa mendobrak lebih dari cerita awalnya, dengan membuat kita berpikir. Apakah berhasil? Saya mungkin mengatakan tidak terlalu. Memang dialog antar karakter yang sangat memainkan imajinasi penonton itu menarik untuk disimak, namun tidak jarang saya yang menontonnya kesulitan untuk menangkap apa yang sebetulnya mereka maksud. “Jadi apasih sebenarnya yang diomongin?” Mungkin karena imajinasi saya memang masih belum bisa menangkap maksud karakternya, atau saya perlu menonton beberapa kali lagi.

Itupun juga berujung dengan pada akhirnya saya tidak merasa apa-apa dengan setiap karakternya. Saat di mana penonton mungkin perlu bersimpati dengan Luo, saya justru merasa kehilangan. Mungkin karena alur filmnya yang sangat lambat, ditambah dengan dialog dan tingkah laku karatker yang sulit saya tangkap, sehingga saya tidak bisa merasakan kaitan emosi antar saya dengan karakter. Ditambah dengan cerita yang sering melompat maju, kemudian melompat mundur, saya mudah nyasar di tengah cerita.

Tetapi apa yang membuat saya menjadi kembali tertarik adalah pada pertengahan film. Iya, ini adalah bagian yang dibicarakan banyak orang, bagian yang menonjolkan apa itu Long Day’s Journey into Night sebetulnya. Sebuah long take yang sangat halus dan rapi selama 59 menit hingga film selesai. Dan ini bukanlah long take seperti 1917 yang di mana film dengan pintarnya membuat film seolah-olah diambil satu kali take dengan editing yang pintar. Di sini, pengambilan gambar memang benar-benar dilakukan selama 59 menit tanpa ada interupsi ataupun sebuah cut.

robinekariski-film-luo-pada-adegan-terakhir-di-long-day's-journey-into-night

Kita di bawa ke sebuah gua, kita mengikuti Luo naik motor, kita ikut Luo turun dengan bergelantungan di tali (momen favorit saya karena film berjalan sangat lancar meski sepertinya sangat susah untuk dibuat), kita mengitari kota kecil malam. Selama 59 menit sedikit dialog yang terjadi, dan hanya ada beberapa karakter yang berbicara, namun perhatian saya tertuju dengan betapa sempurnanya adegan ini. Adegan yang panjang ini jugalah mereka untuk pertama kalinya menceritakan kisahnya dengan linear, tidak ada perlompatan waktu lagi.

Tentu saja apa yang saya gemari adalah bagaimana mereka bisa dengan halus dan lancarnya membuat adegan ini. Bahkan ada saat di mana karakter bermain pingpong dan bermain bilyar. Bagaimana mereka bisa melakukan itu semua tanpa gagal, pikir saya sembari terkagum-kagum. Adegan ini dengan gigihnya memakan waktu 2 bulan, di mana satu bulan untuk perencanaan dan latihan dan satu bulan untuk syuting. “Dibutuhkan lima kali pengambilan gambar,” ucap Bi Gan kepada No Film School.

David Chizallet, salah satu sinematografer dari tiga sinematografer yang bekerja pada film ini, bertugas pada adegan yang rumit ini. “Satu bulan persiapan itu adalah pengambilan gambarnya. Itu adalah pengalaman produksi terbesar dalam hidup saya,” ucap Chizallet pada wawancara yang sama. “Minggu pertama, kita hanya membicarakan cahaya, berjalan di lokasi syuting dan membicarakan mengenai dekorasi set.” “Saya rasa saya tidak pernah mengalami tekanan sebesar itu pada film-film yang saya kerjakan sebelumnya,” ia mengatakan kepada tekanannya saat membuat adegan yang mengagumkan itu.

Selama 59 menit, film semakin berasa seperti sebuah mimpi, namun kini film justru lebih memiliki tujuan. Luo secara terus-menerus menemui kejadian-kejadian yang tidak terduga tetapi, seperti mimpi, tetap saja lanjut dan tidak sekalipun merasa kaget ataupun merasa ada yang menjanggal. Seperti saat awal adegan di mana ia bertemu anak muda misterius yang mengenakan topeng tengkorak, dan malah diajak bermain pingpong untuk ditunjukkan jalan keluar. Cerita film yang semakin terbuka justru menjadi lebih menarik, dan saya juga kembali tertarik apa yang akan ditemui Luo selanjutnya.

Long Day’s Journey into Night bukanlah film yang mudah untuk dicerna bagi penonton yang ingin mengikuti sebuah cerita yang sederhana. Dengan nuansa film yang serasa tidak nyata dan dialog yang mudah membuat pikiran penonton nyasar, saya beruntungnya bisa memusatkan perhatian saya kembali pada adegan terakhirnya yang akhirnya membuat saya menyukai film dari sutradara muda ini, yang menariknya juga adalah film keduanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s