Red Beard adalah salah satu film terpentingnya Akira Kurosawa, karena tidak hanya ini adalah film terakhirnya sebelum ia mencoba membuat  film di luar Jepang namun ini juga adalah kolaborasi terakhir antara Kurosawa dengan Toshiro Mifune, di mana mereka telah membuat 16 film bersama (Drunken Angel, Rashomon, Seven Samurai dan Hidden Fortress adalah contoh kolaborasi mereka). Red Beard, yang dirilis pada tahun 1965, adalah salah satu film paling intim dari sutradara legendaris itu.

Satu tema yang mungkin sangat senang dibuat oleh Akira Kurosawa adalah kemanusiaan. Dalam setiap filmnya, baik dalam genre apapun, pasti terdapat sisi kemanusiaan dalam cerita maupun karakternya. Saya juga pernah menulis sisi kemanusiaan dalam film High and Low di mana ia dapat membuat sang tokoh utama, Kingo Gondo (diperankan juga oleh Toshiro Mifune), mendapati ambisi dan dilema di dalam film itu. Red Beard, sama seperti film Kurosawa lainnya, juga dengan kuat membawa tema itu sebagai pusat ceritanya.

Red Beard, yang berarti janggut merah, mengacu ke seorang dokter pada abad ke-19 yang bernama Kyojō Niide namun lebih berkenan untuk dipanggil Red Beard atau Akahige dalam Bahasa Jepangnya. Diperankan dengan penuh hormat dan penuh kasih sayang oleh Toshiro Mifune, ia dari segi penampakannya terlihat garang. Wajahnya yang terlihat galak, brewoknya yang tebal dan berwarna merah (kurang terlihat karena film hitam putih), dan rambut yang diikat membuat dirinya terlihat ganas. Tetapi sebetulnya ia adalah orang yang amat peduli, dan orang yang sangat penuh perhatian dengan setiap orang yang ia temui.

Tokoh utama bukanlah dia, melainkan Noboru Yasumoto (Yūzō Kayama). Noboru adalah seorang dokter muda ambisius yang bercita-cita unutk menjadi dokternya Shogun, pemimpin militer Jepang pada masa itu. Namun untuk latihan terakhir dari sekolah medisnya, ia ditugaskan di kilinik Kyojō yang terlihat sangat usang dengan pasiennya terdiri dari orang-orang miskin. Dan seperti anak muda ambisius kebanyakan, Noboru tidak puas dengan penempatan dirinya dan mengatakan “Saya tidak ingin terkurung di sini! Saya belajar untuk melayani sang Shogun!”

robinekariski-film-red-beard-oleh-akira-kurosawa

Ia pun tidak mematuhi peraturan yang ada, seperti peraturan sederhana untuk mengenakan seragam. Kyojō tidak memedulikan keangkuhan Noboro dan lanjut memberikan tugas. Tugas pertamanya adalah untuk menemani salah satu pasien tua yang sudah sekarat, karena Kyojō dan dokter lainnya sedang melakukan operasi di ruang lain. Untuk pertama kalinya, ia melihat seseorang yang akan menemui ajalnya dan itu terlalu berat untuk dirinya. Perlahan tapi pasti, ia kehilangan keberanian untuk melihat orang tua itu dan bersembunyi di ujung ruangan karena ini bukanlah hal yang biasa baginya.

Menarik untuk melihat bagaimana Akira Kurosawa membawakan ceritanya dan belajar mengenai kehidupan darinya. Kehidupan, tidak peduli miskin atau kaya, tetap akan berakhir. Noboru tidak menyadari itu, karena egonya yang menutup pandangan sekitar. Untuk melihat dirinya yang semakin lama semakin sadar adalah salah satu pengalaman berharga dari menonton Red Beard, karena seperti Noboru, kita juga semakin mengenal dan melihat hidup dan mati secara lebih dekat.

Berjalan selama tiga jam, keseharian Noboru diisi dengan mendengar kisah dari setiap pasiennya. Dari kisah-kisah inilah saya dan Noboru tidak hanya lebih mengenal pasien itu secara lebih pribadi, namun juga mengenal kalau apa yang kita miliki masih lebih baik dari kebanyakan orang. Tidak hanya kita dipandu dari kisah-kisah para pasien ini, namun kita juga dididik oleh Kyojō mengenai betapa pentingnya bagi manusia untuk mengobati orang lain tanpa memandang status ataupun kelas.

Pada pertengahan film,Kyojō dan Noboru mengunjungi sebuah brodil untuk mengobati salah satu pekerjanya yang terkena penyakit sipilis. Di situ, mereka menemukan anak kecil yang sedang menggosok lantai karena telah dimarahi oleh pemilik brodil itu. Ibunya telah meninggal tepat di luar brodil beberapa waktu yang lalu, dan ia “diadopsi” oleh pemilik brodil untuk dijadikan sebagai pekerja di tempat itu. Kyojō mengatakan kalau anak itu terkena demam tinggi dan ingin mengobati di klinik miliknya, namun ibu pemilik brodil menentang keputusan itu dan memanggil para penjaga untuk mengusir Kyojō dan Noboru.

robinekariski-film-yūzō-kayama-dan-toshiro-mifune-di-red-beard

Saat diancam oleh segerombolan penjaga, Kyojō mengatakan “Kalian juga hati-hati. Kalian tahu, dokter yang buruk bisa membunuh kalian. Saya tidak akan membunuh kalian, tetapi saya mungkin akan mematahkan beberapa tangan dan kaki.” Dalam salah satu adegan yang paling serunya, ia seorang diri mengalahkan seluruh penjaganya hanya dengan tangan kosong. Namun setelah selesai mencederai seluruh penjaga, ia menyesal dan mengatakan kalau mungkin dirinya terlalu keras kepada orang-orang itu. Ia lantas menyuruh Noboru untuk mengobati mereka, dan mengatakan kalau seorang dokter tidaklah boleh melukai orang lain.

“Ini buruk. Sebuah kekerasan adalah hal yang sangat tidak baik. Seorang dokter tidak boleh melakukan hal lain.”

Kyojō mungkin saja adalah karakter paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Akira Kurosawa. Sempurna maksud saya dari segi sifat dan wataknya, ia adalah sebuah wujud sermpurna dari kemanusiaan. Di sini ia mendidik Noboru, ia juga menampung orang-orang sakit miskin, namun yang paling utama adalah ia mengobati orang-orang yang memang memerlukan, entah itu orang kaya atau orang miskin. Di sini, mengobati tidak hanya sekedar mengobati luka namun juga merawat seseorang baik dari segi fisik maupun dari segi jiwanya.

Kyojō telah melihat pasiennya hidup dan mati, dan ia sendiri mengetahui hal itu. Tetapi ia selalu berusaha berbuat yang sebaiknya, dan begitu juga Noboru yang semakin lama semakin menunjukkan rasa peduli kepada setiap pasiennya. Ia duduk dan mendengarkan masa lalu dari setiap pasiennya dengan penuh cermat, dan dalam cerita ini kita disajikan kumpulan kisah yang memang sangat erat dengan kemanusiaan.

Sama seperti IkiruRed Beard juga sama-sama menyentuh tema kehidupan dan kematian dengan caranya yang sangat elegan, manis, menyentuh dan juga memilukan. Red Beard mungkin saja adalah film terakhir dari kolaborasi Akira Kurosawa dan Toshiro Mifune, namun cerita film ini akan selalu relevan tidak peduli berapa lama waktu telah berlalu. Durasinya memang cukup panjang, tetapi itu justru membuat nuansa film semakin hidup, dan cerita dari kehidupan Noboru bersama pasiennya semakin terasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s