Sean Connery pernah mengatakan kalau dirinya tidak akan pernah lagi bermain menjadi James Bond, dengan film terakhirnya sebagai agen 007 adalah pada film Diamonds Are Forever yang dirilis pada 1971. 12 tahun kemudian, kata-katanya Connery itu dijadikan sebagai nama film di mana untuk terakhir kalinya Connery kembali sebagai James Bond, Never Say Never Again. Istrinya, Micheline Connery, yang memberi ide untuk menamai nama filmnya seperti itu, dan diucapkan terima kasih pada credit terakhir film.

Melihat Sean Connery kembali sebagai James Bond memang sungguh menyenangkan, namun bukan berarti saya tidak menyukai Roger Moore. Dengan bermain tujuh film, Roger Moore mampu membawa humor dan sarkastik ke dalam Bond. Tetapi melihat Sean Connery dengan suaranya yang berat, karismanya yang berteriak “keren” dan melihat dirinya mengatakan “Hi, nama saya Bond,” adalah sesuatu yang menyenangkan dan mengingatkan saya dengan pertama kali menonton Dr. No, film pertama James Bond yang dirilis pada tahun 1962.

Meski ini bukanlah film yang diproduksi oleh EON Productions, menjadikannya James Bond yang tidak satu semesta dengan film James Bond lainnya, Never Say Never Again masihlah sangat James Bond dengan ceritanya yang tidak jauh berbeda. Di sini, musuhnya tetaplah organisasi SPECTRE yang dipimpin oleh Ernst Stavro Blofeld. Blofeld masih memegang kucing putih, sesuai ciri khas pada film James Bond sebelumnya, tetapi ia tidak botak dan diperankan oleh Max von Sydow.

robinekariski-film-sean-connery-dan-klaus-maria-brandauer-di-never-say-never-again

Menariknya Blofeld bukanlah musuh utamanya, melainkan si “No. 1” SPECTRE yang bernama Maximillian Largo, yang berdasarkan dari karakter Emilio Largo pada film Thunderball. Diperankan oleh aktor asal Austria, Klaus Maria Brandauer, Largo adalah salah satu musuh James Bond yang cukup menarik karena karakternya yang tidak datar seperti kebanyakan musuhnya. Di sini Largo, meski memiliki misi yang jahat, tetapi tidak terlihat seperti seseorang yang haus akan darah. Perawakannya yang tenang membuat dirinya pintar, membuat dia salah satu musuh James Bond yang pintar dan memang pantas menjadi musuh terakhir James Bond.

Never Say Never Again menceritakan James Bond yang sudah menua. M (Edward Fox), atasannya Bond, sudah menonaktifkan agen berkode 00 sehingga kebanyakan waktunya Bond menghabiskan dengan mengajar. Ada sesuatu yang menarik melihat James Bond yang sudah berumur, dengan rambutnya yang memutih. Melihat dirinya mengunjungi dan tinggal di klinik untuk mengembalikan staminanya sungguh berbeda dari melihat James Bond yang sungguh berenergi, dan ini membuat James Bond terlihat kalau dia sudahlah seorang veteran.

Di saat dunia mungkin sudah tidak membutuhkan agen berkode 0 ganda, SPECTRE membuat ulah dengan mencuri roket nuklir Amerika Serikat dan memerasnya dengan meminta uang tebusan. M tidak memiliki pilihan lain selain memanggil kembali James Bond untuk menyelesaikan masalah ini. Dan dibantu dengan Felix Leiter yang diperankan oleh seorang mantan pemain American football Bernard Casey dan Nigel Small-Fawcett yang diperankan oleh Rowan Atkinson (nantinya dikenal dengan perannya sebagai tokoh utama Mr. Bean), dimulailah petualangan terakhir James Bond dan Sean Connery.

robinekariski-film-sean-connery-sebagai-james-bond-di-never-say-never-again

Alur ceritanya tetaplah menggunakan resep James Bond. Dunia terancam keamanannya, Bond menemui wanita cantik dan tidur bersamanya (musuh atau teman tidak masalah), ia kemudian menemui musuhnya dan mereka bertukar isi pikiran, Bond menemui masalah yang mengancam nyawanya, ia berhasil selamat, kemudian mencari lokasi musuhnya dan mengalahkan mereka, Bond menyelamatkan dunia dan lagi berakhir dengan wanita cantik di pelukannya.

Jika pada film lain, mungkin resep alur cerita yang digunakan secara terus-menerus akan menjadi membosankan, namun entah mengapa James Bond selalu terasa seru meski menggunakan alur yang sama. Sean Connery juga mungkin saja adalah James Bond yang terbaik, di mana kali ini ia memberikan kedalaman yang tidak pernah ia berikan saat memainkan James Bond sebelumnya dan itu yang membuat Never Say Never Again lebih baik dari James Bond kebanyakan, yaitu bagaimana sisi kemanusiaan dan emosional dari karakternya lebih muncul dan lebih terasa.

Dirilis pada tahun yang sama dengan Octopussy — film ketiga belas James Bond dan dibintangi Roger Moore — Never Say Never Again tidak meraih kesuksesan komersil sebesar Octopussy, namun ini adalah film James Bond yang lebih baik. Iya, tidak ada adegan pembukaan dan musik yang ikoniknya serta Sean Connery hanya mengatakan “Hi, nama saya Bond,” tanpa lanjut mengucapkan “James Bond,” tetapi ini adalah film James Bond yang berhasil dalam memberikan kedalaman yang jarang didapatinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s