Ini adalah sebuah film yang menceritakan seorang penulis buku bernama Shirley Jackson yang telah menulis enam novel dan lebih dari 200 cerita pendek. Dia adalah orang beneran, dan karyanya termasuk novel “The Haunting of Hill House”, telah diadaptasi oleh Netfix. Tetapi film biopik miliknya, Shirley, tidaklah terlihat seperti sedang menceritakan kisah nyata. Struktur filmnya yang sungguh berbeda dari film-film biopik kebanyakan membuat film ini sungguh unik.

Film ini tidaklah menaruh Shirley sebagai tokoh utama kita, melainkan posisi itu terletak pada sepasang suami-istri muda yang untuk sementara tinggal di kediaman Shirley. Pasangan itu adalah Fred (Logan Lerman) dan Rose Nemser (Odessa Young) yang sedang hamil. Fred adalah seorang profesor muda untuk sebuah kampus yang juga adalah teman kerja suami Shirley, Stanley Edgar Hyman (Michael Stuhlbarg). Fred dan Rose tinggal sementara di rumah Shirley guna sedang bersiap untuk mencari tempat tinggal baru.

Saat tinggal di rumah mereka, pasangan Nemser ini menemukan tingkah laku Shirley dan Stanley aneh. Keduanya memang adalah pasangan yang kikuk, di mana keduanya sering bertengkar namun juga sering curhat satu sama lainnya. Beberapa minggu kedepannya, Rose sering menemani Shirley di rumah sementara Fred dan Stanley sibuk di kampus. Seiring waktu berjalan, Rose dari yang mulanya selalu khawatir dengan tingkah laku Shirley yang antagonis berubah menjadi mengidolakan tingkah laku dan sudut pandangnya Shirley yang berbeda dari kebanyakan orang.

Ini memang adalah biopik yang menceritakan Shirley saat merancang novel selanjutnya, “Hangsaman”. Namun struktur filmnya, yang tidak lurus dan sering dipenuhi adegan-adegan bak mimpi, membuat saya sulit mencerna kalau ini adalah kisah nyata. Ada satu film yang saya ingat jika menonton Shirley, dan itu adalah Capone yang baru saja dirilis beberapa bulan yang lalu. Keduanya memiliki kisah yang sangat liar dan di luar narasi yang umum sehingga tidak terasa seperti sebuah film biopik.

robinekariski-film-odessa-young-sebagai-rose-nemser-di-shirley

Saya memang tidak bermasalah dengan struktur film yang unik seperti Shirley, dan itu memang membuat film menjadi unik dan berbeda. Tetapi terkadang saya juga sering menemukan diri saya menghilang dari narasi film dan keteteran untuk mengikuti apa saja yang baru terjadi. Itu tidak hanya terjadi karena cerita film yang berjalan dengan caranya yang unik, namun juga tingkah laku dari karakternya yang memang tidak biasa.

Stanley, yang menjadi suami dari Shirley, diperankan oleh Michael Stuhlbarg. Tentu saat melihat dirinya, saya teringat oleh film 2009 yang disutradarai oleh Coen Bersaudara A Serious Man. Di situ ia juga bermain sebagai seorang profesor yang mengajar di kampus, dan di situ juga ia adalah orang yang kikuk dan memiliki sifat dan tingkah laku yang unik. Dirinya memang menjadi salah satu elemen yang membuat film ini menarik, namun tentu saja bintang utamanya adalah Elisabeth Moss.

Berperan sebagai Shirley, Elisabeth seorang diri membawakan sebuah penampilan yang tidak hanya dahsyat namun juga mengerikan. Dengan dirinya kita bisa melihat bagaimana seorang seniman bekerja, dengan tingkah lakunya yang sering mengintimidasi dan sering bersikap tidak acuh kepada orang sekitar. Dirinya yang selalu di dalam rumah membuatnya sering dijadikan bahan omongan oleh penduduk lokal. “Saya dengar ia tidak pernah keluar rumah,” ucap salah satu penduduk. “Dia menulis cerita dengan kanibalisme di dalamnya,” ucap penduduk lainnya.

Dengan karakter Rose yang sering menemani dirinya, kita juga menjadi penasaran dengan bagaimana kehidupan sehari-hari Shirley. Ia bersifat sangat tertutup, bahkan langsung berteriak marah ketika Rose melihat karya tulisnya yang belum jadi. Tetapi ada sesuatu yang menarik dari karakter Shirley, dan Rose secara perlahan tapi pasti mencoba membuka diri sembari berharap Shirley juga bersikap demikian. Keduanya memiliki hubungan yang sangat menarik untuk ditelaah, karena semakin cerita berjalan hubungan mereka semakin berubah ke arah yang tidak saya ekspetasi.

robinekariski-film-elisabeth-moss-sebagai-shirley-jackson-di-shirley

Dan seperti yang sayak katakan sebelumnya, saya tidak jarang keteteran dan menghilang dari cerita film karena banyaknya film ini menyuguhkan adegan-adegan mimpi dan khayalan Shirley yang memutuskan pusat perhatian saya kepada cerita. Saya juga jadi sering merasa kalau satu adegan tidak terlalu berkolerasi dengan adegan sebelumnya atau selanjutnya sehingga cerita film menjadi tidak sekuat yang diinginkannya.

Tetapi narasi dan struktur film yang mengambang menjadikan Shirley sebuah film yang cantik dan menawan. Sturla Brandth Grøvlen yang sebagai sinematografer dengan piawainya menangkap setiap adegan di dalam cerita, baik nyata ataupun hanya sebuah khayalan, sangat indah dan menampilkan unsur misteri ke dalam cerita yang sudah tidak biasa. Dengannya kita juga sering disapu oleh imajinasi Shirley dengan sinematografinya yang indah.

Ini memang adalah film yang lebih baik dari Capone karena film ini memiliki tujuan yang jauh lebih jelas. Memang sama-sama tidak sempurna, namun ini adalah film yang menerjang batasan genre biopik dan kembali menampilkan Elisabeth Moss sebagai salah satu aktris paling menarik saat ini. Apalagi awal tahun ini ia bermain di The Invisible Man yang juga menunjukkan kepiawaian bakat akting miliknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s