Meski memiliki nama yang sama, namun ini bukanlah film musikal yang dirilis pada tahun 2012 dan dibintangi oleh Hugh Jackman. Ini adalah film produksi Prancis yang dirilis tahun lalu dan ditulis maupun disutradarai oleh Ladj Ly dalam film non-dokumenter pertamanya. Meski keluaran tahun lalu, Les Misérables tetap sangatlah relevan untuk saat ini, bahkan mungkin saja lebih mengena untuk kondisi dunia yang saat ini juga mengalami kejadian mirip seperti dalam film dengan skala yang jauh lebih besar.

Film ini dibuka dengan adegan yang sangat energik dan dahsyat, yaitu saat para warga Prancis sedang menyaksikan kemenangan tim nasional mereka meraih juara Piala Dunia 2018 yang dihelat di Rusia. Para penonton bergemuruh, berkumpul, bersorak sembari mengenakan bendera Prancis di pundak mereka. Entah di jalanan atau di kafe, semuanya dipenuhi oleh lautan para penonton yang bergandengan dan berlompat-lompat. Dan muncullah sebuah tulisan besar di tengah lautan manusia yang sedang berselebrasi: “LES MISÉRABLES”.

Adegan pembukaan itu mengandung ironi dengan cerita dalam film. Pasalnya, adegan pembukaan mengandung tema kebersamaan di mana seluruh warga — tidak memandang ras atau agama — bersatu dalam mendukung tim nasional sepak bola. Sementara itu, cerita film ini tidaklah berhubungan dengan kemenangan timnas Prancis, melainkan menceritakan mengenai sebuah kasus kebrutalan polisi yang juga secara dalam melihat keretakan dan perpecahan para penduduknya, berbeda dengan apa yang kita lihat pada pembukaan film.

Dalam film, kita diceritakan berbagai karakter yang memiliki kisahnya masing-masing dan akhirnya setiap kisah itu menyerempet dengan kisah karakter lainnya. Cerita utama kita ada pada Korporal Stéphane Ruiz (Damien Bonnard), yang baru saja pindah ke Paris dan bergabung dengan kesatuan anti-kejahataan yang mengenakan pakaian bebas. Ia bergabung dengan regu yang terdiri dari pemimpin yang temperamental, Chris (Alexis Manenti) dan brigadir yang lebih kalem, Gwanda (Djebril Zonga).

robinekariski-film-djebril-zonga-alexis-manenti-dan-damien-bonnard

Dalam patroli pertamanya, Stéphane serta timnya melihat tiga wanita yang sedang menunggu di bus. Chris mengatakan kalau ia mencurigai wanita tersebut mengisap ganja, dan berkonfrontasi dengan mereka. Stéphane, merasa tidak nyaman, berusaha menenangkan Chris namun usahanya itu diabaikan dan Chris malah lebih keras. “Aku melakukan apa yang mau aku lakukan,” Chris membentak dengan menggunakan status kepolisiannya sebagai tameng bagi dirinya untuk berbuat seenaknya.

Kritikan pedas oleh sutradara Ladj Ly memang cukuplah terngiang-ngiang sepanjang film berjalan, terutama dengan tingkah laku Chris. Stéphane, yang masih cukup baru di kesatuan itu, juga tidak bisa berbuat banyak dan lebih banyak menghabiskan waktunya kebingungan. Ia pindah ke Paris bukanlah karena keinginannya, melainkan karena ingin lebih dekat dengan anaknya yang kini tinggal bersama mantan istrinya. Ini pun juga membuat kepribadian Stéphane lebih rumit karena banyaknya beban dan pikiran yang menimpanya, dan dilema yang dimilikinya membuat Les Misérables sebuah film mengenai studi karakter.

Tidak hanya kritikan mengenai kebrutalan polisi, film ini juga melihat secara dalam mengenai perpecahan warga penduduknya pada kasus pertamanya Stéphane. Sekelompok pemilik sirkus, yang sering disebut sebagai sekumpulan orang gipsi, kehilangan anak singa yang bernama Johnny yang diculik oleh anak kucil berkulit hitam. Sang pemimpin, Zorro (Raymond Lopez) dan anak buahnya langsung menemui pemimpin sekelompok orang berkulit hitam yang dipanggil “Mayor” (Steve Tientcheu) dan meminta mereka untuk mengembalikan Johnny, meski saja Mayor tidak mengetahui apa-apa mengenai hal tersebut.

Saat mereka sudah hampir adu pukul, Stéphane dan regunya datang tepat waktu untuk merelaikan kedua belah pihak. Setelah memutuskan untuk memecahkan kasus itu, bertemulah mereka dengan sang penculik singa yang upload foto dirinya serta singa curiannya ke Instagram. Dia adalah seorang anak kecil bernama Issa (Issa Perica). Setelah melakukan pencarian, tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menemukan dirinya sedang bermain sepak bola. Kemudian kejar-kejaran pun berlangsung, dan Gwanda — secara tidak sengaja — menembakkan senapan flash ball ke Issa yang menyebabkan dirinya terluka dan pingsan.

robinekariski-film-issa-perica-di-les-miserables

Melihat kejadian ini sekarang, saya langsung teringat dengan kasus-kasus kekerasan polisi yang sering terjadi di Amerika Serikat. Seorang polisi yang menembakkan senjatanya — mematikan atau tidak — kepada orang yang sedang dikejarnya. Apakah Gwanda sengaja melakukannya? Tidak tahu, karena meski ia mengatakan kalau ia tidak sengaja menembak, Stéphane mengetahui bagaimana senjata flash ball bekerja dan ia juga mengetahui kalau tidak mungkin bagi seseorang untuk tidak sengaja menembakkannya.

Kejadian ini memanglah sangat relevan dengan situasi saat ini, apalagi karena kejadian ini juga direkam. Bukan lewat telepon genggam, melainkan dengan drone miliki anak kecil yang tidak mengetahui kalau ia akan menemukan kejadian itu, Buzz (Al-Hassan Ly). Di saat kejadian itu tengah direkam, Chris langsung menyuruh Stéphane dan Gwanda untuk fokus mencari drone tersebut, meski Stéphane memaksa mereka untuk membawa Issa ke rumah sakit yang tentunya ditolak oleh Chris.

Di atas kertas, Les Misérables menceritakan sekelompok polisi yang berusaha menutupi kesalahannya. Tetapi ini jugalah film yang mengkritik masyarakatnya, dengan berbagai macam karakter di dalamnya seperti Mayor yang ingin memanfaatkan video di drone itu untuk melakukan pemerasan terhadap Chris, sementara Buzz lebih mempercayakan videonya ke Salah (Almamy Kanoute), seorang pemilik restoran dan mantan penjahat yang sudah bertaubat.

Beralih dari adegan pembuka yang meriah, kita secara cepatnya diterjunkan ke dalam sebuah cerita yang mungkin saja hanyalah fiksi, namun sangat relevan pada dunia nyata bahkan menjadi film yang mungkin saja sangat penting ditonton pada tahun 2020. Tidak hanya tema kebrutalan polisi miliknya, film ini juga dengan dalam menceritakan setiap jenis penduduk Prancis, dari polisi yang baik dan jahat, mantan narapidana hingga anak kecil yang tidak sengaja terlibat di tengah kasus yang berpotensi menjadi besar.

2 thoughts on “LES MISÉRABLES dan Kisahnya yang Menggertakkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s