Pada suatu malam hari, saat sedang melihat-lihat film apa yang ingin saya tonton di Netflix, saya menemukan film Spanyol A Perfect Day. Apa yang menarik perhatian saya dengan film ini adalah ada Benicio del Toro yang muncul di poster film dan ini adalah film komedi. Setelah melihat dirinya bermain di kumpulan film yang sangat serius (TrafficSicario), tentu saya penasaran bagaimana ia bermain di sebuah film komedi. Dan A Perfect Day tidaklah mengecewakan, dan saya memang harus berterima kasih dengan Benicio del Toro karena dirinya yang membuat saya menonton film ini.

A Perfect Day berlatar pada tahun 1995 “di suatu lokasi di Balkan” yang mengikuti sekelompok relawan di pengujung perang Bosnia. Mambrú (Benicio del Toro) adalah salah satu dari relawan yang diceritakan, dan pada awal film dirinya sedang mengangkut mayat dari sebuah sumur bersama penerjemahnya, Damir (Fedja Štukan). Saat sedang diangkat, tali yang digunakan untuk mengangkut mayat misterius dari sumur itu putus. Hari masih sangat cerah, dan rencana sudah tidak berjalan sesuai keinginan mereka. Hari tidaklah berjalan dengan sempurna.

Relawan lainnya yang diceritakan adalah B (Tim Robbins), seorang relawan yang terlihat sudah melakukan apa yang dilakukannya bertahun-tahun, dan Sophie (Mélanie Thierry), yang masih baru bergabung dengan kelompok relawan ini. Saat menyetir, keduanya menemui mayat sapi yang tergeletak di tengah jalan yang merupakan sebuah jebakan ranjau darat. Lewat kiri atau kanan, B berpikir sementara Sophie yang sudah merasa panik. Apa yang dilakukan? B menerobos sapi itu karena tidak ingin mengambil risiko kanan atau kiri.

robinekariski-tim-robbins-di-a-perfect-day

Cerita mengenai relawan yang bekerja di tengah perang memang adalah sebuah ladang emas komedi, meski saya jarang menemui cerita seperti ini pada fokus lain. Dan penggunaan komedi gelap oleh Fernando León de Aranoa (penulis dan sutradara) di A Perfect Day sangatlah sempurna, yang mampu tidak hanya membangkitkan tawa di tengah adegan yang memang seharusnya tidak lucu namun juga mampu menambah ketegangan dalam film. Ini bukanlah film komedi yang leluconnya secara blak-blakan muncul di depan wajah penontonnya.

Satu contoh adegan yang mendukung pernyataan saya itu adalah saat Damir dan B menemui jalan mereka diblokir oleh pasukan UN (PBB). Saat mereka sedang menunggu blokir itu dibuka, ada seorang wanita tua yang sedang berjalan bersama sapi miliknya di dekat mereka. Para tentara berteriak ke wanita itu kalau daerah itu tidak aman karena banyak ranjau darat. Namun wanita itu berjalan di belakang sapi miliknya, sesuatu yang membuat Damir mengatakan kalau tindakan itu sangat pintar. Itu adalah adegan yang sekilas tampak konyol, namun semakin lama kita berada di adegan itu semakin besar rasa tidak nyaman yang muncul dalam diri saya karena rasa bahaya yang selalu merayap di adegan itu.

Kemudian hal lainnya yang membuat saya sungguh menyukai film ini, tentunya, adalah performa Benicio del Toro yang mampu memainkan karakternya yang terlihat antara jenuh dan semangat dengan pekerjaannya. Bahkan beberapa adegannya mampu membawa humor ke dalam film, sementara beberapa adegan lain dengannya mampu membawa keseraman perang. Wajahnya yang datar dan sudah terlihat lelah memang sangatlah cocok dengan komedil gelap film ini. Dia memang harus lebih sering bermain film komedi gelap dan pintar seperti ini, karena saya pasti akan semangat mengantisipasinya.

robinekariski-film-spanyol-a-perfect-day

Fernando León de Aranoa memang sungguh hebat untuk mencampurkan nada ceria dan kesan road movie dalam film dengan mengikuti sekelompok relawan kita dengan nada yang kelam dan menyeramkan saat menunjukkan konsekuensi sebuah perang pada suatu daerah. Kedua nuansa itu sebetulnya tidaklah mudah untuk dicampurkan, dan dalam 100 menit ia dengan naskah yang memang pintar mampu membuat sebuah film yang tidak menganggap apa yang diceritakannya terlalu serius dan menghasilkan sebuah film yang bisa dengan lihainya mengubah nada cerita dengan cepat.

Secara keseluruhan pengalaman saya menonton A Perfect Day memang menyenangkan, tetapi ada sedikit adegan yang melempar saya keluar dari cerita. Salah satu yang mengganggu saya adalah penggunaan musik “Sweet Dreams” oleh Marilyn Manson pada salah satu adegan paling kelamnya. Film ini memang gemar menggunakan musik rock sebagai soundtrack dan kebanyakan memang cocok, namun adegan itu dan lagu “Sweet Dreams” terasa sangat tidak cocok. Adegan yang seharusnya menyeramkan malah bercampur dengan nada inspirasi yang disuntik dari lagu itu, menghasilkan suatu adegan yang membingungkan.

Kekurangan itu terasa sangatlah kecil karena betapa menyenangkannya film ini berjalan. Tidak hanya dari ceritanya yang menarik, sinematografinya yang sangat indah dan jernih oleh Alex Catalán hingga seluruh karakter utamanya yang memang berhasil menghidupkan komedi dan drama sebuah perang: Benicio del Toro, Mélanie Thierry, Tim Robbins dan Fedja Štukan, A Perfect Day adalah sebuah film asal Spanyol yang patut ditonton.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s