Ini dia, awal adalah akhir dan akhir adalah awal. Musim terakhir dari salah satu seri paling ditunggu-tunggu tahun ini dan juga salah satu seri terbaik yang ditawarkan di Netflix, Dark, sudah tayang pada bulan lalu. Menjadi musim terakhirnya, musim ketiga Dark mengejutkan saya karena betapa baiknya serial ini bisa menutup ceritanya yang sangat ambisius karena biasanya serial dengan ambisi dan cerita serumit ini kesulitan untuk mencari penutup yang tepat, dan itulah salah satu alasan mengapa musim ketiganya juga adalah musim terbaiknya.

Dan sama seperti saya ingin menonton musim keduanya tahun lalu, saya perlu menonton beberapa video yang menjelaskan apa saja yang terjadi sebelumnya sebelum saya memasuki musim ketiga karena betapa rumit dan berbelit-belitnya cerita yang disuguhkan. Seperti salah satu karakternya, Charlotte (Karoline Eichhorn), yang menyadari kalau anaknya, Elisabeth (Sandra Borgmann), juga adalah ibunya. Gila, bukan? Permainan waktu di dalam cerita memang sungguh kompleks layaknya sebuah labirin sehingga saya selalu penasaran bagaimana sang pencipta serial, Baran bo Odar dan Jantje Friese, menulis dan menciptakan serial ini.

Musim kedua Dark lebih banyak memberikan pertanyaan daripada jawaban, sehingga musim ketiga sangat dibutuhkan. Pertanyaan seperti bagaimana Jonas bisa menjadi Adam, siapa orang yang mirip dengan Martha tetapi berponi di ujung musim kedua dan mengapa dia mengatakan kalau “Jangan bertanya mengenai waktu kapan, tetapi bertanyalah mengenai dunia apa.” sungguh membuat saya justru semakin kebingungan, dan untungnya musim ketiga mampu menjawab semuanya (meski masih sedikit kebingungan) dengan cerdik dan pintar.

Episode pertama, “Deja-vu”, dibuka dengan orang asing yang memiliki luka di bibir kiri atasnya sedang membakar sebuah ruangan misterius. Ia ditemani oleh seorang anak kecil dan orang tua yang menariknya juga memiliki luka yang sama di bibirnya. Mereka rupanya adalah orang yang sama, hanya saja tiga waktu yang berbeda dan satu dunia yang sama. Ini salah satu kelebihan Dark, di mana ditengah rumitnya cerita, serial ini masih bisa dengan cepat memperkenalkan sebuah karakter baru tanpa merusak ataupun memperburuk cerita. Setiap karakter baru yang muncul selalu menawarkan sesuatu yang baru.

robinekariski-tv-series-musim-ketiga-dark

Apa yang membuat Dark sangat menarik selain konsepnya memang adalah karakternya. Serial ini mampu memanipulasi tidak hanya setiap karakternya, tetapi juga para penontonnya, sehingga saya tidak mengetahui siapa yang memang harus dipercaya hingga episode terakhir. Satu karakter mengungkapkan sesuatu yang sangat gila dan membuat saya percaya dengan apapun yang dikatakannya, kemudian karakter selanjutnya muncul dan membantah semua perkataan karakter sebelumnya dengan teori yang sama gilanya. Dengan begitu, rasa penasaran saya selalu ada sehingga saya selalu menonton episode selanjutnya untuk mengetahui apa yang benar dan apa yang tidak.

Tidak hanya berhasil dalam membuat setiap karakternya tetap menarik, musim ketiga Dark juga berhasil memperdalam ceritanya. Iya, kini Dark sudah mirip seperti Rick and Morty, yakni bermain-main dengan konsep realita dan dunia yang berbeda. Martha (Lisa Vicari) yang kita lihat di ujung musim kedua rupanya berasal dari dunia yang berbeda dengan dunianya Jonas (Louis Hofmann), dunia selama dua musim terakhir. Saya memang harus mengatakan kalau saya takjub dengan betapa beraninya untuk menumpuk konsep yang sudah sangat rumit dengan konsep baru yang justru semakin rumit.

Secara keseluruhan memanglah sangat menarik, apalagi jika setiap episode selalu memiliki kejutan yang entah memecahkan sebuah misteri atau malah menambah misteri baru, tetapi tidak jarang saya harus dilanda kebingungan yang akhirnya malah mengeluarkan konsentrasi saya dari menonton menjadi berpikir terlalu dalam dan rumit. Seperti saat di mana saya harus kebingungan melihat dua versi Martha, berumur sama dan berpenampilan sama, di mana satunya sedang bersama Jonas sementara yang satunya bekerja untuk Adam. Siapa yang di dunia apa dan waktu apa? Biasanya jika menemukan sesuatu yang membingungkan, saya paksa saja untuk melanjuti dan berharap untuk memahami pada akhirnya.

Semakin saya menonton musim ketiganya, semakin saya menyadari kalau Jonas bukanlah karakter utamanya. Tidak ada karakter utama di sini. Semuanya, sekecil apapun perannya, selalu berperan penting dalam jalannya cerita. Mungkin pada musim pertama kita sering mengikuti Jonas sepanjang musim, namun di musim ketiga kita diceritakan setiap karakter lainnya secara dekat dan apa dampak dalam hidup mereka terhadap permainan waktu dan realita yang selama ini terjadi di kota kecil Winden.

robinekariski-tv-series-musim-terakhir-dark

Hal itupun akhirnya membuat saya menyadari betapa dalamnya cerita Katharina (J├Ârdis Triebel), salah satu karakter yang juga adalah karakter terbaik di musim ketiga Dark. Di sini, ia menyadari kalau suaminya, Ulrich (Oliver Masucci) terlempar ke masa lalu dan tinggal di rumah sakit jiwa karena ia sudah dianggap sangat berbahaya dan juga sering berkhayal. Ulrich sudah tua, dan tahunnya saja belum mencapai tahun di mana Ulrich seharusnya berada, sehingga Katharina juga berjalan ke masa lalu tidak hanya mencari anaknya yang hilang, Mikkel (Daan Lennard Liebrenz) tetapi juga suaminya yang telah terlempar bertahun-tahun yang lalu. Kisahnya yang memang menyentuh dengan sempurna menambahkan titik emosional kepada keseluruhan cerita musim ketiga.

Dan berbicara mengenai karakter, saya juga harus mengapresiasi betapa sempurnanya casting dalam Dark. Sungguh, saya menyadari bagaimana cerita selalu berjalan dengan sangat mulus meski memainkan beragam waktu yang berbeda — lebih dari lima waktu yang berbeda — adalah bagaimana setiap pemain film terlihat sangat mirip dengan versi mudanya atau versi tuanya. Jonas yang masih muda, diperankan oleh Louis Hofmann terlihat sangat mirip dengan saat dirinya sudah dewasa yang diperankan oleh Andreas Pietschmann. Tidak hanya dari gaya rambutnya yang memang mirip, tetapi juga wajahnya. Begitu juga dengan karakter lainnya, dan ini adalah sesuatu yang tidak mudah tetapi mereka berhasil.

Jika dipikir-pikir, semua ini terjadi karena kematian ayahnya Jonas, Michael Kahnwald (Sebastian Rudolph) yang melakukan bunuh diri. Kematiannya dipercaya sebagai asal mula yang membuat semua ini terjadi, tetapi rupanya tidak. Apa yang membuat musim ketiganya sangat pintar adalah bagaimana sesuatu yang telah menjadi pegangan kita selama ini, sesuatu yang sudah kita yakini benar, rupanya tidak benar. Manipulasi inilah yang selalu berhasil dan terus membuat cerita selalu menarik untuk diikuti.

Tiga musim Dark memanglah sangat rumit, apalagi dengan tambahan teori yang mengatakan kalau ada dua dunia atau dua semesta yang berbeda saling bertabrakan satu dengan lainnya menambahkan kebingungan, tetapi ini juga adalah sebuah cerita yang penuh dengan kisah tragis, membuat serial ini juga cukup emosional. Tidak hanya itu, episode terakhirnya, “Das Paradies”, berhasil menggabungkan segala cabang cerita yang dimiliki Dark dan menutup serial asal Jerman ini dengan tidak hanya menyentuh, namun juga manis, sesuatu yang tidak saya duga. Ini adalah sebuah penutup yang sempurna.

Musim ketiga dan musim terakhir Dark sudah tayang dan siap meledakkan isi kepala kalian di layanan streaming Netflix.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s