Saat semua masalah pandemi COVID-19 ini selesai — mungkin lagi satu bulan, dua bulan, enam bulan, satu tahun, tidak ada yang tahu — apa kenangan yang akan paling diingat saat melihat kembali diri kita yang harus mengurung diri di dalam rumah selama berbulan-bulan? Apakah patah hati? Perasaan gelisah yang tiada henti? Mengkhawatirkan sesuatu yang tidak perlu dikhawatirkan? Atau mungkin kenangan yang baik seperti memberikan waktu lebih untuk melakukan hobi yang selalu saja terlewatkan? Menghabiskan waktu bersama keluarga? Fokus dengan diri sendiri?

Mengurung diri dan mengkarantina memang terlihat sangat membatasi ruang gerak, namun juga menjadi suatu kesempatan untuk mencoba hal yang baru (yang positif, tentunya) yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Hei, saya juga sedang menulis naskah film yang kini mencapai 50 halaman, meski tidak mengetahui bagaimana kelanjutannya. Tidak hanya saya, namun juga pembuat film dari berbagai negara juga tidak membiarkan keterbatasan ruang gerak untuk membatasi imajinasi mereka dalam membuat film pendek yang dijadikan sebagai sebuah seri antologi Homemade, yang kini tayang di Netflix.

Dalam Homemade, ada 17 episode dengan 17 sutradara yang berbeda. Ceritanya mungkin beberapa ada yang sama, dan beberapa ada yang sangat unik dan sangat menarik. Tidak ada episode yang di bawah 4 menit dan melebihi 11 menit sehingga setiap episode terasa cepat berlalu dan ini adalah tontonan yang sangat cocok untuk orang yang benar-benar tidak mengetahui apa yang ingin dilakukan di waktu senggang saat sedang tiduran. Serial ini cocok ditonton sebelum tidur, sesudah bangun, saat menunggu teman atau guru memasuki meeting online di Zoom, ini adalah serial yang sangat menarik, pokoknya.

Dalam 17 cerita itu, ada yang menjadikan karantina sebagai tema utama ceritanya, seperti bagaimana sang sutradara menghabiskan waktu bersama keluarga. Ada yang komedi juga, yang memanfaatkan benda sekitar atau cerita yang sederhana menjadi sesuatu yang kocak. Ada yang horror, sesuatu yang sangat saya kagumi karena bagaimana mereka bisa membuat itu. Ada juga yang menjelma menjadi semacam film surrealist, dengan kejadian dan tingkah laku yang tidak lazim yang kembali membuat saya berpikir bagaimana mereka bisa membuat ini hanya di bawah 11 menit.

robinekariski-tv-amalia-kassai-di-homemade

Episode pertamanya, yang disutradarai oleh Ladj Ly, menceritakan mengenai anak remaja (Al Hassan Ly) yang memainkan drone miliknya untuk melihat suasana di luar, di Montfermeil, Prancis. Drone ini kemudian mengitari kemudian dan memperlihatkan sebuah apartemen dan setiap penghuninya lewat jendela, dan kita juga berkesempatan melihat bagaimana orang-orang menghabiskan waktunya. Apa yang membuat episode ini sungguh menarik adalah karakter anak remaja serta apartemennya tersebut sama dengan film tahun lalunya Ladj Ly, Les Misérables, menjadikan film seperti “kelanjutan” dari film tersebut.

Episode keduanya, yang disutradarai oleh Paolo Sorrentino, menjadi salah satu favorit saya. Dengan boneka porselen, kita diceritakan bagaimana Ratu Elizabeth dan Paus Fransiskus saling menghabiskan waktunya bersama. Bersama humor yang cepat, dialog yang pintar dan momen yang sungguh lucu sekaligus manis, episode kedua ini berhasil mengantarkan sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu yang sangat menghibur. Bahkan porselen The Dude dari The Big Lebowski juga muncul dan membawa alkohol untuk Ratu dan Paus, jadi ini adalah episode yang juara.

Sementara itu, episode kelima yang disutaradarai oleh Rungano Nyoni dan kocaknya memiliki judul “Couple Splits Up While In Lockdown LOL”, menunjukkan kalau meski seluruh episode berada di layar pesan smartphone masih dapat menghibur. Iya, seluruh episode hanya berada di sebuah layar smartphone yang sedang berada di sebuah aplikasi pesan, di mana kedua karakternya yang baru saja putus tapi harus tetap tinggal di satu apartemen chatting dengan temannya. Mungkin terlihat malas, namun dialog yang dimilikinya berhasil menghidupkan suasana karena memang lucu dan juga menghibur.

Ketiga episode itu memang memanfaatkan lingkungan dan barang sekitar menjadi penggerak cerita, namun ada juga beberapa episode yang, dengan produksinya yang rumit, terlihat seperti sebuah film sebuah studio, bukan film buatan rumah. Seperti episode kesepuluh, yang disutradarai oleh Maggie Gyllenhaal, di mana menceritakan seseorang yang tinggal seorang diri di sebuah hutan. Konsepnya sederhana sebetulnya, namun film ini terlihat seperti suatu film kompleks dengan sinematografi yang sungguh indah, bahkan ada satu shot yang sungguh saya sukai, saat dirinya sedang makan malam ikan dan bulan menjadi background.

Kemudian episode dua belas, disutradarai oleh Antonio Campos, menunjukkan kalau untuk membuat film horror tidak perlu latar atau cerita yang kompleks. Ceritanya pintar dan minimalis, dan sisi seramnya datang tidak dengan sang sutradara mencoba untuk menakuti penonton dengan jump scare murahan, tetapi dengan membangun nuansa dan karakter yang misterius. Apa yang saya kagumi adalah bagaimana ia dengan cepat dapat membangun nuansa seram hanya dengan beberapa menit, sesuatu yang masih sering gagal dilakukan oleh film-film besar yang memiliki durasi hingga 90 atau ratusan menit.

robinekariski-tv-kristen-stewart-di-homemade

Meski kebanyakan episode memang sungguh unik, namun ada beberapa yang saya rasa tidak semenarik episode lainnya meski memang tetap menarik untuk dilihat. Seperti episode enam dan kesembilan, yang disutradarai oleh Natalia Beristáin dan David Mackenzie, yang menceritakan anaknya yang menghabiskan waktu saat karantina. Mungkin pesannya dari setiap episode itu adalah untuk memberitahu kalau karantina dapat menimbulkan imajinasi dan memberikan anak waktu untuk melakukan hal yang baru, tetapi dibandingkan dengan episode lainnya yang lebih pintar dan menarik, episode ini tidak terlalu berhasil.

Begitu juga dengan episode empat belas yang disutradarai oleh Kristen Stewart, yang menceritakan seseroang yang menderita insomnia dan dihantui oleh bunyi jangkrik dari pagi hingga malam. Dia memang memberikan akting yang baik, di mana kamera selama 8-9 menit berada di depan mukanya serta konsepnya juga menarik, namun rasanya episode berjalan terlalu lama dan berakhir dengan akhir cerita yang tumpul dan membosankan. Sungguh disayangkan.

Ada juga episode ketiga, yang disutradarai oleh Rachel Morrison, yang meski memiliki tema yang mirip dengan episode lainnya, yakni menceritakan mengenai anaknya yang menghabiskan waktu saat pandemi berlangsung dan akhirnya episode terasa lambat, namun memiliki sebuah kutipan yang sangat saya senangi. Kepada anaknya (dan mungkin juga penonton), ia mengatakan “Semoga kau mengingat karantina sebagai tetangga yang menyamar jadi ninja, karaoke pahlawan super, perjalanan ke Berry Bowl, dan pakai piama sepanjang hari.”

Dengan beragam episode yang sangat menarik dan bahkan ada yang sangat mengejutkan, Homemade menunjukkan kalau siapa saja dan di mana saja bisa berkreasi hanya dengan menggunakan barang di rumah. Entah membuat sebuah komedi, horror, atau hanya slice of life yang ringan, seri ini membuktikan kalau selama ada ide yang menarik pasti bisa dijelajahi lebih dalam. Dan tentu saja, serial ini ditutup dengan Ana Lily Amirpour menjelajahi Los Angeles dan Hollywood Boulevard, dengan Chinese Theatre serta jalanan yang kosong melompong dan Cate Blanchett menarasi bagaimana pandemi ini berefek dengan kota serta warganya dalam episode terakhir yang sederhana tetapi sangat indah.

Homemade sudah bisa ditonton di layanan streaming Netflix.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s