Dibutuhkan sesuatu yang spesial untuk membuat film yang menceritakan mengenai time loop atau perulangan waktu dan menggabungkannya dengan romansa-komedi untuk sebuah film yang baru, segar dan berbeda karena sudah sangat banyaknya film dengan tema serupa. Film time loop? Lihat saja Edge of Tomorrow atau serial Netflix Russian Doll. Film time loop dengan romansa-komedi? Sudah ada About Time. Maka dari itu, saya sangat mengagumi bagaimana Palm Springs mampu mengolah sebuah konsep yang sudah sering digunakan untuk membuat sesuatu yang tetap menghibur dan tetap tidak mudah untuk diprediksi.

Apa yang membuat film sangat baik dan pintar adalah naskahnya, yang ditulis oleh Andy Siara. Ia mampu membuat sebuah cerita yang menjadikan time loop dan romansa-komedi sebagai hidangan utamanya, tetapi ia juga menyisipi beberapa tema yang tidak terlalu menonjol namun tetap terasa sepanjang film seperti: kesendirian, masa lalu, pernikahan dan untuk tetap menikmati hidup meski tidak ada tujuan karena terperangkap di hari yang sama berulang-ulang kali.

Pada 9 November, terdapat sebuah pernikahan di sebuah hotel yang berada di gurun Palm Springs, California. Nyles (Andy Samberg) adalah salah satu tamu undangannya, yang juga adalah pacarnya Misty (Meredith Hagner), pengiring pengantin untuk sang pengantin. Dari awal bangun pada pagi hari, ia terlihat bosan, ada sesuatu yang janggal. Ia kemudian mengajukan seks singkat kepada Misty, tetapi tidak ada gairah dari Nyles. Ia pun harus menyelesaikannya sendiri sembari melihat Misty mencari cincin neneknya dan mengatakan “Oh my God, shit, shit” berulang-ulang kali. Nyles akhirnya menyerah dan tidak bisa menyelesaikannya.

Sarah (Cristin Milioti) adalah saudari untuk sang pengantin yang terlihat sama bosannya dengan Nyles. Saat resepsi, ia diundang untuk menyampaikan sebuah pidato, sesuatu yang tidak ia inginkan. Saat sedang mengumpulkan niat untuk maju, datanglah Nyles yang hanya berpakaian kemeja merah dan celana pendek kuning untuk mengambil mikropon dan memberikan sebuah pidato mengenai kalau kita tidak sendiri di dunia. Nyles memang terlihat seperti orang yang tidak peduli dengan keadaan sekitar dan seperti orang mabuk, tidak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya.

robinekariski-film-andy-samberg-di-palm-springs

Setelah menyelamatkan Sarah, Nyles pun mendekatinya dan mereka akhirnya mencari tempat yang sepi untuk berhubungan seks. Tunggu, bukankah Nyles berpacaran dengan Misty? Rupanya Misty selingkuh dengan pembawa acara pernikahan, dan Nyles tidak sedikitpun terlihat terganggu dengan itu. Saat sedang bersiap melepas celana, ada panah menancap Nyles. Ada yang mengejar Nyles, ternyata. Satu kejadian berlanjut dengan kejadian selanjutnya, dan berakhir di sebuah gua misterius dengan cahaya terang bersinar dari dalam.

Barulah diketahui kalau Nyles rupanya sudah terlibat dalam sebuah time loop jauh sebelum film dimulai. Setiap ia tidur atau mati, ia selalu terbangun pada pagi hari 9 November. Ternyata barulah saya paham mengapa ia begitu bosan dengan hidupnya, atau bahkan tidak kaget melihat Misty selingkuh dengan pembawa acara bertopi koboi. Begitu juga dengan Roy, orang yang mengejar Nyles dengan panah dan diperankan dengan sangat menghibur dan juga menyentuh oleh J. K. Simmons. Ia terperangkap karena Nyles, makanya ia selalu dendam dan selalu mengejar Nyles beberapa hari sekali, atau beberapa minggu sekali. Dan semua itu berhubungan dengan gua misterius tersebut.

Dan tentu saja Sarah menjadi orang ketiga yang merasakan 9 November berulang-ulang kali. Palm Springs berhasil karena tidak mencoba menyembunyikan kejutannya, tetapi dengan berani memberitahu apa yang sedang terjadi dan apa penyebabnya cukup awal dengan caranya yang pintar dan tetap tidak membunuh antisipasi menonton. Kita tidak lagi mencoba memikirkan apa yang sedang terjadi karena sudah diberitahu secara langsung. Sekarang film hanya fokus dengan bagaimana Nyles dan Sarah menghabiskan waktu bersama pada hari yang sama berturut-turut, dan juga bertahan hidup dari kejaran Roy.

Palm Springs juga sangatlah menyenangkan karena film ini tidak pernah sekalipun mencoba terlalu serius dengan temanya yang sebetulnya cukup rumit dan dapat dengan mudah menjadi film yang membingungkan di tangan yang salah. Tidak dengan sutradara Max Barbakow yang hebatnya adalah ini film pertamanya sebagai sutradara, di mana ia mampu membuat film yang terlihat klise tetapi sesungguhnya sungguh baru dan memiliki banyak momen yang cemerlang.

robinekariski-film-cristin-milioti-di-palm-springs

Saat saya mengatakan film ini tidak pernah terlalu serius dengan temanya, lihat saja percakapan antar keduanya. “Bagaimana jika kehidupan tetap berjalan untuk semuanya di sini tetapi tidak untuk kamu dan aku sampai kita mencari jalan keluarnya? Kamu tidak pernah memikirkan ini sebelumnya?” tanya Sarah yang terlihat panik. “Yah, tidak. Aku tidak pernah memikirkan mengenai adanya multiverse,” jawab Nyles dengan mudah. Palm Springs mampu menutup segala jenis plot hole — sesuatu yang sangat mudah muncul di film seperti ini — dengan setiap dialog yang membuat seakan-akan itu tidak berarti. Sama seperti Nyles, saya juga menjadi tidak tertarik dengan multiverse dan lebih tertarik dengan bagaimana keduanya akan menghabiskan waktunya di hari yang sama terus-menerus.

Selain naskahnya yang memang sangat kreatif, film ini juga sangat bertumpu dengan kedua aktor utamanya, Andy Samberg dan Cristin Milioti, dan mereka memang sangatlah mudah untuk didukung. Sifatnya yang terbuka, leluconnya yang cukup pintar dan bagaimana keduanya bisa saling mendukung humor maupun keseriusan satu dengan lainnya adalah mengapa karisma dari Andy dan Cristin selalu bekerja, dan dengan keduanya film Palm Springs tidak pernah sekalipun tidak menghibur.

Banyak yang menyamakan film ini dengan Groundhog Day (dibintangi oleh Bill Murray dan disutradarai oleh Harold Ramis) karena film itu yang mempopulerkan tema time loop di mana karakternya mengulang hari yang sama secara terus-menerus, tetapi Palm Springs adalah sebuah film yang berbeda. Temanya mungkin tua, tetapi tidak dengan cerita dan karakternya, yang bisa kita habiskan hanya menonton kekonyolan Andy Samberg dan Cristin Milioti menghabiskan waktu bersama di hari yang sama, 9 November: berdansa di bar, menerbangkan pesawat dan latihan tembak di tengah gurun pasir terdengar menyenangkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s